Regulator Bangun Model Asuransi Terintegrasi

Gandeng AIMRPK

Senin, 25/02/2013

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan asosiasi profesi bidang Audit Internal Manajemen Risiko dan Pengendalian Kualitas dan Kepatuhan (AIMRPK), sepakat membangun model asuransi terintegrasi. Model ini diharapkan menciptakan industri keuangan yang lebih bersih dan kuat.

Ketua Dewan Audit OJK, Ilya Avianti, mengatakan bahwa model asuransi terintegrasi merupakan kombinasi dari bisnis asuransi yang terdiri dari first, second, dan third line of assurance. Nantinya, akan ada penyesuaian dengan spesifikasi untuk ukuran, karakteristik, kompleksitas, dan juga industri jasa keuangan.

Pengaturan dalam industri asuransi bisa meliputi internal audit, manajemen risiko, kepatuhan, pemerintahan, anti fraud, dan teknologi sistem informasi. "Makanya, hal itu harus disusun dengan kebutuhan industri jasa keuangan. Dan juga bisa mengacu pada standard internasional yang ada," kata Ilya di Jakarta, Jumat (22/2), pekan lalu.

Pada pertemuan kali ini, OJK dan kalangan profesi AIMRPK juga menyepakati sembilan butir kesepakatan yang mengikat kedua pihak. Kesembilan kesepakatan itu adalah mewujudkan industri keuangan yang sehat dan stabil, menyusun standar kompetensi termasuk kode etik, mengharapkan OJK melakukan pengawasan yang lebih terintegrasi melalui standarisasi profil risiko untuk setiap jenis industri dengan kompeksitasnya, serta diperlukan rekam jejak kredibilitas dan integritas perusahaan dan industri jasa pendukung, nasabah, pemilik, dan pengurus untuk mencegah fraud.

"OJK perlu memiliki pusat basis data industri jasa keuangan," tegas Ilya. Butir kesepakatan lain adalah asosiasi akan mempersiapkan standardisasi kualitas sumberdaya manusia (SDM) di industri jasa keuangan, perlunya intergrasi dan optimalisasi penggunaan teknologi sistem informasi dalam implementasi audit internal, manajemen risiko dan quality assurance.

Sedangkan tiga butir kesepakatan lain adalah menyusun arsitektur Governance, Risk, Compliance and Control (GRCC) yang terintegrasi bagi industri jasa keuangan, melakukan komunikasi yang efektif kepada pelaku industri mengenai manfaat dari penerapan GRCC dan standard internasional terkini. Terakhir, kedua pihak sepakat perlunya sinkronisasi antar kebijakan dibidang industri jasa keuangan melalui quality assurance di OJK.

Butuh 100 auditor

Ilya Avianti juga mengatakan, pihaknya akan segera merekrut 70 auditor pada 2013 guna mewujudkan industri jasa keuangan yang sehat dan stabil. "Sekarang masih sekitar 30-an auditor dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Nanti kita akanopen recruitmentsiapa saja yang akan masuk kita rekrut kembali," ungkapnya.

Menurut Ilya, saat ini dibutuhkan sekitar 100 auditor internal untuk membantu tugas OJK mewujudkan industri jasa keuangan yang sehat, stabil dan bisa tumbuh secara berkesinambungan. Dia mengatakan jumlah auditor yang akan direkrut perlahan akan terus bertambah mengingat tugas lembaga pengawas itu akan semakin berat di masa mendatang. Meski tidak menyebutkan detil perekrutan, Ilya mengatakan prosesnya akan dilakukan sesegera mungkin. "Nanti kita akanopen recruitmentsiapa saja yang akan masuk, kapannya, ya, sesegera mungkin," tandasnya.

Sekadar informasi, OJK baru memiliki 130 pegawai selama proses transisi. Namun, bila sudah sepenuhnya berjalan, OJK nantinya akan memiliki 2.000-2.500 pegawai OJK. Dari data yang ada, DK-OJK telah menerima 82 pegawai dari BI, dan 936 pegawai dari Kemenkeu. Dewan Komisioner melakukan seleksi dalam rangka the right person in the right place. [ardi]