Kinerja Emiten Pelayaran Masih Stagnan - Tertimbun Sentimen Negatif

NERACA

Jakarta- Terkena imbas sentimen negatif global plus beban operasional yang cukup tinggi menjadikan kinerja emiten yang berkecimpung dalam industri pelayaran bergerak stagnan. "Pelayaran terkena dampak negatif dari ekonomi global, di mana pelayaran lebih banyak dalam pengantaran ekspor." kata pengamat pasar modal, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (20/2).

Selain itu, menurut Reza, kinerja saham-saham pada industri pelayaran yang bergerak defensif disebabkan sebagian besar emiten dari industri tersebut mencatatkan beban operasional yang cukup tinggi. “Kalau di pasar, sentimen pelayaran masih negatif terkait beban operasional, terlebih kalau harga minyak naik maka semakin negatif sentimennya.” jelasnya.

Namun, untuk emiten pelayaran yang berorientasi di dalam negeri, sentimen global tidak menjadi pengaruh yang signifikan. Meski demikian, secara umum perlu adanya perbaikan kinerja laporan keuangan dari pihak perseroan dan merilis berita positif terkait rencana bisnis dan ekspansi ke depan.

Sebaliknya, menurut Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito, industri pelayaran menjadi salah satu lini bisnis yang masih terus berkembang di Indonesia. Karena itu, sebenarnya industri ini prospektif. Terlebih adanya penemuan ladang-ladang baru pertambangan yang akan menjadi penunjang bagi kinerja emiten-emiten yang bergerak di industri tersebut. Karena dalam melakukan eksplorasi, tentu dibutuhkan jasa transportasi sehingga hal ini merupakan ruang bagi pengembangan bisnis industri pelayaran.

Selain itu, kata Ito, saat ini belum ada sarana transportasi yang dapat mengangkut barang dalam jumlah besar. “Penemuan ladang-ladang minyak baru di laut, otomatis membutuhkan transportasi laut dan pengangkutan jasa transportasi.” ujarnya.

Persoalan Manajemen

Ito menilai, prospek industri pelayaran hanya permasalahan manajemen dari masing-masing emiten. Sementara untuk beberapa emiten pelayaran yang tercatat tersangkut masalah utang yang terlalu besar, lebih karena adanya imbas dari krisis 2008.

Seperti diketahui, beberapa emiten pelayaran yang terganjal permasalahan going concern antara lain, PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) dan PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA). Untuk emiten berkode HITS, total liabilitasnya mencapai Rp2,45 triliun dan total ekuitasnya sebesar Rp326,76 miliar. Kabar penundaan pembayaran utang oleh pihak Humpuss membuat saham emiten tersebut disuspensi dalam perdagangan saham pada Oktober lalu.

Sementara, BLTA mencatatkan total utang mencapai US$2,07 miliar, sedangkan total ekuitas perseroan mencapai Rp982,38 juta. Artinya, rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) mencapai 2,1 kali. Saat ini perseroan tercatat sebagai salah satu emiten yang berpotensi untuk di delesting jika pihak manajemen tidak kunjung memberikan konfirmasinya secara jelas kepada pihak otoritas. (lia)

BERITA TERKAIT

MABA Masih Bukukan Rugi Rp50,64 Miliar

NERACA Jakarta – Perfomance kinerja keuangan emiten properti dan hotel, PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA) masih membukukan raport merah.…

RI Akan Terus Negosiasi UE Hadapi Sentimen Negatif Sawit

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) akan terus akan terus melakukan negosiasi untuk menghadapi sentimen negatif Uni Eropa (UE) terhadap…

Kinerja PDAM Kota Depok Melesat 1000 Persen

Kinerja PDAM Kota Depok Melesat 1000 Persen NERACA Depok - ‎Meski baru berusia enam tahun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…