Sudan Undang Pertamina Bangun Kilang Minyak

Selasa, 26/02/2013

NERACA

Jakarta – Lantaran belum memiliki kilang minyak pengolahan, Pemerintah Sudan mengajak PT Pertamina (Persero) untuk berinvestasi di negara dengan membangun kilang minyak mentah. “Beberapa kepala pemerintahan dan parlemen Sudan ke kami dan mengajak Indonesia dan Pertamina untuk berinvestasi di negaranya,” ungkap Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo di kantornya, Senin (25/2).

Susilo yang menjabat Wakil Menteri ESDM menggantikan Rudi Rubiandini menjelaskan bahwa saat ini Sudan telah memproduksi minyak sebesar 500.000 barel per hari sedangkan Indonesia bisa melebih dari produksi Sudan yaitu rata-rata mencapai 900.000 barel per hari. Namun demikian, menurut Susilo, dengan memproduksi sebanyak 500.000 barel per hari bisa dikatakan cukup besar lantaran Sudan negaranya tidak terlalu besar.

Dari ketidakpunyaan Sudan atas kilang agar bisa mengelola minyak mentah, lanjut dia, maka negara tersebut mengekspor hampir sebagian minyaknya ke luar negeri. Sementara itu, Indonesia masih membutuhkan sekitar 2 kilang pengolahan minyak baru untuk menutupi kekurangan minyak sebesar 537 ribu barel per hari atau 43% daritotal kebutuhan bahan bakar minyak nasional tahun depan yang diproyeksikan mencapai 1,242 juta barel per hari. Kilang yang akan dibangun masing-masing memiliki kapasitas produksi 300 ribu barel per hari.

Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Heri Poernomo, menyatakan konsumsi bahan bakar minyak diproyeksikan tumbuh 4% per tahun. Sementara produksi bahan bakar minyak di dalam negeri hanya 705 ribu barel per hari sehingga minimal harus dibangun dua kilang baru untuk menutup defisit tersebut.

Untuk itu, Pertamina berencana membangun kilang minyak baru dalam rangka mewujudkan ketahanan energi, kilang pertama (Balongan II Refinery) berkapasitas produksi 300.000 barel per hari dengan mengadeng parter Kuwait Petroleum Corporation yang ditargetkan beroperasi pada 2018. Sedangkan kilang kedua (Tuban Refinery) berkapasitas produksi 300.000 barel per hari dengan mengandeng mitra Saudi Aramco Asia Company, Ltd yang ditargetkan beroperasi pada 2018.

Enam Kilang

Sekedar informasi, Indonesia saat ini memiliki enam kilang pengolahan minyak mentah yang dikelola Pertamina dengan kapasitas produksi bahan bakar minyak 40,6 juta kiloliter per tahun. Produksi bahan bakar itu terdiri atas solar 18,3 juta kiloliter atau 45% dari total kapasitas. Selanjutnya, kapasitas produksi premium 12 juta kiloliter atau 29%, minyak tanah tujuh juta kiloliter atau17%, dan avtur 3,3 juta kiloliter atau 8%.

Kapasitas produksi premium dari kilang Pertamina hanya memenuhi kebutuhan premium 54%,solar 86%, minyak tanah berlebih hingga 186%, dan avtur berlebih 109%. Kilang minyak Pertamina memproduksi 73-74% bahan bakar minyak. Sisanya adalah minyak bakar, bahan bakar khusus seperti pertamax, pertamax plus, pertadex, avtur, serta avgas danproduk non-bahan bakar minyak. Kilang Pertamina juga memproduksi petrokimia yang terdiri atas elpiji, pelumas, aspal, propilen, dan polipropilen, dan produk lain seperti naphta.

Namun begitu, Vice President Corporate Communications Pertamina, Ali Mundakir menilai banyak pihak yang tidak suka dengan rencana perusahaan untuk membangun kilang minyak baru di Indonesia sebagai antisipasi program ketahanan energi. “Tidak semua pihak `happy` dengan pembangunan proyek kilang baru di Indonesia," kata Vice President Corporate Communications PT Pertamina (Persero), Ali Mundakir.

Padahal, menurut Ali, pembangunan kilang baru sangat penting untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri yang selama ini kekurangan masih dipenuhi oleh impor. Selain itu, kilang juga memenuhi kebutuhan bahan baku industri petrokimia. “Kilang yang ada saat ini sudah tua dan desainnya untuk minyak campur alias gado-gado sehingga hasilnya tidak maksimal. Padahal, harusnya kilang harus fokus pada bahan jenis tertentu agar hasilnya bisa maksimal,” paparnya.

Yang perlu diperhatikan dalam pembangunan kilang, lanjut Ali, adalah jaminan pasokan minyaknya. “Pasokannya harus konsisten dan membangun kilang tidak seperti membangun industri baju, yang bisa mengambil bahan bakunya dari mana saja. Kalau kilang, minyaknya gado-gado hasilnya tidak akan maksimal,” ujarnya.

Ali menilai indeks kompleksitas kilang Indonesia rata-rata masih di bawah 5. “Kilang di Singapura indeks kompleksitasnya 7, tetapi untuk Kilang Balongan sudah 11. Kendala lain dalam pembangunan kilang adalah marginnya yang sangat kecil dan tujuan utama Pertamina untuk membangun kilang adalah untuk menjamin ketahanan energi,” tandasnya.