BI: 5 Langkah Kembangkan e-Money

NERACA

Bandung - Bank Indonesia (BI) akan melakukan lima langkah pengembangan uang elektronik (e-money) dalam jangka tiga tahun ke depan. "Ada lima upaya pengembangan e-money untuk tahun 2013 hingga 2015 mendatang," kata Kepala Divisi Pengembangan dan Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Ida Nuryanti saat acara pelatihan bertemakan "Ketentuan Sistem Pembayaran dan Kesiapan Perbankan" di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/2), pekan lalu.

Langkah pertama yakni interoperabilitas (integrasi aplikasi) di sektor transportasi. Pelaksanaannya akan melibatkan bank penerbit dan instansi terkait seperti PT Jasa Marga Tbk, PT Kereta Api Indonesia (KAI), Perum Damri, serta TransJakarta Busway. "Ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu walaupun belum bisa terkoneksi 100%," ujar Ida.

Dia pun melanjutkan, langkah kedua yakni dengan mendorong standarisasi teknis dan bisnis. "Standardisasi ini untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan industri," tambahnya. Kemudian langkah ketiga adalah mendorong penetrasi server based.

"Kepemilikan mobile devices saat ini sangat tinggi dan sudah menembus seluruh lapisan masyarakat," ujar Ida. Langkah keempat yakni meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi kepada akademisi dan masyarakat umum baik secara langsung maupun media elektronik dan cetak. Dan langkah yang terakhir yakni dengan membuat kebijakan dan ketentuan yang mendukung pengembangan e-money ke depan.

Sebelumnya, Direktur Sistem Pembayaran dan Akuntansi BI, Boedi Armanto, mengatakan jumlah pemilik rekening bank di Indonesia sepanjang 2012 bertambah 30% dari tahun sebelumnya. "Akses masyarakat Indonesia terhadap layanan perbankan terus meningkat sehingga mendorong penggunaan uang elektronik (e-money) dalam transaksi ritel," kata dia, beberapa waktu lalu.

Menurut Boedi, hingga kini transaksi e-money mencapai Rp24 triliun per tahun. Kebiasaan penggunaan e-money harus terus ditanamkan ke masyarakat untuk membantu BI. "Apabila pembayaran ritel tidak tunai maka akan sangat membantu BI," ungkapnya.

Bank Indonesia, lanjutnya, menargetkan jumlah pemilik kartu akan meningkat dari 30% menjadi 60% pada 2013. "Tahun lalu jumlah uang elektronik yang beredar di masyarakat mencapai 21 juta kartu," terang Boedi. Bank sentral memang tengah getol melakukan standardisasi e-money atau uang elektronik. Hal ini bertujuan untuk mendorong layanan dan transaksi uang elektronik itu agar semakin efisien dan efektif. [rin]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Laba OCBC NISP Tumbuh 11%

  NERACA Jakarta - Bank OCBC NISP membukukan laba bersih di 2019 sebesar Rp2,9 triliun atau naik 11% bila dibandingkan…

LinkAja Gandeng JNE untuk Permudah Transaksi

  NERACA Jakarta - LinkAja berkolaborasi dengan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) dalam rangka mempermudah pembayaran jasa pengiriman logistik…

Prudential Beri Perlindungan Tambahan Hadapi Virus Corona

  NERACA Jakarta – Perusahaan asuransi PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) memberikan perlindungan tambahan terhadap ancaman virus corona jenis…