Pecah Kongsi, Grup Bakrie Dikelabui Rothschild

DIPAKSA KELUAR DARI BUMI PLC

Selasa, 19/02/2013

Jakarta – Tidak lagi sejalan Grup Bakrie dengan Nat Rotschild yang berujung pada pecah kongsi di Bumi Plc, memaksa PT Bumi Resources Tbk (BUMI) harus menyetor US$ 50 juta atau setara Rp 475 Miliar sebagai uang pembubaran kerjasama. Tidak hanya itu, juga akan terjadi perubahan pengendali saham di BUMI.

NERACA

Maka untuk menyelamatkan kepemilikan saham, Grup Bakrie melakukan berbagai macam cara dan termasuk meminta dukungan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan alasan konsultasi mengenai UU Pasar Modal, “"Kami sedang konsultasikan, nanti kalau ada perubahan pemegang saham di Bumi Plc, maka BUMI mendorong tender offer, sisanya kami akan melakukan diskusi dengan OJK," ujar Direktur Utama PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Ari S Hudaya di Jakarta, Senin (18/2).

Menurut analis pasar modal, Reza Priyambada, penjualan aset BUMI adalah kegagalan Bakrie yang akibat pecah kongsi dengan Bumi Plc. Lalu soal penjualan aset itu menimbulkan tanda tanya, dari mana mereka akan mengambil alih kepemilikan saham mereka di Bumi Plc. Dana senilai US$278 juta dolar merupakan jumlah yang cukup besar. Sementara jika kita melihat kas mereka sendiri, BNBR misalnya, belum tentu mencukupi.” ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Karena itu, lanjut Reza, yang dimungkinkan dalam pengambilalihan saham tersebut akan dilakukan skema transaksi lainnya, atau transaksi non kas. Pasalnya, saat pengambilalihan alihan Valar, BUMI transaksi yang dilakukan yaitu melalui tukar guling saham. Jika US$ 278 juta tersebut benar-benar digunakan dalam bentuk kas maka maka akan kembali menjadi pertanyaan, kenapa sebelumnya tidak digunakan untuk menutupi utangnya. “Tidak mungkin mereka dapat menguasai Valar. Padahal awalnya Valar yang ingin menguasai BUMI, Ini merupakan keajaiban mereka dengan berhasil mengganti nama Valar menjadi Bumi Plc.” jelasnya.

Menurut dia, penjualan aset untuk menutupi utang, hanya dimungkinkan untuk menutupi utang secara internal. Seperti penjualan sebagian saham ELTY, maka akan menutupi utang internal perusahaan tersebut. Demikian pula dengan penjualan lahan milik grup Bakrie yang berada di Kuningan yang saat ini sedang ditawarkan dengan pihak lainnya, hal itu hanya dimungkinkan untuk biaya operasional dan menutupi utang secara internal. Namun, jika penjualan aset-aset tersebut untuk menutupi utangnya secara keseluruhan, tentu tidak akan mampu menutupi. “Kalau secara grup, masih berat.” ujarnya.

Dipecundangi

Reza menilai, saat ini belum kelihatan jika dikatakan Rothschild mencundangi Bakrie. Rothschild dikatakan dapat mengelabui BUMI jika BUMI keluar, namun aset mereka tetap di Bumi Plc. Karena itu, Rothschild berupaya menciptakan transaksi itu agar kepemilikan sahamnya bisa bertambah lebih besar di Bumi Plc. “Rothschild berupaya untuk menambah sahamnya, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya dari 10% menjadi sekitar 14%, yaitu dengan membeli saham Bumi Plc di pasar.” jelasnya.

Namun, jika Bakrie keluar, sementara aset-aset perusahaan lainnya seperti BRAU keluar maka artinya Bakrie berhasil. Meskipun demikian, Rothschild akan berupaya keras agar dia bisa kembali menjadi pemilik saham terbesar.

Sebaliknya, jika cerainya grup Bakrie dari Bumi Plc berhasil dengan aset-aset BUMI juga ikut keluar maka ini akan menjadi peluang positif bagi pengembangan usaha BUMI. “Mereka akan lebih fokus dalam upaya pengembangan dan hal ini direspons positif. Pelaku pasar akan melihat kemampuan pihak grup Bakrie untuk menekan utangnya.” jelasnya.

Pengamat pasar modal dari FE Univ. Pancasila, Agus S. Irfani menilai, Grup Bakrie yang harus menyediakan dana untuk membeli kembali saham (buyback) PT Bumi Resources Tbk (BUMI) milik Bumi Plc sudah direncanakan terlebih dahulu, “Hal ini sudah direncanakan untuk pecah Bakrie, agar Bumi Resources dan Berau tetap berada di Bumi Plc,”ungkapnya.

Sudah Direncanakan

Dia menuturkan, mengacu kepada UU Pasar Modal, Rothschild sebagai pemegang saham pengendali baru Bumi Plc wajib membeli saham Bakrie yang tidak menyetujui pengambilalihan pemegang saham pengendali tersebut.

Dia menambahkan, sebenarnya Bakrie ingin membeli saham Bumi Plc sejak dulu namun Rothschild enggan menjualnya. Tetapi sekarang ini akan dilakukan oleh pihak Rothschild untuk memberikan kesempatan bagi Bakrie untuk melakukan buyback.

Menurut Agus, apa yang dilakukan Bakrie dengan menjual asetnya dikarenakan membutuhkan dana segar dalam melakukan buyback dan bukanlah ingin menjual aset yang kurang berkembang. Bakrie membutuhkan dana yang cukup banyak dalam upayanya untuk buyback Bumi Plc.

Menurut dia, dengan banyaknya aset Bakrie yang akan dijual atau dilego untuk buyback itu maka secara financial Bakrie akan merugi. Namun secara pengusaaan terhadap Bumi Plc akan meningkat dan hal ini yang menjadi tujuan utama dari Bakrie. “Kesulitan yang terbesar dari Bakrie adalah mengenai banyaknya utang dan prioritas politik yang bisa menimbulan kesulitan ekonomi yang signifikan,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi, perselisihan Bakrie dan Rothschild yang dimenangkan oleh Rothschild karena Bakrie mencoba menyingkirkan Rothschild di dalam BUMI Plc dengan melakukan buyback.

Sementara analis pasar modal dari Universal Broker, Satrio Utomo mengatakan, keputusan BUMI menjual aset-asetnya secara umum disebabkan oleh kesulitan perseroan tersebut untuk mengeluarkan saham barunya dan harga sahamnya sejauh ini juga masih rendah, “Dengan posisi harga komoditas turun dan kinerja rendah, maka mereka akan susah dapat harga bagus untuk sahamnya. Untuk right issue juga berat. Jadi mau tidak mau mereka harus jual asetnya,"tuturnya..

Apakah aset itu lebih baik dijual ke investor lokal atau asing, menurutnya itu sama saja. "Kalau mereka terburu-buru, yang mana mereka terpaksa menjual aset di harga murah, maka dijual ke asing akan bisa jadi pilihan, karena likuiditas dunia juga lagi bagus kan," ungkapnya.

Di sisi lain, Recapital Group yang saat ini menggenggam saham di Bumi Plc. akhirnya menjual kepemilikannya ke tiga perusahaan. Salah satu perusahaan itu adalah perusahaan yang didirikan oleh pengusaha media Hary Tanoesoedibjo.

Menyimak data website Bumi Plc, Recapital Groups saat ini yang terdiri dari PT Recapital Advisors dan PT Bukit Mutiara menggenggam 24.203.452 saham atau sekitar 15% di Bumi Plc. Sejumlah saham tersebut dijual ke tiga perusahaan yaitu pertama, Avenue Luxembourg SARL yang membeli 13.667.250 saham (56,4%). Perusahaan ini merupakan perusahaan investasi fund manager yang dikelola Avenue Asia Capital Management L.P.

Kedua, fund manager Argyle Street Management Limited yang membeli 7.536.202 saham atau sekitar 31,1% saham milik Recapital Groups. Ketiga, Flaming Luck Investments Limited yang saat ini dikuasai oleh Hary Tanoesodibjo yang membeli 3 juta saham atau 12,3% Recapital Groups.

Sebagai informasi, jika hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 21 Februari 2013 mendatang membuat pengendali Bumi Plc berubah, regulator pasar modal akan mewajibkan dilakukan tender offer, “Terkait pasar modal, misalnya seandainya berdasarkan hasil RUPS terjadi perubahan pengendali di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ada ketentuan wajib tender offer,” kata kepala eksekutif pengawas pasar modal OJK Nurhaida.

Jika dalam RUPS mendatang memutuskan dilakukan perombakan direksi sesuai usul Nat Rothschild, maka akan terjadi perubahan pengendali di Bumi Plc. Di mana Bumi Plc adalah pemegang saham 29% saham BUMI dan 85% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Itu artinya, maka Bumi Plc akan dikuasai pihak asing.

Beberapa aset Grup Bakrie yang tengah di jual untuk menutupi pembelian saham di Bumi Plc adalah dengan menjual lahan kuningan melalui anak usahanya PT Bakrie Swastika Utama (BSU), melepas toll road anak usaha Grup Bakrie, melepas saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) dan PT Bakrie Pipe Industries. bari/lia/mohar/ria/bani