Mencermati IHSG

Oleh : Prof. Firmanzah PhD

Staf Ahli Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Pada penutupan perdagangan pekan lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menjadi 4.609,79. Indeks ini merupakan rekor tertinggi dengan kenaikan sebesar 21.11 poin atau 0,46% dari level sebelumnya. Selain sektor pertambangan yang yang turun 0,63%, hampir semua sektor mengkontribusikan secara positif pergerakan indeks minggu lalu yaitu sektor keuangan dengan kenaikan sebesar 0,87%, consumer goods sebesar 0,84%, agriculture (0,73%), infrastruktur (0,59%), kontruksi dan properti (0,34%), perdagangan ( 0,28%) serta industri dasar sebesar 0,13%.

Beberapa faktor makro ekonomi baik dalam negeri dan luar negeri menjadi faktor pendorong tingginya IHSG pekan lalu. Terkait dengan kondisi ekonomi dalam negeri, tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2012 sebesar 6,23% turut memberikan dampak positif kepada perolehan profit emiten di BEI. Selain itu juga, meningkatknya sejumlah indikator seperti indeks kepercayaan dan keyakinan konsumen juga memberikan sentiment positif kepada investor. Trend ini juga diteruskan pada 2013 dengan terus menguatnya daya beli masyarakat, investasi dan percepatan pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia.

Arah pergerakan IHSG juga mengikuti arah positif mayoritas bursa di Asia. Selain itu juga, ekonomi nasional juga masih tetap menjadi pusat perhatian dunia ketika sejumlah rilis ekonomi di Eropa dan Jepang menunjukkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal IV/2012, ekonomi Eropa terkontraksi sebesar 0.6%. Sehingga sepanjang 2012, ekonomi Eropa terkontraksi sebesar 0,5% mengikuti pelemahan ekonomi terbesar Eropa yaitu Jerman dan Perancis. Selain itu, Jepang juga melaporkan ekonominya pada kuartal IV/2012 mengalami kontraksi sebesar 0,1%.

Melemahnya ekonomi di sejumlah negara maju berpotensi membuat perekonomian nasional terganggu. Dari Januari-Desember 2012, nilai ekspor Indonesia menurun sebesar 6,61% dan menjadai US$ 190.04 miliar. Namun, kita beruntung bahwa ekonomi nasional sangat ditopang oleh kekuatan konsumsi domestik. Data BPS menunjukkan kontribusi belanja rumah tangga terhadap PDB sangat dominan dengan 54,56%. Keseimbangan antara percepatan pembangunan infrastruktur dan investasi dengan ketersediaan pasar domestik membuat perekonomian Indonesia masih terus memberikan insentif positif kepada para investor.

Namun, kita juga perlu mewaspadai tren laju peningkatan IHSG akhir-akhir ini. Trend positif ini perlu selalu dikorelasikan dengan laju pertumbuhan dan peningkatan kualitas sektor riil di Indonesia. Hal ini untuk menghindari saham-saham yang cenderung overvalued dan terhindar dari bubble-economy dalam jangka panjang. Namun dengan peningkatan investasi di sektor riil dimana sepanjang 2012, menurut BKPM, total realisasi investasi di Indonesia mencapai di atas Rp. 313 triliun maka laju pergerakan IHSG terkorelasi, langsung atau tidak langsung, dengan pembangunan di sektor riil.

BERITA TERKAIT

Inflasi

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Harga bawang putih mulai meroket di pekan kedua…

Mendesak, RUU Keamanan dan Ketahanan Siber

  Oleh: Stanislaus Riyanta Mahasiswa Doktoral bidang Kebijakan Publik UI   Di era Industri 4.0 saat ini sudah menjadi tuntutan…

Apa itu Simpel?

Oleh: Sigit Reliantoro Sekretaris Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Istilah Simpel adalah berupa Sistem Pelaporan Elektronik Lingkungan Hidup. Artinya,  sebuah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Coast Guard, KPLP dan Bakamla?

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN)   Penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard…

Akselerasi Industri Halal

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sejak UU No 33 Tahun 2014  tentang Jaminan Produk Halal dilaksanakan mulai 17…

Inflasi

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Harga bawang putih mulai meroket di pekan kedua…