DPR Tuding Menkeu Mau Gagalkan

Terkait Penyelamatan Tambang

DPR Tuding Menkeu Gagalkan Misi Presiden

Jakarta—Masalah penyelamatan tambang nasional, termasuk kontrak karya dan kepemilikan saham makin rumit. Bahkan DPR menuding Kementrian Keuangan berusaha “menghambat” misi Presiden SBY sebagaimana dinyatakan dalam pidato SBY memperingati Pidato Bung Karno 1 Juni tentang Pancasila. “Langkah Menkeu soal divestasi saham Newmont bukan saja melanggar UU Keuangan Negara dan UU APBN. Tapi juga membuat kepemilikan saham semakin semerawut,” kata anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha kepada wartawan di Jakarta, Rabu (8/6).

Satya menambahkan apabila pemerintah mengambil sisa 7% itu dipastikan akan dimanfaatkan Newmont Holding untuk kembali menjadi pemilik saham mayoritas PT NNT, karena ada celah untuk masuk. “Saya curiga Menkeu mau mengacak-acak 24% saham yang telah dimiliki Pemda. Jangan sampai langkah Menkeu ditunggangi kepentingan asing. Logikanya, jika 7% dimiliki pemerintah pusat, maka berarti komposisi saham milik Newmont masih menjadi yang terbesar,” papar Satya.

Sementara itu tokoh dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yaitu Ketua DPRD NTB Sujirman dan Ketua Komisi I DPRD NTB Ali Ahmad ketika dihubungi Rabu mengatakan, harapan agar daerah bisa mendapatkan sisa divestasi saham Newmont 7% kini terletak kepada Presiden SBY. “Dalam pertemuan kami bersama gubernur NTB dengan Menkoperekonomian Hatta Rajasa, Senin (6/6) ditegaskan bahwa Hatta segera akan menemui Presiden SBY agar sisa saham tersebut bisa diserahkan kepada daerah,” kata Sujirman.

Lebih lanjut dia berharap Hatta Rajasa juga turut memperjuangkan agar pemerintah Pusat tidak perlu membeli saham 7% karena tidak akan bisa berperan. Sebaliknya, jika diserahkan pada daerah saham daerah akan menjadi 31%.

Harapan serupa dikemukakan Ali Ahmad. Dia mengungkapkan komitmen Hatta Rajasa dan kebijakan presiden dalam melihat persoalan ini akan berpaling pada kepentingan daerah.“Pak Menkeu sebaiknya berfikir bijak, bertindak adil dan berpihak pada kepentingan daerah. Bukan sebaliknya, mengumpulkan ahli hukum menggugat balik masyarakat daerah NTB. Jika ini diteruskan bukan tidak mungkin menimbulkan gejolak di daerah,” ujar Ali. **cahyo

BERITA TERKAIT

Komisi III DPR Diminta Pilih Hakim Konstitusi Sosok Baru

Komisi III DPR Diminta Pilih Hakim Konstitusi Sosok Baru NERACA Jakarta - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Dr Jimly…

Yulie Sekuritas Tuding BEI Salah Sasaran

NERACA Jakarta – Sanksi yang diberikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE) menuai keprihatinan…

DPR Setujui Tiga RUU Menjadi UU

DPR Setujui Tiga RUU Menjadi UU NERACA Jakarta - Rapat Paripurna DPR RI pada Rabu (13/2) menyetujui tiga Rancangan Undang-Undang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Konsumen Bisa Jual Listrik Panel Surya ke PLN

    NERACA   Jakarta – Kelebihan daya dari pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap atau panel surya dapat…

Perkuat Industri E-Commerce, Lazada dan Bhinneka Berkolaborasi

      NERACA   Jakarta – Dua pemain e-commerce di Indonesia, Lazada dan Bhinneka menyatakan berkolaborasi dengan cara meluncurkan…

Mayora Group Telah Ekspor Produk Sebanyak 250 Ribu Kontainer

      NERACA   Jakarta – Mayora Group melakukan pelepasan kontainer ekspor ke-250.000 yang digelar Senin (18/2), hal ini…