Program Mobil Murah Bisa Ancam Pasar Sepeda Motor

NERACA

Jakarta – Aturan Low Cost and Green Car (LCGC) alias mobil murah ramah lingkungan dinilai bisa mengancam pasar sepeda motor. Pasalnya harga mobil LCGC tidak jauh berbeda dengan harga motor. “Jika pemerintah menerbitkan aturan LCGC maka mobil dengan tipe ini akan menjaring pasar sepeda motor,” ungkap Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) di Jakarta, Senin (25/2).

Dia menjelaskan bahwa ada beberpa Agen Pemegang Merek (APM) telah bersiap untuk memproduksi besar-besaran mobil LCGC. Lantaran harganya yang cenderung lebih murah, ramah lingkungan dan desain mobil yang terlihat lebih mewah, lanjut dia, maka kelas menengah di Indonesia akan banyak yang tertarik untuk memiliki mobil LCGC.

Namun demikian, aturan LCGC yang banyak diharapkan para produsen kendaraan roda empat, tak kunjung diterbitkan. Hingga kini, aturan tersebut masih dalam proses di Kementerian Keuangan. Padahal beberapa produsen telah merilis sejumlah model yang mengikuti aturan LCGC, diantaranya Daihatsu dan Toyota yang telah mengeluarkan Daihatsu Ayla dan Toyota Agya.

Pengaruhi Mobil Bekas

Tak hanya mempengaruhi pasar sepeda motor, dengan keluarnya mobil LCGC ini juga akan menurunkan minat konsumen untuk membeli mobil bekas jenis Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. “Dengan harga Rp75 juta sampai dengan Rp100 juta, maka konsumen mobil bekas Avanza dan Xenia akan beralih ke produk LCGC. Hal ini akan berpengaruh terhadap pasar mobil bekas di dalam negeri,” kata Senior Manager Marketing WTC Mangga Dua, Herjanto Kosasih.

Namun untuk harga jual kembali mobil LCGC, menurut Herjanto, akan mengalami penurunan yang cukup besar. “Harga jual produk LCGC bekas akan anjlok karena harga barunya di bawah Rp100 jutaan. Hal ini sudah terlihat dengan produk mobil murah Daihatsu Ceria yang memiliki kapasitas mesin 600 cc dan harga bekasnya hanya Rp30 jutaan,” paparnya.

Sedangkan Deputy Director BCA Finance, K.A. Wibowo, mengatakan penjualan mobil bekas akan tergerus dengan munculnya mobil LCGC. “Rencana mobil LCGC sangat berpengaruh terhadap pasar mobil bekas, namun konsumen yang sudah inden produk Toyota Agya maupun Daihatsu Ayla seperti membeli harapan. Pasalnya, pemerintah belum memberikan kepastian mengenai regulasi yang akan dikeluarkan,” ujarnya.

Wibowo menambahkan, pihaknya yakin penjualan produk LCGC tidak akan mempengaruhi penjualan mobil bekas. “Konsumen tentunya memiliki pandangan dalam membeli mobil, banyak konsumen yang membeli mobil bekas dengan kualitas yang masih bagus dibandingkan mobil baru dengan kualitas yang belum teruji,” tandasnya.

Pendorong Pertumbuhan

Sementara itu, Vice President, Automotive & Transportation Practice - Asia Pacific, Frost & Sullivan, Vivek Vaidya memprediksi industri otomotif Indonesia di tahun 2013 tumbuh 7,5% atau mencapai 1,2 juta unit. Menurut Vaidya, pertumbuhan juga akan didorong oleh penjualan dari segmen-segmen seperti MPV, dan SUV. Disamping itu, akan semakin banyak model mobil yang mengadopsi konsep terjangkau dan ramah lingkungan yang diperkenalkan ke pasar nasional setelah adanya pengumuman resmi mengenai regulasi LCGC. Model-model tersebut tidak hanya terbatas pada mobil kecil, tetapi juga hybrid serta mobil-mobil yang berbahan bakar gas (CNG).

“Proyeksi pertumbuhan ini juga sangat bergantung pada penerapan Program Low Emission Carbon (LEC) – LCGC. Program ini akan menjadi game changer industri otomotif Indonesia dan mendorong penjualan mobil serta tingkat ekspor Indonesia karena segmen mobil LCGC akan menjembatani pasar motor dan mobil berkat kisaran harga yang terjangkau. Program LEC – LCGC akan mengubah posisi Indonesia di peta industri otomotif global,” jelasnya.

Pemberlakuan Program LEC - LCGC akan menciptakan peluang untuk mengejar Thailand seiring dengan terbukanya pasar baru yang memungkinkan Indonesia untuk menjadikan negara-negara berkembang sebagai target untuk mengekspor mobil-mobil LCGC.

Di sisi lain, segmen mobil komersial diprediksi tumbuh 7.3% persen y-o-y mencapai 360,000 unit di tahun 2013 seiring dengan tumbuhnya ekonomi nasional. “Tingginya permintaan dari kegiatan ekonomi domestik seperti sektor retail dan manufaktur akan mendorong pasar truk/pick up, sementara pertumbuhan di sektor konstruksi dan pembangunan infrastruktur akan berdampak pada tingginya penjualan truk berat,” tambah Vaidya.

BERITA TERKAIT

Wuling Sebut Suku Cadangnya Lebih Murah 20% dari Kompetitor

PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) mengklaim harga suku cadang produk mereka lebih murah 20 persen dibandingkan dengan rata-rata harga…

Freeport Tak Perlu Negosiasi - Oleh Edy Mulyadi : Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Gaduh pemberitaan soal divestasi PT Freeport Indonesia (PT FI) publik jadi bingung. Para menteri yang merasa terkait dengan perkara ini…

Honda Kuasai 53 Persen Pasar Hatchback di Indonesia

Honda menguasai pasar hatchback di Indonesia sebesar 53 persen melalui penjualan mobil Honda Jazz dan Honda Civic Hatchback. Honda Jazz…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Pembentukan Holding BUMN Sektoral Bisa Picu Masalah Baru

NERACA Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno telah menetapkan setidaknya enam induk usaha (holding) BUMN akan…

Kerjasama Industri - ASEAN Mengharmonisasi Standar Produk Otomotif

NERACA Jakarta – Sebagai salah satu produsen otomotif terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berupaya untuk meningkatkan kerja sama dengan…

Terkait Kunjungan Kerja ke Tiongkok - Pemerintah Fokus Mengembangkan Industri Hijau

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus untuk mengembangkan program industri hijau, di mana setiap sektor manufaktur nasional perlu menerapkan prinsip…