Pemerintah Siapkan Rp 168 Miliar Untuk 17 Pameran - Tingkatkan Promosi Perdagangan Luar Negeri

NERACA

Jakarta - Menurunnya kinerja ekspor lebih dari setahun terakhir mendorong pemerintah makin gencar mempromosikan produk dalam negeri di pasar internasional. Salah satunya melalui keikutsertaan di pelbagai pameran bisnis. Tahun ini, Kementerian Perdagangan berencana mengikuti 17 pameran bisnis di luar negeri. Anggaran negara pun disiapkan. Tidak tanggung-tanggung, nilainya mencapai Rp 168 miliar.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Gusmardi Bustami menyatakan, pengusaha yang diajak mengikuti pameran itu tidak akan dipungut biaya. Hanya saja, mereka menyediakan sendiri akomodasi untuk penginapan di negara yang dikunjungi. "Anggaran seluruhnya oleh APBN, peserta pameran tidak membayar apapun, tapi dia bayar tiket sendiri ke negara pameran. Saya pikir itu sudah merupakan keuntungan," ujarnya di kantornya, Rabu (20/2).

Untuk pameran, Kemendag menargetkan ajang-ajang di negara maju. Semisal di Swiss, Jerman, dan Amerika. Sebaliknya untuk misi dagang, fokusnya adalah negara-negara pasar tujuan ekspor non-tradisional. "Misi dagang ke seluruh benua, Afrika, Asia Tengah, Amerika Latin, dan kita juga akan ke Eropa Timur, dan negara-negara non-tradisional lainnya. Intensitas kunjungan 70 persen ke negara-negara non-tradisional," kata Gusmardi.

Kemendag percaya kegiatan seperti ini bisa membuka peluang peningkatan ekspor. Terlebih pemerintah melihat perlu ada upaya konkret menembus pasar baru setelah tahun lalu neraca perdagangan Indonesia defisit. "Kalau tidak kita lakukan sesuatu turunnya (defisit) bisa lebih besar lagi. Ini upaya kita memperkecil defisit," tegasnya.

Dalam waktu dekat Kemendag dan pengusaha Tanah Air akan mengikuti pameran MUBA di Kota Basel, Swiss. Acara itu merupakan salah satu pameran produk konsumsi tertua di Eropa. Sebelumnya, pengalihan atau diversifikasi produk-produk ekspor andalan Indonesia, harus dilakukan tepatsasaran. Terutama saat ini, di mana negara-negara maju masih dililit krisis utang. Produkekspor unggulan Indonesia mengalami peningkatan ke negara-negara selain Amerika Serikat danEropa, semisal ke Amerika Latin, Afrika Selatan dan Eropa Timur.

Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, negara ekspor Indonesia ke Pantai Gading tumbuhhingga 755%. Ekspor ke Djbouti naik 177%. Kinerja ekspor ke Ukraina dan Perumasing-masing naik 177% dan 80%. "Intinya kita akan lebih spesifik untuk komoditidan negara tujuan," ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi.

Dia mengklaim, Indonesia saat ini sudah makin memperlihatkan kinerja ekspor yang terdiversifikasi. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, pada kuartal I tahun ini, ekspor produk industri tumbuh 76%, tambang tumbuh 21%. Ekspor produk pertanian justru tergerus. "Pertanian menurun 2.9 % salah satunya karena ekspor kakao yang mulai beralih ke produk olahan, bukan lagi biji kakao," jelasnya.

Mantan wakil menteri pertanian ini mengatakan, meski secara umum kuartal I pertumbuhan ekspor melemah, namun komoditi lain justru pertumbuhan ekspornya cukup tinggi. Semisal komoditi kendaraan dan bagian-bagiannya yang tumbuh 37,2%, ikan dan udang naik 31,7%, kayu dan barang kayu naik 22,1%. "Proses diversifikasi terlihat bukan hanya pada volume tapi juga pertumbuhannya," kata Bayu.

Related posts