Nilai Obligasi Korporasi Ditaksir Capai Rp 60 Triliun - Momentum Tepat di 2013

NERACA

Jakarta– Tingkat inflasi yang rendah dan acuan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) yang terus terpangkas, menjadi peluang pasar yang menjanjikan untuk penerbitan obligasi ditengah pertumbuhan ekonomi yang positif. Oleh karena itu, tahun ini akan marak perusahaan menerbitkan obligasi.

Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA)Wahyu Trenggono mengatakan, pasar obligasi korporasi tahun 2013 diperkirakan masih tidak akan jauh berbeda dengan 2012 lalu. Diproyeksikan nilai emisi obligasi korporasi tahun ini mencapai Rpp50-Rp60 triliun, “Tahun ini diperkirakan nilai emisi obligasi mencapai Rp60 triliun,”katanya di Jakarta, Kamis (21/2).

Dirinya menyakini, penerbitan obligasi dinilai masih bakal marak tahun ini. Pasalnya, sumber pendanaannya tergolong murah dibandingkan dengan melakukan pinjaman dari perbankan.

Belum lagi syarat pendanaan dari perbankan tergolong rumit dan butuh jaminan yang dinilai belum tentu lebih kecil nilainya dibandingkan jumlah pendanaan yang dibutuhkan. “Namun, perusahaan yang menerbitkan obligasi tersebut groupnya itu-itu saja atau sama dengan perusahaan ditahun-tahun sebelumnya,” jelas Wahyu.

Asal tahu saja, total emisi obligasi, sukuk dan eba yang sudah tercatat sepanjang tahun 2012 adalah 68 emisi dari 53 emiten. Senilai Rp69,35 triliun dan US$ 20 juta. Selain itu, kata Wahyu, banyak masyarakat Indonesia atau pelaku pasar obligasi di pasar sekunder, khususnya ritel, belum memahami harga pasar obligasi.

Menurutnya, dengan ketidakjelasan harga ini banyak para pihak yang tidak bertanggung jawab dan memanfaatkan kondisi tersebut dengan mematok harga obligasi di atas harga wajar.“Konsentrasi kami bagaimana penentuan range harga obligasi sehingga bisa menjadi acuan investor, khususnya ritel. Hal ini untuk memperjelas harga di pasar agar para pelaku bisa tahu batasan harga wajar,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan kondisi tersebut membuat banyak pihak enggan masuk ke pasar obligasi dan lebih memilih deposito.Padahal, bila dilihat secara yield-nya, obligasi lebih menarik dibandingkan dengan deposito. “Kita bisa lihat kalau bunga deposito paling besar 5%-6%, sementara obligasi bisa 8%-9%nan,” jelas Wahyu.

Saat ini, tambahnya, investor masih perlu lagi diberikan pemahaman lebih jauh terkait hal ini. Soalnya. pasar obligasi sangat berbeda dengan saham. “Jika saham ada acuan harga yang jelas di perdagangan. Namun, obligasi orang masuk dari berbagai wilayah, harganya berbeda-beda,”tandasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Berinvestasi Mudah Gak Pake Ribet - Ketika Semua Kemudahan Berada Dalam Genggaman

Di era digital saat ini, segala sesuatunya sangat mudah dilakukan. Tengok saja inovasi layanan industri keuangan baik itu perbankan hingga…

Geliat Sektor Industri - Anak Usaha Barito Pacific Jual Lahan 12,6 Hektar

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan industri akan berdampak besarnya permintaan lahan industri di beberapa kota besar, maka melihat potensi tersebut,…

Danai Pengembangan Bisnis - Dana Brata Luhur Lepas Saham IPO 35 Juta Saham

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Dana Brata Luhur Tbk berencana melaksanakan penawaran umum perdana (initial…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pengumuman Kabinet Baru - Tren IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta – Pembentukan susunan kabinet baru Joko Widodo –Ma’aruf Amin masih menjadi sentimen positif terhadap laju indeks harga saham…

Penjualan Sunson Textile Tumbuh 4,9%

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) membukukan penjualan sebesar Rp 317,98 miliar atau…

Bisnis Makin Legit, ROTI Raup Untung 211,7 Miliar

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) berhasil membukukan untung bersih sebesar Rp 211,7…