Pecahkan Rekor, Indeks Awal Pekan Masih Menguat

Senin, 25/02/2013

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 18,719 poin (0,40%) ke level 4.651,123. Sementara Indeks LQ45 naik 3,581 poin (0,45%) ke level 794,292.

Derasnya aksi beli investor asing mencapai Rp 1 triliun, menjadi pemicu menguatnya indeks BEI Jum’at akhir pekan. Kata analis e-Trading Securities Andrew, transaksi asing mencatatkan beli bersih saham di pasar reguler yang cukup besar, “Kondisi itu menjadi salah satu faktor indeks BEI bergerak menguat," katanya di Jakarta kemarin.

Dia mengemukakan, beberapa saham yang paling banyak dibeli oleh investor asing diantaranya Bank Negara Indonesia (BBNI), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Bank Mandiri (BMRI), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Charoen Pokphand (CPIN).

Menurutnya, secara teknikal kenaikan IHSG BEI akhir pekan merupakan percobaan level batas atas terhadap di 4,656 poin. Berikutnya, indeks BEI awal pekan diproyeksikan akan bergerak berfluktuasi dengan kecenderungan menguat, hal itu terlihat dari salah satu indikator teknikal yang masih menghasilkan sinyal penguatan.

Sementara Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia 2013 yang masih positif salah satu pendorong pelaku pasar asing masih masuk ke pasar saham domestik. "Ekonomi makro yang stabil akan berdampak signifikan terhadap pasar modal,"ujarnya.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, aksi borong saham banyak dilakukan investor asing berbarengan dengan aksi ambil untung investor lokal. Transaksi asing tercatat melakukan pembelian bersih senilai Rp 1,14 triliun di seluruh pasar.

Derasnya dana asing yang masuk lantai bursa kembali mendorong indeks sampai ke posisi tertingginya sepanjang masa. Rekor tertinggi sebelumnya ada di level 4.634,451 setelah bertambah 32,389 poin (0,70%) pada perdagangan Rabu 20 Februari lalu.

Sedangkan rekor intraday tertingginya di level 4.656,128 belum terpecahkan lagi. Rekor intraday tertinggi itu diraih indeks pada perdagangan Kamis 21 Februari kemarin. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 170.152 kali pada volume 8,624 miliar lembar saham senilai Rp 6,864 triliun. Sebanyak 138 saham naik, sisanya 109 saham turun, dan 104 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia mengakhiri perdagangan akhir pekan dengan melemah, kecuali pasar saha Jepang. Situasi ekonomi Eropa yang belum stabil membuat pelaku pasar regional banyak melepas saham.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Lion Metal (LION) naik Rp 400 ke Rp 13.400, Surya Toto (TOTO) naik Rp 250 ke Rp 7.250, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 200 ke Rp 9.550, dan BCA (BBCA) naik Rp 200 ke Rp 10.550.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 750 ke Rp 50.550, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 40.000, Astra Agro (AALI) turun Rp 500 ke Rp 18.350, dan Unilever (UNVR) turun Rp 200 ke Rp 22.950.

Sebaliknya, pada perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah tipis 0,958 poin (0,02%) ke level 4.631,446. Sementara Indeks LQ45 turun tipis 0,752 poin (0,10%) ke level 789,959. Saham-saham unggulan di sektor komoditas dan konsumer menjadi target aksi jual investor. Sedangkan aksi beli terjadi di saham-saham lapis dua seperti di sektor industri dasar dan aneka industri.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 88.743 kali pada volume 4,771 miliar lembar saham senilai Rp 2,849 triliun. Sebanyak 107 saham naik, sisanya 96 saham turun, dan 120 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Lion Metal (LION) naik Rp 400 ke Rp 13.400, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 200 ke Rp 5.350, Mayora (MYOR) naik Rp 150 ke Rp 22.800, dan Nippon Indosari (ROTI) naik Rp 100 ke Rp 6.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 250 ke Rp 22.900, Astra Agro (AALI) turun Rp 250 ke Rp 18.600, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 200 ke Rp 51.100, dan Fast Food (FAST) turun Rp 200 ke Rp 12.500.

Diawal perdagangan, indeks BEI juga dibuka melemah tipis sebesar 2,77 poin atau 0,06 persen ke posisi 4.629,64, “Bursa Asia termasuk indeks BEI dibuka melemah memfaktorkan koreksi yang terjadi di bursa global dan penurunan harga komoditas dunia dalam sepekan terakhir," kata analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro.

Dia menambahkan, meski demikian sepanjang tahun ini IHSG BEI relatif "outperform" dibandingkan bursa Asia lainnya, kinerja indeks BEI yang lebih disebabkan oleh kuatnya arus dana asing yang masuk sebesar Rp13,5 triliun dari awal tahun.

Menurut dia, hal itu juga membuat beberapa saham yang selama ini memiliki posisi "foreign net-buy" terbesar menjadi rawan koreksi jika dana asing kembali keluar seperti sektor perbankan, sektor konsumer serta Telekomunikasi.

Kepala Riset e-Trading Securities Betrand Raynaldi menambahkan, pada perdagangan akhir pekan, IHSG BEI diperkirakan masih mengalami koreksi, namun koreksinya merupakan wajar sebagai bentuk konsolidasi. (bani)