K- Link Indonesia Sumbang 60% Penjualan Produk Suplemen

Daya Serap Pasar Domestik Tinggi

Selasa, 19/02/2013

NERACA

Jakarta – Di tengah geliat pasar di Indonesia yang ditopang oleh tingginya konsumsi domestik akibat peningkatan jumlah kelas menengah yang begitu pesat, PT K-Link Indonesia berhasil menyumbangkan kontribusi 60% terhadap penjualan produk K -Link Group. Produk K-Link saat ini menjual obat obatan suplemen yang berguna kesehatan tubuh.

Presiden Direktur K-Link Indonesia, MD Radzi Saleh, mengungkapkan secara global, penjualan produk di Indonesia menyumbang 60% dari total omzet group, sedangkan Malaysia yang menjadi kantor pusat K-Link hanya menyumbang 20% penjualan dan sisanya terbagi di 48 negara lainnya.

Jumlah penduduk yang besar di Indonesia, menurut Radzi, menjadi faktor utama kontribusi penjualan K-Link Indonesia terbesar dibandingkan di negara lain. “Dibandingkan dengan Malaysia, jumlah penduduk Malaysia hanya 27 juta jiwa, sedangkan Indonesia mencapai 240 juta. Jumlah penduduk tersebut merupakan pangsa pasar yang besar bagi penjualan produk K-Link dan kami optimistis penjualan produk K-Link Indonesia akan tetap memimpin penjualan secara global,” papar Radzi disela - sela memberikan bantuan korban banjir di Petamburan Jakarta Barat, akhir pekan lalu.

Saat ini jaringan K-Link, lanjut Radzi, sudah ada di 50 negara di dunia baik dengan konsep kantor cabang maupun stockist. K-Link menjual sekitar 68 jenis produk dengan Klorofil sebagai produk andalannya.

“Tahun ini omzet penjualan K-Link Indonesia ditargetkan mencapai Rp1,2 triliun, meningkat 10% dari realisasi penjualan tahun lalu sebesar Rp1 triliun. Sedangkan omzet penjualan K-Link Indonesia per bulan pada tahun ini diproyeksikan mencapai Rp80 miliar, menigkat dari tahun sebelumnya sebesar Rp70 miliar per bulan,” ujarnya.

Tambah Stockist

Radzi menambahkan, K-Link akan menambah jumlah stockist di seluruh Indonesia. Saat ini K-Link sudah memiliki 239 stockis di seluruh Indonesia dan sebanyak empat kantor cabang yang ada di Medan, Makassar, Sorong dan Kupang.

“Fokus pada tahun ini adalah berpromosi ke Kawasan Timur Indonesia, kami sudah membuka cabang di Sorong dan Kupang. Masalah utama di Indonesia Timur adalah transportasi, sehingga kantor cabang baru ini bisa mengurangi masalah tersebut,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama,Radzi mengungkapkan K-Link Internasional yang merupakan perusahaan suplemen dengan sistem pemasaran bertingkat (MLM) akan merelokasi pabrik dari Malaysia ke Indonesia secara bertahap hingga 2014, dengan investasi awal Rp280 miliar. "Setelah lebih dari 10 tahun beroperasi di Indonesia, K-Link memutuskan untuk melakukan investasi pembangunan sentra produksi di Sentul, Bogor, Jawa Barat," kata Radzi.

K-Link, kata dia, telah membeli lahan seluas 18.000 meter persegi untuk membangun sentra produksi suplemen makanan dan minuman. Pada tahap awal, pihaknya akan investasi sebesar Rp280 miliar untuk pembangunan pabrik tersebut.

Dikatakannya, sentra produksi yang akan dibangun di Indonesia itu merupakan relokasi dari pabrik di Malaysia. Relokasi pabrik, kata dia, dilakukan karena lokasi Indonesia yang sangat strategis untuk ekspor ke negara-negara di kawasan ASEAN. "Ongkos produksi dan bahan baku di Indonesia juga dinilai relatif lebih murah dibandingkan Malaysia,” ujar Radzi.

Menurut dia, pabrik tersebut akan memproduksi jenis suplemen makanan dan minuman seperti UIE K-Liquid Chlorophyll, Gamat, Kinotakara dan K-Liquid Organic Spirulinae. Pabrik itu juga akan memberi lapangan kerja kepada 1.000 orang.

Sebelum membangun sentra produksi, K-Link telah membangun basis perkantoran dan manajemen sistem pemasaran di K-Link Tower, Jakarta dengan nilai investasi Rp300 miliar. Pihaknya juga akan membangun basis pergudangan terbesar di jajaran jaringan K-Link Internasional, pada 2012. Gudang terbesar yang akan menampung lebih dari 30 juta unit stok produk itu akan berada di kawasan Industri Sentul, Jawa Barat.

K-Link Indonesia sudah memiliki 2 juta anggota di dalam negeri pada tahun 2009. Radzi menargetkan tahun ini anggota K-Link mencapai 5 juta orang.

Bahan Baku Lokal

Sementara itu Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Benny Wahyudi mengatakan, berharap K-Link memanfaatkan sebanyak mungkin bahan baku dari Indonesia dalam proses produksi suplemen, mengingat negeri ini kaya sumber daya alam di bidang agro. "Bahan baku yang dibutuhkan oleh K-Link mudah didapatkan di Indonesia. Produk yang dihasilkan akan memberikan nilai tambah dan memiliki daya saing yang tinggi," ujar Benny.

Diakuinya industri berbasis agro mulai berkembang di Indonesia. Relokasi K-Link, lanjut dia, merupakan salah satu bukti bahwa Indonesia merupakan negara tujuan investasi. "Hal itu menunjukan bahwa pasar di dalam negeri juga terus berkembang. Pemerintah menyambut baik rencana relokasi tersebut dan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan industri agro," ujarnya.