KKP Tebar Benih Lele di Pinggir BKT

Ingin Cetak Wirausaha Baru

Selasa, 26/02/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penebaran benih ikan lele sebanyak 15.000 di pinggir Banjir Kanal Timur (BKT). Penebaran benih ikan lele ini adalah program pengembangan model usaha berbasis kelompok masyarakat. "Program ini diharapkan bisa mencetak wirausaha-wirausaha baru yang bergerak di bidang budidaya ikan," ungkap Kepala Sub Direktorat Kewirausahaan KKP Abdullah ketika ditemui saat acara penebaran ikan lele di BKT, Jakarta Timur, Senin (25/2).

Acara penebaran benih ikan lele turut dihadiri oleh Istri Menteri KKP Inggrid Mutiara Sutardjo, Istri Wakil Menteri Pertanian dan Istri Direktur Jenderal Budidaya Perikanan KKP. Dalam kesempatan yang sama, Istri Menteri KKP Inggrid Mutiara juga melakukan panen serta memberikan benih sebanyak 7.500 ekor ikan lele kepada kelompok penjaga pintu air BKT.

Abdullah menjelaskan pemberian bantuan kepada kelompok atau masyarakat dipilih secara selektif. Bantuannya berupa sarana produksi seperti wadah, benih, pakan dan peralatan budidaya. "Dengan diberikannya bantuan kepada kelompok atau masyarakat, kami berharap bisa tumbuh jiwa-jiwa wirausaha dan juga bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dibidang perikanan," tuturnya.

Ia mengaku hingga saat ini pihaknya telah membentuk sebanyak 146 kelompok yang tersebar di seluruh Indonesia. "Hingga saat ini, kamu selalu memonitoring usaha-usaha mereka. KKP dan Dinas Pemda setempat juga terus memberikan bimbingan dan pembinaan kepada kelompok-kelopok tersebut. Sehingga diharapkan akan berhasil dan berkembang dengan baik," tambahnya.

Namun demikian, Abdullah mengaku ada beberapa kendala yang dialami oleh kelompok-kelompok tersebut seperti kendala banjir dan penguasaan teknologi sederhana. "Seperti kelompok di Jakarta Utara yang terkena banjir. Padahal sebentar lagi akan panen besar karena jumlahnya mencapai beberapa ton. Makanya nanti akan diberikan bimbingan juga terkait masalah-masalah force major seperti banjir," katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Penjaga Pintu Air BKT Pandi mengaku terbantu dengan program tersebut. Disamping tugasnya hanya menjaga pintu air, maka dengan adanya budidaya ikan lele di dekat pintu air bisa membuat penghasilannya bertambah. Untuk itu, dari hasil panen dalam membudidayakan ikan lela akan ditabung. "Kami akan tabung dan masukkan di kas kelompok. Jika nanti suatu saat bantuannya berhenti, maka akan kami gunakan uang kas tersebut," imbuhnya.

Pandi menuturkan telah mendapatkan benih ikan lele secara bertahap. Pada akhir November mendapatkan 7.500 ekor dan saat ini mendapatkan 7.500 ekor. Tak hanya itu, kelompok penjaga pintu air atau yang dikenal dengan Jawir juga mendapatkan 3 kolam fiber dengan ukuran 3x2. "Biasanya sekali panen mendapatkan 240 kg untuk 3 kolam. Kami juga tidak perlu repot-repot menjual ke konsumen karena sudah ada penadah yang siap membeli dengan harga Rp11.500," ungkapnya.

Sebelumnya, Menteri KKP Sharif Cicip Sutarjo mengatakan komoditas lele semakin menjadi andalan di sektor perikanan budidaya air tawar. Selain memiliki nilai ekonomis tinggi, ikan lele tak terlalu sulit untuk dikembangkan di tengah lahan perikanan air tawar yang terbatas. "Ikan lele ini dapat dipelihara secara intensif dengan lahan dan air yang terbatas, sehingga dapat dikembangkan di berbagai daerah untuk penyediaan protein hewani dan peningkatan pendapatan masyarakat," jelas Sharif.

Sementara itu, selain lele, lanjutnya, udang galah sejauh ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Tercatat, harga udang berkisar antara Rp 50.000 – Rp 70.000 per kilogram. Dengan demikian Sharif mengungkapkan, budidaya udang galah memiliki keunggulan tersendiri. Adapun keunggulan tersebut yakni, selain dapat dipelihara di kolam, udang galah juga dapat dipelihara di sawah bersama padi. "Sehingga secara signifikan dapat meningkatkan pendapatan petani dan pembudidaya ikan," sambungnya.

10 Ribu Penyuluh

Bertekad untuk terus menumbuhkembangkan kemampuan dan kemandirian pelaku utama kelautan dan perikanan yaitu dengan meningkatkan aksesibilitas informasi dari strategi industrialisasi kelautan dan perikanan kepada masyarakat perikanan lewat penyuluh perikanan. "Kita siagakan sebanyak 8 ribu tenaga penyuluh yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada 2013, kuantitas tenaga penyuluh akan ditingkatkan menjadi 10 ribu orang," ujar Sharif.

Dia menjelaskan para penyuluh tersebut terdiri dari penyuluh perikanan PNS, Penyuluh Perikanan Tenaga Kontrak (PPTK), dan penyuluh perikanan swadaya. "Penyuluh perikanan merupakan salah satu pilar pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) kelautan dan perikanan sebagai langkah percepatan pembangunan industrialisasi kelautan dan perikanan," jelasnya.

Lanjutnya pula, langkah tersebut ditempuh KKP untuk mendistribusikan teknologi anjuran kelautan dan perikanan yang berujung pada meningkatkan daya saing tinggidengan bercirikan tingginya produktivitas, mutu, dan efisiensi usaha.

Sharif menuturkan langkah ini diambil KKP untuk terus berupaya membangun suatu strategi komunikasi informasi penyuluhan perikanan yang efektif dan efisien. Pasalnya, sebagian besar jumlah sasaran pengguna dan pemanfaat informasi penyuluhan kelautan dan perikanan tersebar di seluruh provinsi industrialisasi, termasuk di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sebanyak 17 ribu pulau.

Beranjak dari hal tersebut, KKP juga bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika akan menyiagakan Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (M-PLIK) dan Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) termasuk penyuluh perikanan untuk mencerdaskan masyarakat perikanan yang haus akan informasi. Pendistribusian informasi sektor kelautan dan perikanan diharapkan sampai kepada pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan yang meliputi masyarakat nelayan yang berjumlah 2.620.277 orang dan pembudidaya ikan yang berjumlah 3.351.448 orang.

Pada saat ini, pelaku utama perikanan tersebut yang bergabung dalam kelompok perikanan sejumlah 23.071 kelompok yang tersebar di 384 kabupaten/kota.