Dorong Daya Saing Industri Rotan, Kemenperin Gandeng Jerman

Kamis, 21/02/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprioritaskan program hilirisasi industri rotan dengan mendatangkan desainer dari innovations zentrum lichtenfeis Jerman untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.

“Saat ini, industri rotan nasional mempunyai nilai tambah yang tinggi dan kerja sama dengan Innovations Zentrum Lichtenfeis Jerman dengan pihak pusat inovasi rotan nasional (Pirnas) akan menghasilkan desain yang bagus. Indonesia mempunyai bahan baku dan Jerman mempunyai teknologi pengembangan produk,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex S.W Retraubun pada acara MOU Pirnas dengan Innovations Zentrum Lichtenfeis Jerman di Jakarta, Rabu (20/2).

Sedangkan Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Perwilayahan Industri, Dedi Mulyadi, mengatakan untuk meningkatkan penjualan produk jadi rotan ke pasar Eropa, pemerintah menggandeng tenaga ahli dari Jerman. Selama ini, Indonesia mempunyai desainer rotan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), namun belum mempunyai pengalaman yang bagus.

“Kerja sama dengan desainer Jerman diharapkan bisa menghasilkan produk yang unggul dan disukai konsumen Eropa. Nantinya, desainer asal Jerman akan membantu desainer dari dalam negeri untuk membuat produk sesuai permintaan pasar,” paparnya.

Sedangkan desainer rotan Innovations Zentrum Lichtenfeis, Dipl. Ing. Auwi Stubbe, menambahkan pihaknya akan memberikan pendidikan kepada mahasiswa muda dan bekerja sama dengan perguruan tinggi dengan mencetak desainer handal untuk produk rotan.

“Kelemahan untuk industri rotan di Indonesia adalah desain produk yang dihasilkan, namun banyak desainer Indonesia dengan potensi besar bisa menghasilkan produk rotan yang sesuai pasar Eropa. Kami akan menyiapkan program pengembangan produk rotan dan pada tahun depan bisa dipamerkan produk made in Indonesia di Cologne, Jerman,” tandasnya.

Sekedar informasi Industri rotan sebagian besar berlokasi di Cirebon dan sekitarnya. baik jumlah perusahaan, produksi, ekspor maupun penyerapan tenaga kerja di sub sektor industri pengolahan rotan di Cirebon mengalami peningkatan, dimana jumlah perusahaan meningkat dari 923 unit usaha menjadi 1.060 unit usaha, produksi meningkat dari 62.707 ton menjadi 91.181 ton, ekspor meningkat dari 32.871 ton (senilai US$ 101,67 juta) menjadi 51.544 ton (senilai US$ 116.572 juta) dan penyerapan tenaga kerja meningkat dari 51.432 orang menjadi 61.140 orang. Namun sejak tahun 2005, baik produksi, ekspor maupun penyerapan tenaga kerja di sub sektor industri pengolahan rotan di Cirebon mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dan penurunan tersebut berlanjut pada tahun 2006.

Pada tahun 2007, beberapa produsen mebel rotan di Cirebon mengalami penurunan produksi, diantaranya yang semula dapat mengekspor sebanyak 120 kontainer per bulan, saat ini hanya mampu mengekpor 15–20 kontainer, bahkan sudah ada yang tidak berproduksi lagi. Hal tersebut disebabkan oleh sulitnya memperoleh bahan baku rotan yang berkualitas, namun sebaliknya di negara pesaing bahan baku tersebut lebih mudah didapatkan. Akibatnya banyak pengusaha rotan kecil yang semula sebagai sub kontraktor tidak memperoleh pekerjaan lagi, sehingga menimbulkan banyak pengangguran. Disamping itu, juga berdampak terhadap terhambatnya pengembalian kredit oleh industri pengolahan rotan ke perbankan (alias kredit macet). Apabila hal ini tidak segera diatasi, maka bisa jadi industri pengolahan rotan akan menjadi semakin terpuruk.

Penurunan industri pengolahan rotan, baik yang terjadi pada skala nasional maupun di sentra industri Cirebon sejak tahun 2005 disinyalir penyebabnya adalah dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan, yang memperbolehkan ekspor bahan baku rotan dan rotan setengah jadi (ditambah lagi dengan mengalirnya bahan baku rotan ke luar negeri secara illegal), mengakibatkan industri pengolahan rotan di dalam negeri sulit mendapatkan bahan baku. Di lain pihak, industri pengolahan rotan di negara-negara pesaing, terutama China dan Taiwan berkembang lagi secara pesat, sehingga merebut pangsa pasar dan potensi pasar ekspor produk rotan dari Indonesia.

Ekspor Meningkat

Disisi lain ekspor produk rotan China yang pada pada tahun 2002 masih berimbang dengan Indonesia sebesar US $ 340.000, pada tahun 2006 telah meningkat 4 kali lipat, sementara Indonesia sebagai penghasil bahan baku rotan kegiatan ekspor produk rotannya menurun.

Sebelum tahun 1986, Indonesia merupakan pengekspor bahan baku rotan terbesar di dunia, sedangkan industri pengolahan rotan nasional pada saat itu belum berkembang. Sejak tahun 1986, yaitu dengan dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No. 274/KP/X/1986 tentang larangan ekspor bahan baku rotan, industri pengolahan rotan nasional mengalami perkembangan yang sangat pesat yaitu meningkat dari hanya 20 perusahaan menjadi 300 perusahaan. Sementara itu, industri pengolahan rotan di luar negeri (Taiwan dan Eropa) yang bahan bakunya mengandalkan pasokan dari Indonesia banyak yang mengalami kebangkrutan dan mengalihkan usahanya ke Indonesia, khususnya di daerah Cirebon.

Dalam perkembangan selanjutnya ketika ekspor bahan baku rotan dibuka kembali pada tahun 2005, yaitu dengan dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan No. 12/M-DAG/PER/6/2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan, industri pengolahan rotan nasional perkembangannya mulai terhambat dan kegiatan usaha tersebut menjadi lesu, sehingga berdampak pada terjadinya pengangguran, kredit macet, berkurangnya perolehan devisa dan menurunnya kontribusi industri pengolahan rotan nasional dalam pembentukan PDB. Sebaliknya di negara-negara pesaing seperti China, Taiwan dan Italia industri pengolahan rotannya bangkit kembali dan berkembang sangat pesat.

Industri pengolahan rotan nasional mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku yangdisebabkan antara lain adanya kebijakan ekspor bahan baku rotan serta masih maraknya penyelundupan rotan ke luar negeri.Produksi penguasaan teknologi finishing masih ketinggalan serta desain produk-produk rotan olahan masih ditentukan oleh pembeli dari luar negeri (job order).Pemasaran,masih lemahnya market intelligence, mengakibatkan terbatasnya informasi pasar ekspor.