Sentimen Komoditas, Bisnis Perkebunan Masih Negatif - Proyeksi Pasar CPO di 2013

NERACA

Jakarta – Ditahun 2013, menjadi tahun yang berat bagi emiten sektor perkebunan kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya, masih anjloknya harga komoditas menjadi sentimen negatif disamping adanya aturan regulasi yang telah digariskan pemerintah.

Analis AM Capital Viviet Safitri mengatakan, tahun ini emiten perkebunan kepala sawit kinerjanya masih turun. Namun sebaliknya, banyak perseroan tetap akan menambah kapasitas untuk membangun pabrik refinery di CPO, “Kalau bicara pendapatan, belum bisa diharapkan tahun ini, karena mereka lebih fokus bangun pabrik ke hilir,”katanya kepada Neraca di Jakarta kemarin.

Menurutnya, kondisi ini hampir semua terutama dilakukan emiten besar, seperti Astra Agro Lestari (AALI) dan BW Plantation. Dia menjelaskan, AALI paling siap dan tempat penyimpanan hasil produksi lebih besar dari pada yag lainnya. Oleh karena itu, tidak heran jika pendapatannya akan terus tumbuh tumbuh dalam tiga tahun terakhir.

Sebagai informasi, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengungkapkan produksi CPO hingga Januari 2013 naik 38,4% menjadi 135.681 ton, dibandingkan periode sama 2012 sebesar 98.042 ton.

Disebutkan bawah produksi Tandan Buah Segar (TBS) naik 32,7% menjadi 349.498 ton, sedangkan dari kebun eksternal melonjak 46,1% menjadi 249.715 ton. Kenaikan tersebut juga diikuti oleh meningkatnya produksi kernel sebesar 32,7% menjadi 28.320 ton, dari sebelumnya 21.335 ton.

Asal tahu saja, sepanjang tahun 2012, PT Astra Agro Lestari Tbk mencatat peningkatan total produksi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sebesar 1,48 juta ton sepanjang 2012. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (21/1).

Disebutkan, angka tersebut mengalami peningkatan sebesar 16,4% pada 2011. Sedangkan untuk produksi tandan buah segar (TBS) perseroan meningkat 14,6% menjadi 5,49 juta ton dari 4,79 juta ton di 2011.

Investor Relations Astra Agro Lestari, Rudy Limardjo pernah bilang, yield TBS AALI di 2012 menjadi 23,5 ton/hektare (ha), naik 6,2% dibandingkan 2011. Dijelaskannya, untuk produksi kernel perseroan juga meningkat sebesar 20% menjadi 323.051 ton sepanjang 2012, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sebelumnya, pada November 2012, perseroan mencatatkan volume penjualan CPO PT Astra Agro Lestari Tbk mencapai 1,27 juta ton. Angka ini meningkat 12,2% dibandingkan periode yang sama di 2011 sebesar 1,13 juta ton.

Dia melanjutkan, pasar domestik sebagai kontributor terbesar, tumbuh 14,1% menjadi 1,24 juta ton atau menyerap sebesar 97,5%. Sementara sisanya sebesar 2,5% atau 31.968 ton diserap oleh pasar ekspor. (Iqbal)

Di sisi lain, harga rata-rata CPO AALI sampai dengan November 2012 masih mengalami penurunan sebesar 1,8% menjadi Rp7.474 per kg dari periode yang sama di 2011 sebesar Rp7.611 per kg. Sedangkan untuk harga rata-rata Kernel, PKO dan PKE masing-masing turun sebesar 18,9 persen, 31,5% dan 27,2%. (bani)

BERITA TERKAIT

Intervensi Pemerintah atas Harga CPO via Implementasi B20

Oleh: Piten J Sitorus, Mahasiswa D3 Alih Program PKN STAN Pada tahun 2017 Indonesia memproduksi sebesar 38,17 juta ton Crude Palm…

Penetrasi Bisnis LNG Skala Kecil Pertamina ke Industri Wisata dan Horeka - Sangat Strategis

Penetrasi Bisnis LNG Skala Kecil Pertamina ke Industri Wisata dan Horeka Sangat Strategis NERACA Jakarta - Penetrasi bisnis gas alam…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…