Valbury Asia Securities Targetkan 18 Ribu Nasabah

Tingkatkan Investor Ritel

Senin, 25/02/2013

NERACA

Jakarta– Persaingan bisnis perusahaan sekuritas semakin ketat ditengah pesatnya pertumbuhan kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Karena itu, dengan momentum yang tepat ini, PT Valbury Asia Securitiesincar pertumbuhan nasabah hingga 16% atau mencapai 18 ribu nasabah pada 2013.

Kata Presiden Direktur PT Valbury Asia Securitie, Johanes Soetikno, target 18 ribu nasabah diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan nilai transaksi tahun ini hinga 30%-40%, “Kita targetkan nasabah tahun ini bisa mencapai 18 ribu, dimana ritelnya 17.500 nasabah sisanya institusi,” katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Sementara untuk penjaminan emisi, lanjutnya, hingga semester pertama tahun ini perseroan mengharapkan akan melistingkan tiga emiten baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sehingga optimis investasi akan tumbuh pada kisaran 25% – 30%.“Ada 6 perusahaan di pipeline kami , dan saat ini kami juga merupakan salah satu agen penjual yang memasarkan SUKUK Retail Seri SR -005 , yang peminat atau investornya sendiri selalu meningkat ” ujarnya.

Sebelumnya, Mandiri Sekuritas menargetkan jumlah nasabah ritel menjadi 50 ribu pada akhir 2013 dari jumlah nasabah sekarang sekitar 14 ribu. Kata Dirut Mandiri Sekuritas, Abiprayadi Riyanto, salah satu hal yang menjadi perhatiannya untuk meningkatkan jumlah investor ritel di pasar modal karena keberadaan investor ritel memiliki peran besar.

Di tahun 2013, PT Mandiri Sekuritas menargetkan proses 10 penawaran perdana saham dan 20 penawaran obligasi pada 2013. Pihaknya akan menangani 10 penawaran obligasi pada semester pertama 2013.

Adapun perolehan dana dari penawaran obligasi diperkirakan Rp71,4 triliun dan penawaran perdana saham sebesar Rp16,9 triliun pada 2013. Sebelumnya perolehan dana dari penawaran obligasi mencapai Rp67,8 triliun dan penawaran perdana saham sebesar Rp9,9 triliun pada 2012.

Asal tahu saja, investor ritel dinilai mempunyai potensi dalam mendukung pasar modal lebih baik sehingga perlu diberikan keleluasaan dalam memiliki saham. Oleh karena itu, pihak BEI pernah mewacanakan mengatur porsi penjatahan dalam pembelian penawaran umum perdana saham (IPO) untuk investor ritel.

Sementara Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) mengaku, emiten-emiten berkapitalisasi menengah saat ini sudah berupaya meningkatkan likuiditas perdagangan sahamnya dengan cara menambah jumlah saham beredar di publik (float share).

Namun, kecilnya penawaran dari publik membuat sebagian emiten mengurungkan niatnya tersebut.“Sayangnya ketika akan dilaksanakan aksi korporasi seperti penambahan saham baru (rigths issue), permintaan dari publik akan saham itu minim. Alhasil, sulit untuk menambah jumlah saham beredar di publik,” kata Direktur Eksekutif AEI Isakayoga. (bani)