Citibank: Indonesia Negara Tujuan Investor Asing

Jumat, 22/02/2013

NERACA

Jakarta - Citibank Indonesia menilai bahwa Indonesia masih dianggap sebagai salah satu negara tujuan investasi yang menjanjikan bagi investor asing. Terlebih saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas enam persen pada akhir 2012 serta Amerika Serikat (AS) dan Eropa masih berkutat dengan ancaman krisis global.

Head of Corporate and Investment Banking Citi Indonesia, Kunardy Lie, mengungkapkan saat ini pertumbuhan negara maju seperti AS, Eropa, dan Jepang masih tak bergerak atau stagnan. Kondisi itu yang menjadi salah satu pertimbangan investor untuk menanamkan investasi di negara berkembang seperti India, China, dan Indonesia.

"Di Asia, dengan permintaan dan pertumbuhan yang ada cukup lumayan. Ditambah lagi pasar yang bagus di India, China, dan Indonesia. Kita (Indonesia) adalah negara paling besar di Asean," ujar Kunardy di Jakarta, Kamis (21/2). Menurut dia, beberapa perusahaan properti mulai berencana untuk memindahkan bisnisnya ke Indonesia.

Bahkan, lanjurt dia, mereka mulai merasa kewalahan memenuhi permintaan real estate di Indonesia. "Banyak yang mau memindahkan bisnisnya dari Thailand ke Indonesia karena animo besar sekali. Contohnya, banyak sekali investor asing di sini seperti China, Korea, dan Jepang," jelasnya.

Kunardy juga menambahkan, beberapa sektor investasi yang menarik di Indonesia adalah tambang, batu bara, minyak sawit mentah, dan konsumer. Apalagi saat ini, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang mendekati US$4.000, memungkinkan untuk spending money lebih tinggi. Ini pun dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Ke depan, untuk meningkatkan minat investasi, ia menyarakan agar pemerintah segera membenahi infrastruktur. Menurut dia, minimnya infrastruktur di Indonesia menjadi salah satu kendala dalam berinvestasi. "Tahun ini, kami lihat masih bagus karena hanya sedikit negara yang tumbuh di atas enam persen, dan kami sangat optimis akan lebih baik," tegasnya.

Sementara itu, Kunardy menjelaskan bahwa Citibank Indonesia menyiapkan dana hingga US$1 miliar untuk memenuhi kebutuhan penyaluran kredit sindikasi dan club deal di 2013. Hal ini dilakukan untuk mendorong bisnis corporate banking yang akan lebih digiatkan pada tahun ini. “Pipeline ini ada beberapa juga, angkanya berubah-ubah. Tapi jumlah deal size sindikasi mungkin sampai US$1 miliar,” kata dia.

Mayoritas dolar AS

Untuk kredit sindikasi sendiri, lanjut Kunardy, Citi Indonesia lebih menyasar ke perusahaan swasta dengan jumlah kucuran kredit per sindikasi sesuai dengan kemampuan. Menurut dia, untuk pendanaan perusahaan BUMN, nilainya cenderung lebih besar sehingga biasanya dipenuhi melalui penerbitan surat utang.

“Untuk penyaluran kredit bilateral (langsung), itu tidak bisa dihitung kisarannya karena ada modal kerja serta komitmen angkanya bergerak terus. Kredit modal kerja tenornya rata-rata enam bulan, kalau investasi bisa sampai tiga tahun,” terangnya. Sementara untuk denominasi pemberian kredit, imbuh Kunardy, mayoritas masih dalam dolar AS sekitar 60% dan sisanya 40% dalam bentuk rupiah.

Sedangkan untuk pemberian kredit, hal itu tergantung dari perusahaannya. “Kalau penghasilan perusahaan rupiah ya kita kasih rupiah, supaya tidak ada risiko kurs. Kenapa lebih banyak kredit dalam dolar, karena kita bank asing, sudah pasti kekuatan kita dalam pendanaan mata uang asing. Tapi kita juga banyak pinjaman dalam rupiah. Kita juga kan didukung penuh oleh kantor pusat,” terang dia.

Namun, sambung Kunardy, pinjaman kredit baik dalam denominasi dolar AS atau rupiah dinilai sama-sama menarik bagi perusahaan, karena dari sisi suku bunga kredit dolar AS memang cukup rendah, begitu pun kredit rupiah yang juga kompetitif. [ardi]