Korea Berminat Bangun Pabrik Petrokimia di Cilegon

Senin, 18/02/2013

NERACA

Jakarta – Salah satu perusahaan produsen bahan baku petrokimian asal Korea Selatan Lotte Petrochemical menyatakan minatnya untuk membangun pabrik di Cilegon, Jawa Barat. “Ada investor dari Korea Selatan yang telah menyatakan minatnya untuk mendirikan bahan baku petrokimia seperti Polyethylene dan Polypropylene seluas 100 hektar di Cilegon, Jawa Barat,” ungkap Direktur Jenderal Bina Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Panggah, investor asal Korsel tersebut akan menginvestasikan dana sekitar US$5 miliar. Namun demikian, kata Panggah, belum ada kepastian kapan waktu perusahaan tersebut akan membangun pabriknya. “Investasinya mencapai US$5 miliar. Untuk starting tergantung dari finishing persoalan legal dan mudah-mudahan bisa segera diselesaikan, sehingga bisa segera dimulai. Kalau kita sih berharap agar lebih cepat bisa lebih baik,” tuturnya.

Terkait dengan pembangunan pabriknya, lanjut dia, paling tidak memakan waktu sekitar 4 tahun. Nantinya, jika telah beroperasi, perusahaan ini kemungkinan besar akan menggandeng mitra lokal dalam negeri. “Mereka lagi mencari. Bisa pertamina atau lokal partner yang lain,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah menyambut baik adanya investasi ini. Pasalnya, jika terealisasi, impor bahan baku petrokimia yang selama ini mencapai US$ 6 miliar per tahun akan dapat ditekan hingga 20%. “Seperti polyethilyne, polyprophelyne, paraceline, polyctrien. Yang impornya mencapai US$ 5-6 miliar setiap tahunnya. Pentingnya proyek ini adalah itu akan memproduksi macam-macam bahan baku, sehingga tidak saja bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga ada sisa yang bisa diekspor. Dan ini juga bisa meningkatkan daya saing kita,” tandasnya.

Impor US$8 Miliar

Guna memenuhi permintaan dalam negeri akan petrokimia, Kemenperin memproyeksikan bahwa impor produk petrokimia 2013 akan mencapai US$ 8 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan perkiraan realisasi impor tahun ini pada kisaran US$ 6-7 miliar. “Kondisi itu setidaknya bakal berlanjut hingga 2-3 tahun ke depan,” ujar Panggah.

Menurut dia, Indonesia masih harus mengimpor petrokimia karena sesuai peta rencana pengembangan, proyek-proyek investasi yang sedang dikaji diproyeksikan baru bisa dinikmati tahun 2016-2017. Beberapa di antaranya dari kilang minyak dan petrokimia di Balongan (Jawa Barat) dan Tuban (Jawa Timur) dengan nilai investasi masing-masing US$ 8-9 miliar, yang akan dibangun Pertamina dengan Kuwait Petroleum Company dan Saudi Aramco.

Setiap tahun, kebutuhan produk petrokimia untuk industri hilir di Tanah Air naik sekitar 10%. Guna memenuhinya dari dalam negeri, pemerintah menawarkan sejumlah insentif di antaranya tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk barang modal atas impor mesin dan barang, serta bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri untuk penanaman modal.

Selain itu, infrastruktur juga harus dibangun guna mendukung industri petrokimia nasional. “Investor melihat Indonesia berpeluang besar. Seiring pertumbuhan ekonomi nasional, itu menjadi daya tarik bagi minat investor. Kemenperin akan mengawal minat-minat investasi ini,” katanya.

Panggah mengatakan, dengan membangun industri petrokomia nasional, Indonesia diharapkan bisa menjadi eksportir produk petrokimia. Tahun 2011, permintaan produk petrokimia nasional mencapai 4,42 juta ton, berupa ethylene, propylene, polyethylene, monoethylene, polypropylene, dan butadiene. Pasokan dari dalam negeri tercatat mencapai 3,35 juta ton, sehingga kekurangannya masih harus diimpor. Tahun 2016, permintaan petrokimia diproyeksikan 5,58 juta ton. Dengan investasi pengembangan industri petrokimia, Indonesia bisa memasok 8,34 juta ton. "Dengan begitu, ada kapasitas untuk diekspor sekitar 1,57 juta ton," tutur dia.

Panggah menambahkan, pengembangan indusri petrokimia memerlukan penguatan struktur pada hulu ke hilir. Indonesia bisa memanfaatkan cadangan minyak, gas, dan batubara di Tanah Air. Karena itu, hal tersebut perlu didukung kebijakan pemanfaatan minyak dan gas bumi di dalam negeri.

Investasi Pertamina

Sementara itu, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Ali Mundakir mengatakan, saat ini, pihaknya tengah menyiapkan sejumlah rencana investasi petrokimia. Beberapa di antaranya pembangunan kilang di Balongan, Banten, dan Jawa Timur.

Pertamina telah menyatakan akan membangun pabrik petrokimia dengan nilai investasi US$ 4-5 miliar. Investasi itu akan dilakukan bekerja sama dengan investor asing. Perseroan saat ini tengah menyeleksi tiga mitra asing untuk membentuk perusahaan patungan petrokimia, yakni PTT Global Chemical Thailand, SK Global Chemical, dan Mitsubishi Corporation. "Dalam tiga bulan ke depan, mereka akan mengajukan proposal dan hasil kajian. Rencananya, Pertamina setidaknya harus memiliki saham sekitar 51%," kata Ali.

Pertamina menargetkan bisa memasok hingga 30% total kebutuhan petrokimia nasional pada 2017. Saat ini, Pertamina baru memasok sekitar 10% kebutuhan petrokimia nasional. "Tahun 2025, kami menargetkan bisa memasok 70-80% kebutuhan petrokimia nasional," imbuhnya.