DPR Minta Industri Komponen Otomotif Diperkuat

NERACA

Jakarta - Anggota Komisi VI DPR Ferrari Romawi mengungkapkan untuk memperkuat industri otomotif nasional, pemerintah bareng swasta harus memperkuat industri komponennya terlebih dahulu. Pasalnya apabila Indonesia mau membangun industri otomotif tanpa diimbangi dengan maju industri komponen, sampai kapanpun tidak akan berhasil dan sudah pasti akan ketergantungan impor komponen. “Industri otomotif harus diimbangi dengan kemajuan industri komponen dalam negeri,” terang Ferarri kepada Neraca di Jakarta, Selasa (19/2).

Ferarri memaparkan kalau selama ini Indonesia hanya dijadikan pasar saja oleh Jepang, tanpa dibarengi alih teknologi. “Sehingga bangsa ini tidak pernah bisa mandiri di sektor otomotif. Berbicara mobil nasional tidak bisa untuk tidak menceritakan kisah terciptanya mobil “Kijang”. Indonesia memiliki kedekatan khusus secara bilateral dengan Jepang,” tambahnya.

Menurut dia, tidak mengherankan jika hampir lebih dari 30 tahun lamanya prinsipal otomotif dari Jepang diberikan hak atas penguasaan pasar otomotif di Indonesia. Melalui ATPM yang dipegang oleh ASTRA, Jepang hendak mewujudkan perakitan mobil pertama yang sekaligus nantinya akan menjadi ledakan industri otomotif di tanah air.

Upaya yang dipelopori oleh Toyota kemudian diikuti oleh pesaingnya dari Jepang lainnya seperti Honda, Suzuki, Daihatzu, Isuzu, dan Mitsubishi. Industri perakitan mobil pun akhirnya diikuti pula dengan kemunculan industri otomotif dari Jepang pula untuk jenis kendaraan roda dua. Kedua jenis tersebut meraih sukses besar hingga saat ini.

Program Mobil Murah

Sebelumnya Program pemerintah untuk mobil murah dan ramah lingkungan atau Low cost and green car (LCGC) rupanya menarik perhatian para investor. Pasalnya di tahun ini, 50 investor industri komponen tier I dan tier II telah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik di dalam negeri. Investasi tersebut akan memberikan nilai tambah bagi industri otomotif.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan ada sekitar 50 investor yang sudah berminat untuk ikut mengembangkan program LCGC ini. Akan tetapi Hidayat juga mengingatkan kalau tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produk mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC) mencapai 80% dan mendorong investasi komponen di Indonesia. “Untuk produk LCGC 80% harus menggunakan 80% komponen yang diproduksi dari dalam negeri. Hal tersebut akan membuat biaya produksi mobil menjadi lebih murah,” kata Hidayat.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin, Budi Darmadi, mengatakan diharapkan beberapa Agen Pemegang Merek (APM) menjadi pelopor pengembangan industri komponen berdaya saing tinggi serta memberikan perhatian pada peningkatan penguasaan kemampuan teknologi.

“Pengembangan research and development dan sumber daya manusia baik di pabrik maupun bengkel kendaraan bermotor perlu dilakukan agar menghasilkan sumber daya yang berkualitas. Pemerintah berharap APM dapat meningkatkan nilai kandungan komponen dalam negeri,” ujarnya.

Budi menambahkan, pengembangan sumber daya alam harus dilakukan agar industri otomotif dalam negeri memiliki keunggulan dibandingkan negara lain. Untuk TKDN, diharapkan terus mengalami peningkatan seiring dengan pengembangan model-model baru dalam industri perakitan kendaraan bermotor.

“Sumber daya alam yang berkualitas akan membuat industri otomotif dalam negeri mempunyai daya saing dengan negara lain. APM diharapkan dapat menggunakan TKDN yang besar dengan membuat produk-produk baru,” kata Budi.

Budi juga mengungkapkan pengembangan LCGC, APM seperti PT Toyota Astra Motor (TAM), PT Astra Daihatsu Motor (ADM), PT Honda Prospect Motor (HPM), PT Suzuki Indomobil dan PT Nissan akan menanamkan modalnya dan total investasi mencapai US$ 2,2 miliar serta US$ 2,2 milia bagi industri komponen.

Related posts