Menakar Ekspansi Bisnis Timah di Myanmar Selatan

Telan Investasi Rp 2 Triliun

Senin, 18/02/2013

NERACA

Jakarta –Meskipun proyeksi harga komoditas tahun ini masih terus terkoreksi, namun kondisi ini tidak membuat ciut PT Timah Tbk untuk ekspansi ke negara lain. Salah satu negara Asia yang tengah di bidik Myanmar.

Rencananya, ekspansi perseroan ke Myanmar akan melalui dua anak usahanya yang bergerak di bidang smelter dan pertambangan untuk menggarap lahan timah, “Jadi untuk pelaksanaan eksplorasi dan pengolahannya, kita akan bikin dua perusahaan, yang satu untuk mining (pertambangan) yang satu lagi smelternya," kata Direktur Utama PT Timah Sukrisno, di Jakarta akhir pekan kemarin.

Kata Sukrisno, nama anak usahanya yakni PT Timah Myanmar Mining yang bertanggung jawab di pertambangan dan PT Timah Myanmar untuk smelternya. Dimana kedua anak usaha ini, murni 100% penanaman modal asing dan bukan perusahaan patungan.

Rencananya, dua anak perusahaan tersebut mulai beroperasi tahun 2014. Satu tahun eksplorasi dan kemudian eksploitasi. Perseroan memiliki beberapa langkah sebelum memulai mengeksplorasi cadangan. "Saat ini, fokusnya adalah untuk memperoleh semua izin yang diperlukan dari pemerintah daerah sesuai dengan prosedur tambang mereka," jelasnya

Nantinua, setelah proses ini selesai, lanjut Sukrisno, menargetkan pada bulan Juli mendatang sudah bisa melakukan eksplorasi agar di tahun depan pihaknya bisa melakukan eksploitasi, “Myanmar di bulan Februari atau Maret perizinan selesai. Juli mudah-mudahan sudah bisa eksplorasi, kemudian tahun depan bisa kita mulai eksploitasi," tuturnya.

Batal Kerjasama PTBA

Selain itu, PT Timah Tbk (TINS) juga telah membatalkan kerjasama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Pasalnya, PLN akan memasok listrik sekira 25 megawatt (mw) ke Bangka Belitung, “Ya kerjasama dengan PTBA dibatalkan karena pertimbangannya PLN mau masuk ke sana," kata Sukrisno.

Dia menambahkan, pasokan listrik 25 mw untuk Kepulauan Bangka Belitung berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Api-api, Sumatera Selatan. Nantinya, PLTU tersebut akan dialirkan melalui kabel bawah laut berkapasitas 150 kilo volt. Nilai inventasi sebesar Rp1,3 triliun untuk pembangunan kabel dan transmisi dari Sumatera Selatan ke Bangka Belitung.

Diharapkan, dengan pasokan listrik tersebut dapat mempercepat Bangka Belitung mendapatkan listrik. Pasalnya, jika pihaknya membangun PLTU sendiri akan memakan waktu sekira 2,5 tahun. Sedangkan jika listrik tersebut dipasok PLN hanya dengan satu tahun Bangka Belitung akan teraliri listrik, “Rencananya pembangunannya 2,5 tahun, tapi dengan adanya pasokan listrik 25 mw di 2014 bisa lebih cepat," ungkapnya.

Asal tahu saja, Timah dulunya akan menggandeng Bukit Asam untuk membangun PLTU di kawasan industri Tanjung Ular Muntok, Kabupaten Bangka Barat. PLTU tersebut akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional pabrik tin chemical.

Sebagai informasi, rencana ekspansi Timah ke Myanmar Selatan juga sudah dilakukan PT Bukit Asam Tbk dan PT Telkom Tbk. Untuk investasi ekplorasi penambangan PT Timah Tbk di Myanmar, diproyeksikan akan mendekati angka Rp 2 triliun. Sejauh ini, pihak Myanmar memberikan peluang yang cukup terbuka bagi TINS untuk melakukan penambangan

Untuk pembagian keuntungannya, perseroan berharap pembagian profit sharing diharapkan bisa diperoleh persentase komposisi sebesar 80:20. Di samping melakukan pengembangan di Myanmar, saat inipun perseroan telah melakukan modifikasi kapal keruk yang dilengkapi dengan pipa isap untuk memudahkan proses operasional dalam penambangan dengan nilai investasi sebesar Rp217 miliar. (bani)