Lindungi Anak dari Jajanan di Sekolah

Jajanan yang beredar di pasaran terutama jajanan di sekolah seharusnya sehat bagi anak-anak. Namun berdasarkan data yang didapat dari BPOM, pada tahun 2008 – 2010 keamanan pangan yang memenuhi syarat (MS) adalah 56 – 60%. Kemudian terjadi peningkatan sebesar 65% yang memenuhi syarat (MS) pada tahun 2011 dan 76% pada tahun 2012.

Berlatarbelakang dari data tersebut, PT. Tupperware Indonesia secara konsisten selama 7 tahun (sejak tahun 2007) terus menggalakkan program Aku Anak Sehat (AAS) yang bertujuan tidak saja mengedukasi betapa pentingnya membawa bekal yang bersih, sehat, dan bergizi melalui siswa, guru, kepala sekolah, dan komite sekolah tetapi juga ingin menerapkan semangat siswa menjadi ‘Anak Jempolan’ dengan menyebarkannya diantara teman sekelasnya di lingkungan sekolah.

Sebagai bentuk nyata kepedulian PT. Tupperware Indonesia terhadap kebersihan dan kesehatan anak-anak di lingkungan sekolah, dalam rangka program AAS ini PT. Tupperware Indonesia memberikan 1 wastafel, 3 set tempat sampah basah dan kering, serta 2 poster pendidikan kepada SD yang mendapatkan kunjungan program AAS.

Sementara itu, dirinya menambahkan, tujuan PT. Tupperware Indonesia menggalakkan program ini dari tahun ke tahun adalah demi mendukung bekal masa depan yang gemilang bagi si anak dengan asupan yang bersih, sehat dan bergizi, sehingga anak tersebut menjadi ‘Anak Jempolan.’

Dokter Spesialis Anak IDAI, yang juga Staf Ahli Menkokesra Bidang Pencapaian Pembangunan Milenium (MDGs), dr. H. Tb. Rachmat Sentika, SpA, MARS mengatakan, saya pun mengamini hal ini, menjaga pola makanan pada anak dapat dimulai dengan memberikannya bekal ke sekolah.

“Paling tidak menunya harus bersih, sehat, dan bergizi dengan unsur yang terkandung yakni menu makanan sehat dan berimbang, sehingga dengan gizi yang cukup dapat memacu konsentrasi anak ketika mereka sedang dalam proses belajar mengajar di sekolah,” tuturnya.

Dia menambahkan bekal yang baik wajib kaya dengan unsur karbohidrat, protein, serat, vitamin, mineral, dan kalsium sebagai modal utama mendukung seorang anak untuk menjadi Anak Jempolan.

Sementara itu, Psikolog anak, Dr.Rose Mini, M.Psi juga menambahkan kiat dan strategi untuk para orang tua dan guru dalam memberikan kesadaran serta edukasi mengenai kandungan gizi yang baik untuk pangan bekal dan kandungan zat-zat berbahaya yang ada pada jajanan di sekolah. Strategi tersebut diperlukan dalam menghadapi sifat anak-anak yang cenderung tidak menghiraukan pola makan sehat.

“Para pendidik dan orang tua harus menguasai wawasan mengenai pola makan yang sehat serta harus cermat dan taktis dalam menularkan wawasan ini. Ketika menghimbau anak, sertakan pula dengan teknis dan bahasa anak yang logis dan konkret sesuai dengan kemampuan anak, sehingga anak dapat mencerna dengan mudah dan akan bertindak sesuai dengan arahan yang dimaksud,” jelasnya lugas.

Untuk itulah menurut Tim Surveilan BPOM, bahwa dalam kita memberikan bekal makanan kepada anak haruslah mengenali 5 kunci keamanan pangan. Pertama adalah kenali pangan yang aman, beli pangan yang aman, baca label dengan seksama, jaga kebersihan, dan yang terakhir adalah catat apa yang ditemukan.

Related posts