Mendongeng Bisa Bentuk Karakter Anak

Sabtu, 23/02/2013

Percaya atau tidak? Dongeng itu memiliki daya magnet yang dapat mengubah perhatian seseorang, khususnya anak. Selain dapat meningkatkan kecerdasan anak, mendongeng secara rutin cukup efektif dalam mengakrabkan hubungan antara orang tua dengan anaknya. Dongeng juga bisa disukai anak-anak selayaknya seorang anak menyukai makanan favoritnya.

Melihat banyak manfaat yang diberikan dongeng yang khususnya bermanfaat membentuk karakter anak, maka tak salah jikakalangan orang tua untuk terus dihidupkan dan dibiasakan dalam sebuah keluarga. Sayangnya, Saat ini, budaya dongeng dari orang tua kepada anak sudah mulai langka. Untuk itu, orang tua diharapkan untuk menghidupkan kembali budaya mendongeng untuk memberikan kesan hangat di dalam keluarga.

Seperti yang diungkapkan oleh pakar dongeng berasal dari Yogyakarta Muhammad Aris Kusdianto. Dia mengatakan dongeng bermanfaat membentuk karakter anak sehingga harus terus dihidupkan terutama oleh kalangan orang tua.

"Saat ini, budaya dongeng dari orang tua kepada anak sudah mulai langka. Untuk itu, kami mengajak orang tua untuk menghidupkan kembali budaya mendongeng untuk memberikan kesan hangat di dalam keluarga," katanya di sela Festival Maulud Nabi Muhammad SAW di SDIT Al Islam Kudus, Sabtu.

Selain itu, kata Ars yang dikenal dengan sebutan Kak Aris Pahlawan Bertopeng tersebut, dengan mendongeng dapat meningkatkan kecerdasan anak sedangkan mendongeng secara rutin cukup efektif dalam mengakrabkan hubungan antara orang tua dengan anaknya.

Selain itu, dongeng mudah masuk ke area pemikiran seseorang, apalagi anak-anak. Alam pikiran anak-anak itu bebas dan penuh kreativitas. Karena sifatnya yang bebas dari segala tuntutan inilah, akan membuat anak semakin menyukai dunia dongeng. Oleh karena itu, Ia berharap, baik orang tua maupun guru tidak menyia-nyiakan manfaat dongeng untuk anak-anak.

Melalui dongeng, kata dia, anak bisa belajar kosakata baru, belajar untuk mengekspresikan perasaan, seperti senang, sedih, ataupun marah, serta menyerap nilai-nilai kebaikannya.

Melalui dongeng, anak bisa belajar kosakata baru, belajar untuk mengekspresikan perasaan, seperti senang, sedih, ataupun marah, serta menyerap nilai-nilai kebaikannya.

Ia menyatakan kepada orang tua atau guru yang hendak mendongeng, agar tanpa menggunakan media, melainkan hanya lewat gerakan, suara, maupun ekspresi, sehingga anak bisa berimajinasi.Karena menurut dia, jika menggunakan media, imanijasi anak kurang terlatih karena gambarnya sudah bisa dilihat langsung.

"Bahan dongeng, katanya, memang harus disesuaikan dengan usia, agar dapat mengena.Dongeng juga bisa dibiasakan pada anak yang baru lahir,” tambah dia

Kepala SDIT Al Islam Kudus, Istifainzah mengatakan dalam Festival Maulud Nabi Muhammad SAW itu, sekolah sengaja mendatangkan pendongeng profesional agar anak juga tertarik mendengarkan dongeng ketika nantinya berada di rumah.

"Lewat pendongeng tersebut, anak juga mendengarkan kisah tentang Nabi Muhammad SAW agar anak juga bisa meneladani sikap dan perilakunya. Apalagi, dongeng lebih sering diperkenalkan kepada anak saat masih usia TK, sedangkan tingkat SD masih jarang terjadi,” imbuh dia.