Diduga Kerap "Berbohong", Mentan Harus Diganti

TERKAIT PERSOALAN DAGING

Selasa, 19/02/2013

Jakarta – Masih tingginya harga daging sapi di pasaran yang masih berkisar antara Rp95 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, mengundang sejumlah kegeraman banyak pihak. Bahkan, ada yang sampai menuding bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) kerap melakukan kebohongan publik, serta memanipulasi data dan konsep, terkait persoalan daging.

Pengurus Serikat Tani Nasional (STN) Binbin Firman Tresnadi, misalnya. Menurut dia, Kementan suka melakukan manipulasi data dan konsep. “Kementan itu banyak salah data. Katanya Kementan ingin bercita-cita swasembada daging, tapi tidak ada realisasinya. Sampai hari ini kesulitan peternak masih sama. Pakan sulit didapat. Peternak masih beternak dengan cara-cara tradisional. Harusnya Kementan memberikan alih teknologi untuk supaya peternak tidak lagi memberikan pakan-pakan tradisional,” jelas Binbin kepada Neraca, Senin (18/2).

Permasalahan utama dalam Kementan, kata Binbin, adalah korupsi yang begitu mengakar. “Memang bobrok sistem yang ada di Kementan itu. Tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan kebobrokan selain ganti menterinya dan membersihkan jajaran di bawahnya,” ujarnya.

Selain membersihkan Kementan dari tindak korupsi, Kementan juga perlu memiliki konsep yang konsisten diaplikasikan di lapangan dalam rangka mencapai swasembada sapi. “Sejauh ini, tidak ada konsep yang jelas. Misalnya, ada target membangun peternak-peternak sapi rakyat. Tetapi cara-cara yang dilakukan Kementan adalah cara instan, misalnya dengan mengimpor atau membeli sapi dari peternak. Harusnya Kemenetan punya konsep yang konsisten untuk menunjang kebutuhan daging nasional,” jelas Binbin.

Sedangkan Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya menuding Kementerian Pertanian sudah melakukan kebohongan. Bagaimana tidak, pihak Kementan berkali-kali ingkar janji untuk memasok sapi ke pasaran. Akan tetapi, sampai sekarang realisasinya tidak ada, sehingga harga jual daging terus naik, sampai lebih dari Rp 100.000 per kilogram.

Ketua Umum KDS Sarman Simanjorang menagih janji Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Irwantoro yang November tahun lalu menyatakan akan memasok 5.000 ekor dari sentra daging Nusa Tenggara Timur. "Direktur Jenderal Peternakan Kementan pernah mengatakan siap mengirim sapi 5.000 ekor, setelah kita cek, ternyata sapi-sapi itu milik 2.500 keluarga di NTT, bukan punya pemerintah ," ujarnya kemarin.

Lebih jauh lagi, Sarman mengungkapkan bahwa Kementan berkali-kali mengklaim yakin bahwa produksi sapi nasional cukup untuk memenuhi konsumsi daging sapi se-Indonesia. Pengusaha daging telah memeriksa data Sensus Sapi 2011, dan hasilnya daging yang laik potong cuma 1,4 juta ekor.

"Setelah kita cek data sensus itu, ternyata cuma 31,8% sapi jantan dari 14,8 juta ekor sapi yang diklaim pemerintah. Itu pun sapi remaja masuk. Jadi bagi kami angka sensus sapi cuma cadangan bukan stok, karena bagi pengusaha stok ya berarti sapi itu ada di pasaran dan siap potong," ungkap Sarman.

KDS yang membawahi sembilan asosiasi rumah potong sampai pengolahan daging mendesak Kementan tidak lagi mengurusi tata niaga sapi impor. Setiap kali pengusaha mempertanyakan solusi supply-demand pada pejabat kementan, tidak pernah ada jawaban memuaskan.

“Pemerintah malah mengusulkan swasembada sapi yang tidak konkret. Peternak sapi di Indonesia saat ini masih tradisional. Sapi yang dimiliki petani bukan untuk industri tapi sebagai tabungan selain hasil tani”, tandas Sarman.

Tidak Akurat

Sementara itu, pengamat pertanian Bustanul Arifin mengungkapkan, kalau selama ini data sapi nasional memang tidak akurat, data sapi nasional selalu berbeda antara BPS dan Kementan.

Menurut penelitian Bustanul,data sensus Juli tahun 2011 menyebutkan bahwa Indonesia mempunyai 15,6 juta ekor sapi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, ujar Bustanul, sesungguhnya tidak ada alasan bagi pemerintah mendatangkan sapi impor. "Seharusnya dengan sapi sebanyak itu kita bisa memenuhi kebutuhan konsumsi daging nasional," katanya, Senin.

Namun jumlah sapi nasional tersebut justru menimbulkan pertanyaan ketika di pasaran masih terjadi kekurangan stok daging. Menurut Bustanul di titik inilah ada persoalan struktur perdagangan yang tidak terbuka.

Dia menuding, ada permainan di belakang upaya swasembada daging sapi nasional. "Kalau importir tentu bilangnya stok daging tidak mencukupi jadi harus impor terus," ujarnya.

Dia juga menyebutkan, struktur perdagangan yang tidak sehat ini juga disebabkan adanya pihak yang menahan sapi itu tidak dipotong. Jika sapi tidak dipotong, otomatis pasokan daging sapi berkurang. "Selain itu, penggemukan sapi juga tidak terjadi, peternak juga menahan sapi tidak dipotong supaya harga naik. Itulah yang terjadi selama ini. Pemerintah sangat sulit mengontrol hingga ke kandang-kandang", kata Bustanul.

Bustanul mengapresiasi komitmen pemerintah mengurangi kuota impor dengan tujuan mewujudkan swasembada daging sapi. "Sampai 2014 ini jatah kuota impor terus dikurangi. Saat ini di pasaran 70 % dipenuhi daging sapi lokal dan 30 % impor. Sekarang 22 % sudah dikurangi," tuturnya.