Pedagang Pasar Salahkan Kementan

Ironi Impor Bawang Putih

Senin, 25/02/2013

NERACA

Jakarta - Impor, satu kata yang tidak asing lagi terdengar di telingga masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, saat ini mulai dari bumbu masak yang dahulu diekspor oleh Indonesia, sekarang malah kebalikannya. Negeri ini begitu doyan impor produk pertanian, termasuk bawang putih.

Sekertaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia, Ngadiran mengungkapkan kalau ini kesalahan Kementerian Pertanian, karena negara telah memberikan anggaran yang besar untuk mengembangkan pertanian di Indonesia, tetapi sia-sia jika ujung-ujungnya terus melakukan impor.

Lebih jauh lagi Ngadiran mengungkapkan saat ini Indonesia masih rajin impor bawang putih dari China dan Thailand hingga 60% dan terbesar dari China. "Ini sangat ironis karena apabila mengimpor terus petani pasti merugi dan importir yang menikmati," ungkap Ngadiran saat dihubungi Neraca, akhir pekan lalu.

Ngadiran juga mengungkapkan adanya kejanggalan yang menyebabkan harga bawang putih terus meroket naik. Sambung Ngadiran, permainan harga bawang putih wajar terjadi, karena Indonesia masih mengimpor bawang putih dalam jumlah yang besar. Impor bawang putih Indonesia terbesar berasal dari China. "Ini bukan karena faktor cuaca tetapi ada permainan harga yang dilakukan oleh para importir," jelas Ngadiran.

Ia menambahkan seharusnya harga normal bawang putih berkisar antara Rp 12.000-14.000/kg. Tetapi untuk saat ini harga bawang putih sudah di atas harga wajar, bahkan lebih dari Rp 24.000/kg. "Ada yang sampai Rp 30.000/kg ini kan nggak wajar dan ironis. Kalau dihitung rata-rata harga bawang putih saat ini itu harganya Rp 24.000/kg jauh dari harga normal," imbuhnya.

Permainan Kuota

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mensinyalir adanya permainan dalam pembagian alokasi kuota impor bawang putih. Akibat permainan ini, harga bawang putih melonjak hingga Rp30 ribu per kilogram (kg).

"RIPH (Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) yang sudah diterbitkan tahun lalu tidak jatuh pada importir yang seharusnya. Kita mensinyalir ada permainan di sini (impor bawang putih)," kata Ketua Komisi IV DPR Romahurmuzy.

Dugaan ini, lanjut anggota DPR dari Fraksi PPP ini, didasari oleh penunjukan sejumlah perusahaan yang tidak jelas track record-nya untuk mengimpor bawang putih. Sejumlah perusahaan yang telah berpengalaman melakukan impor bawang putih malah mendapatkan kuota lebih sedikit. "Justru pelaku-pelaku usaha yang sesungguhnya tidak mendapat kuota lebih besar daripada (perusahaan-perusahaan) yang baru," ungkap Romahurmuzy.

Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menginstruksikan jajarannya untuk mengawasi harga bawang putih yang mengalami kenaikan kurang wajar. "Saya berharap para Menteri dan Gubernur untuk mewaspadai dan mengendalikan stabilisasi atas sejumlah harga-harga sembako yang mengalami kenaikan kurang wajar," ujar SBY, baru-baru ini.

Berdasarkan catatannya, harga bawang putih dalam dua bulan belakangan ini melonjak cukup tajam dari Rp25 ribu mencapai Rp30 ribu per kg.