free hit counter

Panen Udang Vaname Hasil Diseminasi Diharapkan Picu Animo Petambak

Produksi Perikanan Budidaya Meningkat

Selasa, 19/02/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku terus melakukan berbagai upaya untuk peningkatan produksi udang. Melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Budidaya, KKP telah mengimplementasikan teknologi budidaya udang anjuran di beberapa daerah. Diantara yang cukup berhasil atas program tersebut adalah budidaya udang vaname di kampung Selatif, Desa Lontar, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebijakto, menjelaskan, panen udang di desa Kemiri tersebut merupakan panen tahap kedua. Dimana pada tahap pertama bulan Januari lalu mampu menghasilkan produktivitas yang cukup baik bahkan telah melampaui target yang diharapkan. Dimana dari target sebesar 6 ton/ha pada kenyataannya mampu menghasilkan produksi sebesar 6,7 ton/8.000 m2.

“Saya mengapresiasi kerja keras dan kerjasama yang baik dari semua pihak khususnya Tim dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara atas hasil memuaskan yang telah dicapai selama ini. Apalagi menurut pendapat beberapa pihak dan testimoni dari masyarakat kondisi tambak di desa Lontar mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi,” kata Slamet seperti dikutip dari siaran persnya, Senin (18/2).

Slamet mengatakan, keberhasilan tambak percontohan di desa Lontar ini merupakan upaya untuk memberikan bukti nyata terhadap masyarakat pembudidaya bahwa melalui penerapan teknologi anjuran bukan tidak mungkin kejayaan udang nasional akan kembali bangkit. Diharapkan dengan keberhasilan percontohan ini akan kembali menumbuhkan animo masyarakat untuk kembali terjun berbudidaya udang.

Program ini juga diharapkan akan menjadi embrio bagi pengembangan usaha budidaya udang khususnya di Pantura Banten dan umumnya di Pantura Jawa. “Keberhasilan panen udang ini memberi dampak positif bagi masyarakat Tangerang. Apalagi, desa ini pernah mendapatkan serangan virus mematikan tahun 1999 yang menghancurkan areal pertambakan udang hingga menimbulkan trauma pada masyarakat,” ujarnya.

Slamet memaparkan, lahan percontohan dengan luas total sekitar 4 hektar tersebut, dikelola secara langsung oleh Ditjen Perikanan Budidaya. Dimana penanggungjawab pelaksana teknis dalam hal ini adalah BBPBAP Jepara. Lahan dikelola dengan menerapkan teknologi semi intensif dengan pola manajemen klaster (close system) serta plastikisasi mulsa.

Pola ini akan menjadikan lingkungan budidaya lebih stabil dan terkontrol sehingga tetap pada kisaran parameter yang sesuai dengan kebutuhan biologis udang. “Selain itu penerapan biosekuriti dilakukan secara maksimal sebagai bentuk upaya pencegahan terhadap penyebaran hama dan penyakit udang,” paparnya.

Industrialisasi Budidaya

Menurut Slamet, perikanan budidaya saat ini menjadi barometer utama dalam menopang pembangunan perikanan nasional. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi Ditjen Perikanan Budidaya dalam mewujudkan Perikanan Budidaya sebagai ujung tombak dalam menggerakan perekonomian nasional dan ketahanan pangan masyarakat. Dalam upaya mewujudkan harapan besar tersebut, maka diperlukan sebuah kebijakan strategis yang terimplementasi secara nyata melalui kerjasama sinergi dari seluruh stakeholders pelaku perikanan budidaya.

“Langkah nyata yang sedang ditempuh adalah melalui implementasi kebijakan industrialisasi perikanan budidaya. Program ini merupakan kebijakan strategis dalam menggerakan seluruh potensi melalui pengelolaan yang arif dan bertanggungjawab, sehingga secara langsung akan berdampak terhadap peningkatan produksi dan produktivitas serta nilai tambah,” tegasnya.

Dijelaskannya, khusus untuk kegiatan industrialisasi udang, Ditjen Perikanan Budidaya melakukan revitalisasi tambak melalui perbaikan infrastruktur berupa saluran primer, sekunder dan tersier. Program ini diharapkan dapat meningkatkan performance kawasan pertambakan Pantai Utara Jawa, yang saat ini masih banyak mengalami kerusakan.

Dalam pemanfaatannya, untuk lebih mengoptimalkan lahan pertambakan tersebut KKP berupaya mengajak keterlibatan masyarakat pembudidaya, swasta dibidang perikanan budidaya, perbankan serta stakeholders lain untuk dapat bersinergi dalam upaya peningkatan produksi perikanan dengan nilai tambah dan mempunyai daya saing. “Kegagalan usaha budidaya udang yang pernah dialami petambak Pantura beberapa dekade yang lalu sebagai akibat pengelolaan budidaya yang tidak memegang prinsip sustainable dan ramah lingkungan,” tegasnya.

Slamet menambahkan, sebagai upaya awal untuk lebih memotivasi masyarakat pembudidaya dalam mengoptimalkan kembali lahan tambak di pantura Jawa tersebut, khususnya di provinsi Banten dan Jawa Barat. Ditjen Perikanan Budidaya sedang berupaya membuat model percontohan berupa demfarm seluas 1.000 Ha. Melalui penerapan teknologi anjuran berbasis good aquaculture practices, diharapkan model demfarm ini dapat berhasil dan menjadi embrio bagi percepatan pengembangan kawasan budidaya udang disekitarnya.

“Kita harus terus berupaya mewujudkan kembali masa kejayaan udang kita, dengan membuktikan bahwa melalui revitalisasi tambak dan penerapan bioteknologi dapat merubah kondisi usaha budidaya udang dari yang high risk menjadi measurable risk. Program secara langsung akan meningkatkan posisi tawar dan dukungan bagi pengembangan kapasitas usaha baik dari perbankkan maupun pihak swasta lainnya,” katanya.