BKPM Ingatkan Dampak Buruk Impor Migas

Beban Neraca Pembayaran Makin Berat

Senin, 18/02/2013

NERACA

Jakarta – Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengingatkan dampak yang harus diterima dalam kaitannya dengan melonjaknya impor minyak dan gas (migas) yang telah terbukti membebani neraca pembayaran dan neraca perdagangan luar negeri Indonesia.

“Yang perlu dikhawatirkan adalah impor migas. Subsidi BBM yang ada telah mendistrosi harga. Seperti yang saya tulis, akan tekanan pada BOP. Sekarang terbukti. Soal ini harus diselesaikan, kalau tidak neraca pembayaran akan terbebani terus,” kata Kepala BKPM M. Chatib Basri dalam kicauannya di akun twitter @ChatibBasri seperti dikutip Neraca, Minggu (17/2).

Akan tetapi, lanjut Chatib dalam timeline-nya itu, kenaikan realisasi penanaman modal asing (PMA) pada triwulan III dan IV pada tahun lalu membuat neraca pembayaran Indonesia masih surplus. “Untungnya, di neraca modal, PMA meningkat tajam sekali di triwulan 3 dan 4. Akibatnya neraca pembayaran masih surplus,” tambahnya.

Dia, sekali lagi, menegaskan kenaikan PMA yang sangat tajam menjadi berkah tersendiri di tengah membesarnya impor migas yang memicu defisit neraca perdagangan. “Kenaikan PMA yg tajam sekali. Konsisten dengan realisasi investasi BKPM. Ini artiinya dunia memang mengarahkan investasinya ke kita. RI punya kesempatan luar biasa. Peluang ini tidak boleh disia-siakan. Reformasi birokrasi, upaya mengurangi korupsi, perbaikan infrastruktur harus terus dan tak boleh mengendur,” tandasnya di akun tersebut.

Chatib juga mengulas mengenai kekhawatiran stabilitas ekonomi kaitannya dengan meningkatnya defisit transaksi berjalan. “Defisit transaksi berjalan RI meningkat tajam. Dan ini menimbulkan banyak pertanyaan soal apakah stabilitas ekonomi kita akan terganggu. Saya kira kita harus melihat ini dengan hati-hati,” tulis Dede, sapaan akrab Chatib Basri.

Menurut dia, defisit transaksi berjalan disebabkan oleh ekspor yang lemah dan impor yang naik tajam. “Pelemahan ekspor disebabkan karena jatuhnya harga komoditi. Artinya ke depan diversifikasi harus dilakukan, RI tak boleh hanya bergantung SDA. Dari sisi impor, kenaikan impor didorong oleh kenaikan impor barang modal dan bahan baku, serta migas,” kata dia.

Kemudian, lanjut Dede, kenaikan impor barang modal dan bahan baku dalam jangka menengah akan menghasilkan output. “Artinya tidak perlu terlalu dikhwatirkan. Walau tentunya dalam jangka panjang kita harus meningkatkan kemampuan kita dalam produksi barang modal dan bahan baku sendiri--mengisi hollow middle,” sebutnya.

Tekan Impor

Neraca perdagangan Indonesia pada 2012 tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1,63. Defisit antara lain dikarenakan peningkatan impor minyak dan gas. Pada 2012, impor migas tercatat US$ 42,56 miliar atau meningkat dibandingkan 2011 yang US$ 40,7 miliar.

Itu sebabnya, pemerintah berpendapat perlu ada penyikapan yang tegas atas harga BBM sebagai upaya mengurangi impor minyak. Soalnya, meningkatnya defisit transaksi berjalan dewasa ini sangat ditentukan oleh tingginya impor minyak tersebut. "Impor migas menyebabkan defisit sebesar US$ 4,8 miliar, angka yang sebelumnya tidak pernah kejadian. Ini mungkin karena konsumsinya tinggi dan juga harga minyak dunia yang tinggi di awal tahun," kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, belum lama ini.

Menurut dia, tingginya impor migas tersebut membuat surplus di neraca perdagangan non-migas seakan tak berarti, padahal surplus tersebut mencapai US$ 3,5 miliar selama 11 bulan pertama 2012. "Saya kira, kita sebetulnya bisa berharap neraca non-migas surplus terus pada 2013 ini. Tapi kalau konsumsi (migas) begini terus, harganya pun begini terus, tanpa ada penyikapan mengenai harga (BBM), ini bisa membuahkan defisit di neraca migas 2013," imbuh Gita.

Gita masih menaruh harapan adanya koreksi harga minyak di tahun 2013 sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan. Namun ia sendiri masih belum dapat memperkirakan seberapa besar kemungkinan tersebut. "Saya tidak dalam posisi memberikan prediksi kemana arah (harga minyak internasional)," jelas Gita.

Di pihak lain, menurut Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, pemakaian BBM pembangkit listrik akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. "Pada 2012, porsi volume BBM pembangkit dalam bauran energi masih 15 persen, namun tahun ini ditargetkan turun jadi 10 persen," katanya.

Dia menjelaskan, pada 2013, porsi BBM dalam bauran energi ditargetkan turun menjadi 49% dari sebelumnya 38% di tahun 2012. Menurut Jarman, penurunan pemakaian BBM pada 2013 sebagian besar akan diganti batubara setelah proyek 10.000 MW tahap pertama beroperasi.

Sepanjang 2013 ini, porsi batubara dalam bauran energi direncanakan 57% atau meningkat dari 2012 yang 44%. Secara nilai, porsi batubara diproyeksikan naik dari 32% menjadi 35% di 2013. Jarman mengatakan, pada 2014, porsi volume BBM pembangkit ditargetkan turun lagi menjadi empat persen dan tinggal tiga persen di 2015.

Di pihak lain, pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro mengatakan, pemerintah harus meningkatkan produksi minyak mentah dan pembangunan kilang untuk mengatasi defisit dalam jangka menengah hingga panjang.

Dijelaskan Komaidi, peningkatan impor terutama BBM memang tidak terhindarkan karena peningkatan kebutuhan BBM transportasi dan keterbatasan produksi kilang dalam negeri. "Karena itu, pemerintah harus serius melaksanakan program peningkatan produksi sekaligus kapasitas kilang tersebut," ungkapnya.