PNM Venture Capital Dukung Industri UKM Kreatif

NERACA

Bandung – PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM mendorong sektor usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia, khususnya industri kreatif, untuk terus tumbuh melalui dukungan permodalan dan jasa manajemen dengan sistem modal ventura.

“Pola modal ventura ini dinilai efektif dan strategis untuk mengembangkan UKM industri kreatif yang nantinya bisa memiliki daya saing. Untuk itu, hal ini akan dilakukan oleh anak usaha perseroan yakni PNM Venture Capital (VC),” tutur Parman Nataatmadja, Direktur Utama PNM, dalam pers rilisnya kepada Neraca, Senin (18/2).

Kemudian, Parman mengatakan bahwa industri kreatif merupakan sebuah sub-sektor industri baru dari ekonomi global yang berkembang pesat di berbagai negara. Sebagian besar menyentuh dan berkaitan dengan wirausaha kelompok mikro, kecil dan menengah (UMKM) baik barang maupun jasa.

“Segmen industri kreatif yang dikembangkan dalam program ini mengacu pada Instruksi Presiden (Inpres) No.06/2009, dimana terdapat 15 sektor industri, yaitu periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kerajinan, desain, fesyen, video, film, dan fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukkan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, serta riset dan pengembangan,” katanya.

Dalam pengembangan program ini, ujar Parman, pihaknya akan tetap menghargai kekayaan intelektual sebagai basis dari industri kreatif. “Kami sangat mendukung program pemerintah dalam pengembangan industri kreatif dengan meningkatkan daya saing UKM industri kreatif. Namun demikian, dukungan PNM ini tetap melalui pendekatan bisnis karena sebagai BUMN kita tetap dituntut untuk profit,” ucapnya.

Sementara itu, Presiden Direktur PNM VC, Iwan Ridwan, menerangkan bahwa program pengembangan UKM industri kreatif ini merupakan salah satu strategi bisnis PNM VC untuk memperluas pangsa pasarnya dengan menyasar pengusaha kecil dan menengah industri kreatif melalui pola modal ventura.

PNM VC akan menawarkan beberapa skema bagi para nasabahnya atau PPU (Perusahaan Pasangan Usaha), yaitu penyertaan saham, obligasi konversi dan pembiayaan bagi hasil terkelola. Pada penyertaan saham, perseroan ini akan masuk sebagai pemegang saham bersama-sama dengan PPU sebagai mitra usaha, dan kepemilikan saham ini memiliki tenor 10 tahun.

“Jika sebelum batas waktu itu usaha PPU sudah tumbuh besar dan mandiri, ya kami bisa lepas. Sehingga, tidak ada keinginan untuk mengambil alih usaha tersebut, sehingga porsi saham harus seimbang antara pelaku UKM dengan kami,” tuturnya.

Sebagai pemegang saham, tambah Iwan, pihaknya memiliki kewajiban untuk mengembangkan usaha tersebut melalui pendampingan, membantu manajemen, hingga pemasaran. Hal seperti ini tidak bisa dilakukan oleh perbankan.

Sementara itu, PPU tersebut harus sudah berbadan hukum. Namun, apabila mereka belum memiliki badan hukum, skema pembiayaan bagi hasil terkelola menjadi pilihan. Nilai plafon pembiayaan sekitar Rp200 juta hingga Rp3 miliar. Pada skema ini, nasabah UKM tetap memperoleh pendampingan dan bantuan lainnya, dengan model profit sharing atau revenue sharing.

“Pendanaan pola modal ventura tidak berbenturan dengan pembiayaan perbankan, karena modal ventura memiliki segmentasi pasar yang sangat berbeda dengan perbankan,” tegasnya.

Adapun, untuk pola obligasi konversi, PNM VC akan membeli surat utang obligasi yang diterbitkan PPU. Selanjutnya, setelah obligasi itu jatuh tempo ada opsi PNM untuk mengonversi obligasi tersebut menjadi penyertaan.

Lalu juga akan memberikan pendampingan bagi pelaku usaha yang memiliki produk barang atau jasa yang siap dikomersialisasikan, tetapi masih terkendala masalah pendanaan. Segmentasi pasar bagi perusahaan modal ventura memang perusahaan startup yang siap dikomersialisasi, atau perusahaan dengan peluang besar tetapi kurang jaminan, atau juga perusahaan yang lama usahanya belum memenuhi ketentuan perbankan.

Terkait program tersebut, PNM VC dalam waktu dekat ini akan menjaring pelaku UKM industri kreatif di empat kota besar yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali. Pasalnya, kota-kota ini sangat terkenal sebagai pusat industri kreatif.

“Setelah melakukan penjajakan dan menjaring calon PPU di Jakarta bulan lalu, kini giliran di Bandung. Seperti di Jakarta, kami pun sangat optimistis mendapat respons positif di Bandung sabagai kota kreatif. Kegiatan ini didahului dengan gathering sosialisasi yang diselenggarakan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Denpasar. Bagi UKM dari Bandung, pengajuan aplikasi untuk program ini ditunggu hingga 22 Februari 2013,” pungkasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Cargill Berikan Beasiswa Cargill Global Scholars - Dukung Mahasiswa Berprestasi

Cargill, kembali melanjutkan dukungannya kepada para mahasiswa berprestasi melalui program Cargill Global Scholars yang diselenggarakan  bekerjasama dengan Institute of International…

Minim Sentimen Positif Apa Maknanya - Oleh : Fauzi Aziz, Pemerhati Ekonomi dan Industri

Judul ini terinsipirasi oleh hal yang berkembang di pasar. Saat ini kita tahu bahwa pasar uang dan pasar modal tidak…

CIMB Niaga Syariah Dukung Pembangunan RS Hasyim Asyari

      NERACA   Jombang - Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) menyalurkan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

BRI Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Lion Air

      NERACA   Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) memfasilitasi pengelolaan keuangan Lion Air Group…

Kesadaran Masyarakat dalam Perencanaan Dana Pensiun Masih Rendah

  NERACA   Surabaya - Manulife Indonesia menyebutkan kesadaran masyarakat Indonesia dalam perencanaan dana pensiun masih rendah, karena dari total…