Bursa Indonesia Jangan Hanya Jadi Lahan Cari Untung Asing

Perkuat Investor Lokal

Senin, 18/02/2013

NERACA

Jakarta- Dominasi investor asing dalam transaksi perdagangan di pasar saham dinilai merupakan peluang besar bagi pihak otoritas untuk mampu menggaet pemodal besar guna mendukung perkembangan bursa efek Indonesia.

Dengan demikian, bursa Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi lahan cari untung bagi investor asing dan rentan terjadinya capital outflow. “Tantangan bagi pihak otoritas saat ini adalah menarik para pemodal besar, utamanya asing yang banyak melakukan transaksi untuk mencatatkan sahamnya di bursa efek,”kata pengamat pasar modal, Aris Yunanto di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Aris, sejauh ini pihak asing hanya melakukan transaksi dan mengambil keuntungan di pasar modal Indonesia sebagai investor. Karena itu, dengan adanya kerja sama antara pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) diharapkan dapat membawa pemodal besar atau pihak asing tersebut yang memiliki saham di perusahaan Indonesia, namun perusahaan tersebut belum mencatatkan sahamnya melalui penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). “Dengan beralihnya tugas dan fungsi pengawasan seharusnya dapat menjadikan pasar modal menjadi lebih menarik ke depan.” ujarnya.

Untuk menjadikan pasar saham Indonesia menarik, lanjut dia, yaitu dengan menciptakan sentimen positif. Salah satunya dengan penyelesaian proses kasus ataupun permasalahan secara cepat, seperti dengan membuat ketentuan mediasi secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, tidak memberikan keistimewaan pada kelompok-kelompok atau perusahaan tertentu. “Pada saat ada sesuatu yang abu-abu, OJK sebaiknya harus berani turun ke lapangan.”tegasnya.

Belum Menarik

Hal senada juga diungkapkan pengamat pasar modal, Budi Frensidy. Sejauh ini pihak otoritas dapat mendorong perusahaan-perusahaan asing yang berdomisili di Indonesia untuk mencatatkan sahamnya (listed). Pasalnya, di awal berdirinya bursa efek, ada sebanyak 23-24 perusahaan yang listing merupakan perusahaan asing. “Ada beberapa yang belum listing, seperti Freeport atau bank-bank asing yang berbadan hukum Indonesia yang bisa didorong untuk listing.”tandasnya.

Dirinya menilai, sejauh ini Indonesia belum punya nama untuk menarik perusahaan-perusahaan asing tersebut. Dari sisi nilai kapitalisasi pasar misalnya, masih cukup kecil. Selain itu, jumlah investor tidak sebanyak di luar. Karena itu, diperlukan pertambahan jumlah emiten dengan nilai kapitalisasi pasar dan investor yang melakukan transaksi di pasar saham.

Sementara analis dari Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, asing lebih memilih untuk memutarkan dananya di pasar saham. Karena dengan main atau putarkan dana investasi di bursa lebih cepat balik modalnya dan tahap awal yang dibutuhkan hanya membuka account di perusahaan sekuritas.

Meskipun demikian, potensi untuk menarik pemodal besar, seperti dari pihak asing sangat dimungkinkan. Karena banyak perusahaan asing yang mencatatkan sahamnya secara dual listing atau di dua negara untuk mengembangkan dananya, seperti Singapura dan London misalnya.

Namun, untuk menarik perusahaan asing agar mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia, lanjut dia, sejauh ini hal tersebut terbentur adanya ketentuan yang memungkinkan perusahaan bisa masuk ke bursa efek Indonesia sebagai perusahaan tercatat merupakan perusahaan yang berbentuk perseroan, sedang untuk mendirikan perseroan di Indonesia tidak mudah. Perusahaan-perusahaan kerap kali terhalang oleh perusahaan birokrasi yang rumit untuk mengurus permasalahan administrasi.

Berdasarkan data BEI, investor asing melakukan akumulasi beli bersih awal tahun 2013 senilai Rp9,43 triliun. Sedangkan pada perdagangan saham pekan lalu tercatat investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp157,3 miliar.

Menurut Direktur Utama BEI Ito Warsito, investor asing yang masih menempatkan dananya di pasar modal domestik menunjukkan kepercayaan terhadap industri yang masih positif. “Sepanjang 2013 ini asing membukukan beli bersih di pasar saham domestik lebih dari Rp5 triliun, berarti ada kepercayaan dari asing untuk terus berinvestasi di Indonesia,”tuturnya. (lia)