Mengikis Image Buruk High Cost Economy di Pelabuhan

Komitmen Transformasi Pelindo II

Selasa, 19/02/2013

Jakarta – Pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia, rupanya memberikan dampak positif pada meningkatnya lalu lintas bongkar muat di pelabuhan. Kendatipun, dampak krisis ekonomi global juga mempengaruhi ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, rupanya menjadi pusat perhatian dunia dan hal ini tentunya menjadi tantangan dan kesempatan untuk memperkuat dan melakukan modernisasi infrastruktur pelabuhan.

Tingginya biaya pengiriman logistik yang dibebankan kepada konsumen menjadi masalah klasik lantaran tidak adanya efisiensi saat bongkar muat di pelabuhan. Padahal keberhasilan dalam perdagangan global dapat tercapai bila sebuah perusahaan dan atau negara memiliki kemampuan untuk bergerak melewat lintas batas dengan cepat, andal, dan murah.

Wakil Ketua Komite Tetap Intermoda dan Logistik, Anwar Satta pernah bilang, mengantisipasi liberalisasi dan dan integrasi logistik ASEAN, pemerintah harus segera melakukan pembenahan dan penambahan infrastruktur. Pasalnya, infrastruktur yang ada saat ini masih rendah dan belum cukup mampu menghadapi aktivitas logistik yang cukup tinggi di pelabuhan.

Hal itulah yang menyebabkan membengkaknya biaya logistik nasional. “Kendala infrastruktur ini yang menyebabkan mahalnya biaya logistik sehingga komoditi ekspor masih sulit bersaing di pasar global,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartoto, kunci penurunan biaya logistik pada sektor angkutan laut ada di pelabuhan.

Menurutnya, selama ini buruknya fasilitas pelabuhan kontainer dan kargo general seperti lapangan penumpukan, dermaga dan alat bongkar muat yang terbatas, akses keluarmasuk pelabuhan, hingga masalah buruh dan penaikan tarif menjadi sumber utama mahalnya biaya logistik.

Setidaknya, ada 25 pelabuhan nasional yang perlu direstorasi dan pengoptimalan pelayanan dan tidak hanya terfokus pada empat pelabuhan utama yang menangani ekspor-impor, yaitu pelabuhan Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar dan Medan. Karena pelabuhan-pelabuhan tersebut, perlu bekerja ekstra guna menghadapi liberalisasi dan integrasi logistik ASEAN, yaitu dengan pengoptimalan pelayanan selama 24 jam selama 7 hari.

Selain pembenahan dan penambahan infrastruktur, perlu diperhatikan pula sirkulasi barang dari sejak kapal sandar di dermaga hingga keluar pintu pelabuhan (dwelling time) di sejumlah pelabuhan Indonesia. Karena saat ini dwelling time di pelabuhan di Indonesia, untuk pengurusan administratif, bea cukai bisa sampai 6 hari. Hal ini tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Thailand misalnya, hanya membutuhkan waktu 5 hari, Malaysia 4 hari dan Singapura 1,1 hari

Maka untuk bisa bersaing dalam ekonomi global dan liberalisasi serta integrasi jasa logistik ASEAN di 2013, diperlukan percepatan pelayanan, khususnya dwelling time bisa diperpendek sekitar 3-4 hari. Dampak pembenahan infrastruktur dan efisiensi waktu dapat memangkas biaya logistik sebesar 10% dari sebelumnya yang mencapai 17-18%.

Tingkatkan Pelayanan

Semangat baru PT Pelabuhan Indonesia II (Pelindo) dalam transformasi pelabuhan, tidak hanya sebatas ganti logo baru IPC (Indonesian Port Corp) guna mendorong penguatan sektor perdagangan dan efisiensi biaya logistik nasional.

Direktur Utama Pelindo II Richard Joost Lino menuturkan, IPC sangat berperan penting sebagai penyedia jasa pelayanan pelabuhan di Indonesia. Kecepatan, efektifitas dan efisien menjadi prioritas utama dalam melayani para pengguna jasa pelabuhan."Kami menyadari IPC sebagai operator pelabuhan, memegang peranan penting dalam rantai logistik Indonesia. Oleh karena itu, kami harus bergerak lebih cepat, efektif, dan efisien dalam melayani kebutuhan para pelanggan atau pengguna jasa kepelabuhanan," jelasnya.

Sebagai bagian dari transformasi, Pelindo II telah memulai implementasi sistem tracking and tracing di pelabuhan yang di kelola. Kata Direktur Personalia dan Umum Pelindo II Cipto Pramono, sistem ini memudahkan pemilik barang dalam mengetahui informasi pengurusan barang secara real time dan akan mengefisiensikan sistem logistik di Indonesia.

Selain itu, Pelindo II juga tengah membentuk main-sea corridor atau National Pendulum untuk terciptanya sistem logistik terintegrasi. "Sistem ini akan memungkinkan distribusi barang dalam jumlah lebih banyak dengan kapal berkapasitas besar dalam waktu yang lebih singkat, sehingga mampu memeratakan pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah di Indonesia," ungkap Cipto.

Nantinya, koridor ini direncanakan melibatkan Pelabuhan Tanjung Priok, Belawan, Batam, Makassar dan Sorong sebagai pelabuhan utama untuk wilayah dari barat hingga timur Indonesia. Tidak hanya itu, Pelindo II sudah mengubah pola bongkar muat barang di pelabuhan menggunakan container crane dari sebelumnya bongkar muat barang dari kapal menggunakan derek kapal.

Pelindo II juga berupaya mendorong perubahan kemasan bongkar-muat barang dengan menggunakan peti kemas atau jumbo bag. "Kami tetap fokus pada peningkatan produktivitas pelabuhan dengan mengubah penanganan barang dari cara konvensional ke modern, kemudian penerapan layanan berbasis Information and Computer Technology (ICT) serta penurunan waktu bongkar-muat," kata Dirut Pelindo II, Richard Joost Lino.

Kondisi pelabuhan Teluk Bayur yang biasanya dalam waktu sejam hanya mampu melakukan bongkar muat sekitar 30 ton dengan pola kemasan lama. Sedangan, jika yang digunakan adalah jumbo bag kapasitas bongkar-muat bisa mencapai 60 ton per jam. Diharapkan strategi ini dapat meningkatan efektivitas waktu layanan menjadi 80%.

Pelindo II juga tidak lagi mengizinkan pembongkaran Crude Palm Oil (CPO) menggunakan truck loosing. Melainkan harus melalui tangki-tangki di dalam pelabuhan terlebih dulu baru kemudian didistribusikan. Tentunya, dengan perubahan pola kemasan itu diharapkan kegiatan bongkar-muat bisa mencapai 70 ton per jam yang sebelumnya hanya 45 ton per jam. Selain itu, Pelindo II sudah mulai mengoperasikan layanan kapal pandu dan tunda demi meningkatkan keselamatan kapal dan barang yang masuk dan keluar pelabuhan.

Modernisasi dan Revitalisasi

Modernisasi dan revitalisasi Pelindo tidak hanya meremajakan alat-alat di pelabuhan, seperti crane yang sudah tua. Tetapi juga menerapkan sistem Information Communication Technology (ICT) berbasis web secara online di seluruh cabang Pelindo. Lewat ICT ini, seluruh tahapan pelayanan mulai dari permintaan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga sistem pembayaran dapat direncanakan dan dikontrol melalui suatu sistem yang terintegrasi.

Manfaat utama sistem ICT adalah memangkas ongkos logistik yang tinggi dan bisa memonitor keberadaan barang. Karena selama ini, sistem tracking masih dilakukan sendiri-sendiri dan belum terintegrasi sehingga menyulitkan para pemain untuk memonitor sampai dimana aliran barangnya, “Adanya sistem terintegrasi online akan mempermudah akses bila ingin memesan barang atau yang lainnya, karena cukup lewat internet saja sudah bisa mendapatkan kepastian kapan kargo bisa diantar atau ada space tidak hari ini,”ujar Lino.

Mengaplikasikan sistem ICT dengan investasi Rp 150 miliar, tidakkah dilihat sebatas nilai angka tetapi jawaban Pelindo terhadap tuntutan untuk memangkas biaya mahal logistik dan distribusi barang. Langkah ini dinilai akan mendatangkan nilai ekonomis yang jauh lebih mahal karena mampu meningkatkan efisiensi, mengurangi waktu tunggu dan biaya mahal bongkar muat kapal.

Revitalisasi pelabuhan juga dilakukan PT Pelindo III yang mendatangkan dua unit Luffing Crane dan tujuh unit Harbour Mobile Crane (HMC), sebuah alat bongkar muat khusus peti kemas dengan nilai investasi Rp 1,3 triliun. Nantinya, HMC akan ditempatkan di Terminal Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak.

Tingkatkan Mutu SDM

Transformasi Pelindo tidak hanya berhenti dengan pengembangan penerapan teknologi tinggi dan pembenahan infrastruktur sarana dan prasarana pelabuhan. Karena masih ada indikator lain yang harus dicapai, diantaranya adalah peningkatan mutu SDM. Pasalnya, apalah artinya pembenahan sarana dan prasarana infrastruktur tanpa di imbangi kualitas mutu SDM.

Secara organisastoris, peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) Pelindo menjadi kunci utama menggerakkan roda perusahaan. Oleh karena itu, transformasi tidak bisa dipisahkan dengan pengembangan SDM menuju tenaga professional.

Sebagai bentuk pengembangan SDM, Pelindo bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan program pendidikan, penelitian, pelatihan bidang perencanaan dan manajemen operasional kepelabuhanan dan logistik, material handling equipment, perkapalan, rekayasa pantai, serta pengimplementasian program corporate social responsibility (CSR).

Kerja sama ini dirancang untuk memberikan pelayanan jasa kepelabuhanan yang terbaik melalui berbagai inovasi dan pembangunan, termasuk peningkatan sumber daya manusia di internal perusahaan. “Perusahaan berkomitmen untuk selalu memfasilitasi para karyawan IPC mengembangkan ilmu yang sesuai dengan standar layanan kepelabuhanan internasional,” ujar Richard J Lino.

Di samping itu, Pelindo II mengubah sistem promosi karyawan dari berdasarkan senioritas menjadi berpedoman pada prestasi. Maka diharapkan dengan peningkatan mutu SDM, akan menjadikan Pelindo makin berproduktif menghadapi persaingan ketat perdagangan bebas. Maka bila semuanya sudah terpenuhi, transformasi Pelindo bisa menuju world class company.