Pengusaha Minta Pemerintah Susun Kebijakan Industri Susu

Kerek Daya Saing Produk Lokal

Jumat, 22/02/2013

NERACA

Jakarta - Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Budiana, meminta pemerintah menyususn kebijakan industri susu nasional. Alasannya, peternak sapi kini mengahadapi tantangan yang sangat berat terkait dengan pasar bebas yang niscaya membuat mereka keberatan kala bersaing dengan produk impor karena minim perlindungan.

"Zaman Orde Baru ada Inpres No 2/1985. Kemudian harga pun dipantau terus oleh pemerintah. Tahun 97 kemudian dilepas. Peternak dihadang oleh pasar bebas jadi nggak ada yang melindungi. Kemudian harga mulai merangkak turun ditahun 2007. Kemudian harga terus turun. Kita menuntut harga susu dinaikkan," terang Teguh di Jakarta, Kamis (21/2).

Lebih jauh lagi Teguh mengungkapkan, saat ini harga susu yang dihasilkan oleh peternak lokal masih dianggap rendah. Para produsen industri susu masih membeli dengan harga yang tak menguntungkan peternak, sementara harga pakan terus naik.

Teguh menuturkan saat ini harga susu peternak lokal hanya dihargai Rp 4.000/liter. Padahal harga itu jauh di bawah rata-rata, sementara harga pakan ternak naik yang harus ditanggung peternak. Ia meminta kenaikan harga susu di kalangan peternak lokal naik hingga 11,3%.

"Kita menuntut harga susu dinaikan 11,3%, yaitu menjadi Rp 4300/liter untuk IPS (Industri Pengolahan Susu) dari total solid. Kita saat ini hanya Rp 4000/liter. Harga harus distandarisasi oleh masing-masing pabrik agar mempunyai harga yang sama. Menteri memberikan komitmen untuk mediasi ini," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama,Teguh juga mengungkapkan saat ini banyak peternak sapi perah berpikiran pragmatis. Mereka rela untuk menjual dan memotong sapinya karena tergiur harga daging sapi yang tinggi di tingkat konsumen mencapai Rp 95.000/Kg. "Harga daging sapi naik berdampak pada sapi perah peternak yang dijual untuk dipotong," cetus Teguh.

Menurut data yang diterima Teguh, di Jawa Barat saja setidaknya ada 46.000 sapi perah yang dijual untuk dipotong oleh para peternak lokal. Selain itu harga susu yang rendah dikalangan peternak menambah beban masalah yang dihadapi peternak sapi saat ini.

"Peternak saat ini berpikiran pragmatis. Menurut data yang saya dapatkan di Jabar saja ada 46 ribu sapi perah yang dipotong. Ini implikasi harga daging yang mahal dan harga susu yang rendah," imbuhnya.

Dia mengusulkan kepada pemerintah harus ada perbaikan sistem tata kelola peternakan yang baik. Jika ini tidak dilakukan, maka estimasi penyusutan produktivitas susu sapi lokal setiap tahunnya akan terus terjadi.

Dihantam Impor

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolah Susu (AIPS) Syahlan Siregar mengatakan, selama ini enam perusahaan anggota AIPS konsisten menyerap susu produksi lokal meski harganya lebih tinggi dari susu impor. Produsen susu olahan dalam negeri membeli susu produksi lokal pada kisaran harga Rp3.800—4.100 per liter, sementara harga susu impor sudah mencapai Rp3.700 per liter. “Harga pembelian susu produk dalam negeri tersebut belum termasuk biaya pemrosesan seperti pasteurisasi yang diperkirakan mencapai Rp300—400 per liter,” kata dia.

Syahlan juga mengatakan bahwa meski harga susu impor lebih murah ketimbang susu lokal, para anggota AIPS memiliki ‘ikatan batin’ dengan para peternak sapi binaan untuk menyerap susu mereka. Untuk membina peternak, kata dia, butuh dana sekitar Rp20 miliar per tahun.

Menurut Syahlan, kebutuhan susu untuk industri dan perusahan besar mencapai sekitar 1.600 1.700 ton per hari sehingga susu dari peternak lokal terserap semuanya. “Namun yang menjadi kendala sampai saat ini adalah peternak susu lokal tidak mampu memenuhi permintaan industri dan perusahaan susu besar,” kata dia.

Senada dengan Syahlan, Direktur Industri Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Enny Ratnaningtyas mengatakan bahwa sebagian besar bahan baku susu olahan diimpor dari Selandia Baru dan Australia dengan presentase impor sekitar 75% dari total kebutuhan industri per tahun.

Dari enam perusahaan besar anggota AIPS, imbuh dia, hanya lima yang mampu menyerap susu lokal. Kelima anggota tersebut adalah PT Nestle Indonesia, PT Frisian Flag Indonesia (FFI), PT Sari Husada Tbk, PT Indolakto, dan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk.

Masalah lain dalam proses produksi susu lokal adalah kandungan bakteri yang masih sangat tinggi. Kondisi ini terjadi karena minimnya fasilitas infrastruktur untuk produksi susu yang ideal di kalangan peternak. "Masih banyak kandungan bakteri yang membuat produksi susu peternak tak layak diproses industri. Kita harus cari cara untuk turunkan jumlah bakteri produksi susu agar bisa diolah," kata Direktur Pengolahan, Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian Nazarudin.

Butuh Insentif

Di sisi lain, Nazarudin mengutarakan, untuk menggenjot produksi susu diperlukan pembinaan pada sentra-sentra produksi susu. “Pasalnya, pemeliharaan ternak sapi, khususnya sapi perah, membutuhkan keahlian khusus yang berbeda dengan perlakuan ternak yang lain,” terang dia.

Menurut Nazarudin, jumlah produksi susu sapi di Indonesia rata-rata hanya 10-12 liter per ekor per hari. Padahal, potensi produksi susu sapi jika dikelola maksimal bisa mencapai 40 liter per ekor per hari. "Sapi perah itu lebih sensitif, perlakuan harus lebih baik, termasuk penyediaan pakan. Penyediaan pakan sangat penting. Sebanyak 70% biaya produksi usaha sapi perah adalah untuk pemenuhan pakan," ujar Nazarudin.