Upaya Mencegah Artritis Rematoid

Inovasi Tocilizumab

Sabtu, 23/02/2013

Selama 10 tahun terakhir, telah terjadi perkembangan signifikan di bidang pengobatan terhadap penyakit Artritis Rematoid (AR). Kini inovasi Tocilizumab sebagai agen yang mampu menghambat IL-6, protein tubuh yang berperan dalam reaksi peradangan dan menjadi kunci mediator kerusakan sendi dan efek sistemik pada penyakit AR telah hadir dan terbukti memberikan hasil yang positif bagi pasien Artritis Rematoid di Indonesia.

Hal ini terlihat dari hasil studi klinis Picture INA, yang dilakukan atas kerjasama Indonesian Rheumatology Association (IRA) dengan Roche Indonesia. Seluruh pasien yang mengikuti studi klinis tersebut mencapai sasaran akhir pengobatan AR yaitu remisi. Melanjutkan keberhasilan Picture INA, PT Roche Indonesia bersama IRA kembali memprakarsai studi klinis ACT UP dengan RS Kariadi Semarang sebagai salah satu pusat studinya.

“Meskipun tergolong ke dalam penyakit rematik, Artritis Rematoid bukanlah penyakit sendi biasa. Penyakit AR merupakan penyakit autoimun, membuat penderitanya merasakan nyeri tiap saat, kelelahan, depresi serta meningkatkan risiko penyakit jantung. Jika tidak segera mendapatkan pengobatan yang tepat, pasien AR dapat mengalami kecacatan dan berujung pada kerusakan sendi, karena itu deteksi dini juga menjadi salah satu kunci keberhasilan pengobatan AR,” terang dr. D. Sudarsono, SpPD-KR, spesialis reumatologi RS Kariadi, Semarang.

Hadirnya studi klinis ACT UP di Semarang semakin memperluas kesempatan pasien Artritis Rematoid di Semarang untuk mengakses pengobatan yang tepat. Studi klinis ACT UP kami lakukan untuk mengamati pola penggunaan Tocilizumab dalam praktek klinis pada pasien AR sesuai dengan indikasi yang disetujui di Indonesia.

Perekrutan pasien dalam studi ini dilakukan mulai bulan Maret 2012 pada 9 titik pusat studi yang tersebar di Semarang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, Medan dan Denpasar, dengan total pasien hingga saat ini sebanyak 29 orang. Tahun ini perekrutan pasien masih dibuka sampai dengan bulan September 2013, sehingga pasien AR khususnya pasien AR di Semarang masih memiliki kesempatan untuk bergabung dan mendapatkan manfaat studi klinis ini, ungkap dr. Bantar Suntoko, SpPD-KR, Investigator Studi Klinis ACT UP Semarang.

Head of Medical Affairs PT Roche Indonesia, dr. Arya Wibitomo menjelaskan lebih lanjut mengenai kolaborasi Roche dan IRA dalam mengupayakan pengobatan tepat bagi pasien Artritis Rematoid. Roche dan IRA memulai kolaborasi dengan melakukan studi klinis Tocilizumab Picture INA di lima pusat studi dengan total 39 pasien. Hasil studi klinis tersebut menunjukkan bahwa 85% dari peserta studi mencapai remisi dalam 24 minggu dengan profil keamanan yang baik di mana efek serius paska pengobatan di bawah 5%. "Studi ini menunjukkan manfaat Tocilizumab bagi pasien Artritis Rematoid di Indonesia dengan efikasi tinggi dan profil keamanan yang toleran,” tuturnya.

Dengan penghambatan reseptor IL-6, Tocilizumab memiliki efek yang cepat, poten dan komprehensif dalam terapi Artritis Rematoid dengan efikasi dan tingkat remisi tinggi yang konsisten monoterapi yang unik dan superior dibandingkan dengan monoterapi MTX kombinasi unik dari respon klinik yang cepat dan efikasi yang meningkat dari waktu ke waktu penghambatan kerusakan sendi yang sangat baik efek sistemik yang unik profil keamanan yang dapat diprediksi dan ditangani.

Selain berkomitmen terhadap inovasi dalam perawatan kesehatan, Roche Indonesia juga memiliki visi untuk menyediakan pengobatan dan solusi inovatif yang dapat diakses oleh setiap pasien di Indonesia. Visi tersebut kami wujudkan salah satunya dengan bantuan pengobatan Tocilizumab bagi pasien Artritis Rematoid, melalui program Roche Patient Assistance Program (RPAP). "Dengan program bantuan ini, kami berharap masyarakat kurang mampu yang terkena AR bisa mendapatkan akses pengobatan yang optimal," tegas dr. Arya.