Minati Program Mobil Murah, 50 Investor Siap Bangun Pabrik

NERACA

Jakarta - Program pemerintah untuk mobil murah dan ramah lingkungan atau Low cost and green car (LCGC) rupanya menarik perhatian para investor. Pasalnya di tahun ini, 50 investor industri komponen tier I dan tier II telah menyatakan minatnya untuk membangun pabrik di dalam negeri. Investasi tersebut akan memberikan nilai tambah bagi industri otomotif.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan ada sekitar 50 investor yang sudah berminat untuk ikut mengembangkan program LCGC ini. Akan tetapi Hidayat juga mengingatkan kalau tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk produk mobil murah dan ramah lingkungan atau low cost and green car (LCGC) mencapai 80% dan mendorong investasi komponen di Indonesia.

“Untuk produk LCGC 80% harus menggunakan 80% komponen yang diproduksi dari dalam negeri. Hal tersebut akan membuat biaya produksi mobil menjadi lebih murah,” kata Menteri Perindustrian M.S Hidayat pada acara Kadin Friendly Golf Tournament 2013 dan program pengembangan program P3DN di Jakarta, akhir pekan lalu.

Penggunaan komponen dari dalam negeri, menurut Hidayat, membuat investor akan menanamkan modalnya di Indonesia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin, Budi Darmadi, mengatakan diharapkan beberapa Agen Pemegang Merek (APM) menjadi pelopor pengembangan industri komponen berdaya saing tinggi serta memberikan perhatian pada peningkatan penguasaan kemampuan teknologi.

“Pengembangan research and development dan sumber daya manusia baik di pabrik maupun bengkel kendaraan bermotor perlu dilakukan agar menghasilkan sumber daya yang berkualitas. Pemerintah berharap APM dapat meningkatkan nilai kandungan komponen dalam negeri,” ujarnya.

Budi menambahkan, pengembangan sumber daya alam harus dilakukan agar industri otomotif dalam negeri memiliki keunggulan dibandingkan negara lain. Untuk TKDN, diharapkan terus mengalami peningkatan seiring dengan pengembangan model-model baru dalam industri perakitan kendaraan bermotor.

“Sumber daya alam yang berkualitas akan membuat industri otomotif dalam negeri mempunyai daya saing dengan negara lain. APM diharapkan dapat menggunakan TKDN yang besar dengan membuat produk-produk baru,” kata Budi.

Dalam kesempatan yang sama,Budi juga mengungkapkan pengembangan LCGC, APM seperti PT Toyota Astra Motor (TAM), PT Astra Daihatsu Motor (ADM), PT Honda Prospect Motor (HPM), PT Suzuki Indomobil dan PT Nissan akan menanamkan modalnya dan total investasi mencapai US$ 2,2 miliar serta US$ 2,2 miliar bagi industri komponen, kata Budi.

Penyerapan tenaga kerja dari program LCGC yang menyasar kalangan menengah ini, menurut Budi, diperkirakan mencapai ribuan orang, yang meliputi industri perakitan dan purna jual. "Sebanyak 7.000 tenaga kerja pada industri perakitan akan terserap jika program LCGC berjalan. Untuk industri perakitan bisa menyerap 8.000 tenaga kerja dan 10.000 tenaga kerja bagi `after sales service` (layanan purna jual)," paparnya.

Para calon pemodal yang akan masuk ke proyek LCGC, lanjut Budi, tidak akan menggarap segmen 1.000 cc ke bawah yang saat ini sudah dihuni para prinsipal kendaraan bermotor Indonesia. "Produk LCGC memiliki kriteria mesin 1.000 cc sampai dengan 1.200 cc dengan konsumsi bahan bakar 1 liter bensin dapat menempuh jarak 22 kilometer. Sedangkan kapasitas penumpang mobil tersebut didesain untuk mengangkut empat orang dengan mengadopsi teknologi yang memenuhi standar emisi Euro II dan III serta dilengkapi aksesoris di antaranya mesin penyejuk ruangan (AC/air conditioner)," ujarnya.

Dorong P3DN

Di tempat yang sama, Ketua Kadin Golf Club (KGC), Soeharsojo memaparkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong program Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menghentikan serbuan produk impor.

“Kami ingin menyatukan semua pihak baik pengusaha pusat dan daerah dengan pemerintah dalam mendukung P3DN. Serbuan produk impor bisa dihentikan dengan peningkatan pemakaian produksi dalam negeri,” kata Soeharsojo.

Sebagai satu-satunya payung dunia usaha di Indonesia, menurut Soeharsojo, Kadin Indonesia terus berupaya memperbaiki iklim dunia usaha dengan melakukan sinergi bersama stakeholder lainnya seperti pemerintah, mitra bisnis asing, serta pelaku usaha nasional.

“Kadin terus meningkatkan perannya dalam upaya menjalin kemitraan bersama stakeholder dengan menginisiasi pameran yang mendorong kemajuan dunia usaha di Indonesia yang mendukung program P3DN dan mendorong peningkatan investasi ke dalam negeri,” pungkasnya.

Related posts