Kemenperin Prediksi Industri TPT Segera Naik Kelas

Dampak Positif Kerjasama RI-Italia

Rabu, 20/02/2013

NERACA

Jakarta - Kerjasama Indonesia dengan Itema, supplier mesin terbaik dari Italia, diprediksi bakal membuat industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia akan naik kelas. "Kerjasama Indonesia dengan Itema Italia akan berdampak positif terhadap pertumbuhan industri TPT secara nasional. Bahkan untuk pasar dunia, produk TPT nasional akan naik kelas," ungkap Direktur Industri Tekstil dan Aneka, Ditjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Ramon Bangun, di Jakarta, Selasa (19/2).

Untuk pasar ekspor TPT dari Indonesia, kata dia, akan memasok kebutuhan bagi konsumen kelas menengah di Amerika Serikat. "Rata-rata konsumen kelas menengah di Amerika Serikat (AS) banyak menggunakan produk dari Indonesia. Namun hanya Chinda dan Vietnam yang menajdi sangain dari Indonesia yang menjadi kompetitor untuk pasar AS," katanya.

Pasalnya, menurut Ramon, keungglan dari China dan Vietnam adalah dibidang tenaga kerja yang upahnya lebih murah dibandingkan dengan tenaga kerja Indonesia sehingga produsen di kedua negara tersebut bisa menekan biaya produksinya. "Saat ini, upah di China dan Vietnam sudah sangat tinggi. Industri TPT nasional bisa mengganti mesin-mesin produksi lama dengan yang baru untuk meningkatkan kinerja perusahaan," ujarnya.

Namun demikian, Ia merasa tidak khawatir menghadapi produk-produk asal China dan Vietnam di pasar dunia. Hal itu lantaran mutu produk TPT nasional tidak kalah bersaing dengan produk lainnya bahkan produk Indonesia diklaim lebih teruji. "Namun untuk semakin memperkuat posisi tawar di pasar dunia, TPT nasional perlu terus diperbaiki kinerjanya dan untuk itulah dijalin kerjasama dengan Itema Italia dan kemudian mesin-mesin Itema akan kita operasikan di industri-industri TPT di dalam negeri," ucapnya.

Menurut dia, dalam kerjasama tersebut, Itema akan membuka pelatihan di Indonesia untuk melatih para operator pabrik tekstil di Indonesia. "Melatih operator industri tekstil di dalam negeri masih sangat perlu dan jika pelatihan itu diselenggarakan secara rutin dan maksimal di Indonesia, kebutuhan tenaga kerja di bidang tersebut yang selama ini menjadi salah satu kendala pertumbuhan industri TPT, akan dapat teratasi," tambahnya.

Tergolong Lemah

Ramon pun mengakui kalau industri TPT nasional masih tergolong lemah, khususnya di bidang industri pemintalan benang untuk membuat kain. "Kita akui masih lemah di sektor ini dan inilah titik kelemahan kita," jelasnya. Akan tetapi, kata dia, kelemahan tersebtu akan segera teratasi menyusul kerjasama Indonesia dengan Itema karena mesin pemintalan Itema adalah mesin terbaik di dunia.

Sebagaimana diketahui, industri TPT salah satu komoditi andalan industri manufaktur dan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Hal ini dikarenakan kontribusi industri TPT cukup signifikan dalam perolehan devisa ekspor, penyerapan tenaga kerja dan peranannya yang strategis dalam proses industrialisasi.

Sektor industri TPT hingga kini bisa menyumbang 7% dari total ekspor nonmigas sementara dari sisi penyerapan tenagak kerja, TPT nasional cukup besar. Setiap tahun sektor industri TPT bisa menyerap paling sedikit 100.000 tenaga kerja. Ini artinya, industri TPT nasional ikut serta mendongkrak tingkat kemampuan daya beli masyarakat sebab uang beredar dengan perekrutan 100.000 tenaga kerja, mencapai Rp 1,2 trilun setiap tahun. "Maka itu, sektor ini cukup menjanjikan dan tidak salah kalau pemerintah menjadikannya sebagai industri unggulan yang bisa menghela perekonomian nasional," imbuh Ramon.

Prospek pertumbuhan Industri TPT katanya akan semakin baik dikarenakan permintaan pasar di dalam negeri yang meningkat serta tingginya konsumsi dunia. Peluang Indonesia untuk memanfaatkan pasar dunia akan semakin besar dengan adanya pembatasan masuknya TPT. Kondisi ini juga didukung dengan mahalnya biaya tenaga kerja di Pantai Timur China yang merupakan basis industri TPT Tiongkok, sehingga Industri TPT Tiongkok akan mengalihkan industrinya ke negara lain seperti Bangladesh, Vietnam, termasuk ke Indonesia.

Tingkatkan Daya Saing

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kemenperin Anshari Bukhari menyatakan akan mengembangkan dan meningkatkan daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Langkah itu dilakukan melalui program revitalisasi unit pelayanan teknis (UPT) tekstil melalui bantuan pengadaan mesin, pemberian bantuan mesin dan peralatan tekstil serta pelatihan teknis bagi sumber daya manusia (SDM) industri. "Melalui program pengembangan dan peningkatan daya saing industri TPT, diharapkan industri TPT tumbuh 6,52 persen pada 2014 dan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 216.00 orang per tahun sejak 2013 hingga 2014," katanya.

Anshari menyatakan jumlah penduduk yang besar merupakan potensi faktor produksi. Namun, ketidaksesuaian kompetensi SDM dengan kebutuhan industri serta produktivitas tenaga kerja yang relatif rendah, sekaligus menjadi kelemahan faktor SDM industri Indonesia.

Total ekspor produk industri nonmigas dari Januari sampai dengan September 2012, menurut Anshari, mencapai US$86,99 miliar, turun 5,25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan ekspor produk industri TPT mengalami penurunan sebesar 6,86%. "Penurunan kinerja pertumbuhan sektor industri termasuk cabang industri TPT disebabkan melambatnya perekonomian dunia yang berdampak pada memburuknya kinerja perdagangan nasional khususnya negara-negara tujuan ekspor utama seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan ASEAN," kata Anshari.