OJK Pertimbangkan Pungutan Melalui Aset

NERACA

Jakarta- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan perhitungan pungutan didasarkan pada aset yang dimiliki perusahaan menjadi pertimbangan OJK dalam menetapkan besaran pungutan kepada pelaku industri keuangan. “Perhitungannya kita mengacu pada internasional best practise, jasa atau aset, ataupun yang bersifat insidentil. Namun, berdasarkan aset size akan menentukan eksposure risiko, aset besar maka risiko lebih besar sehingga pengawasan yang dibutuhkan juga lebih besar.” Kata Wakil Ketua OJK Rahmat Waluyanto di Jakarta, Kamis (14/2).

Dengan diberlakukannya pungutan tersebut, menurut dia pihak industri seharusnya tidak merasa keberatan dikarenakan pungutan yang harus dibayarkan karena akan dikembalikan dalam bentuk pengembangan dan mendukung penguatan industri ke depan. "Kita juga ingin memberikan pembinaan, pelatihan-pelatihan atau training pada lembaga-lembaga keuangan yang masih lemah." ujarnya.

Saat ini, lanjut dia telah dibangun panitia antarkementrian, antara lain kementerian keuangan, hukum dan ham untuk mengkaji hal tersebut. Dalam hal ini, OJK telah memberikan beberapa masukan dari hasil komunikasi dengan para pelaku pasar dan hal-hal lain yang dinilai dapat diberlakukan.

Kata Rahmat, selain mendukung perkembangan industri ke depan, pemberlakuan iuran tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan anggaran melalui APBN. Pasalnya, anggaran yang dibutuhkan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. "Kita masih melihat dan mempertimbangkan terkait besaran dan hal-hal lainnya. Diharapkan tahun ini sudah ada pungutan.” Ujarnya

Pungutan Ganda

Terkait perhitungan besaran pungutan yang akan diberlakukan oleh OJK, Ketua Asosiasi perusahaan Efek Indonesia (APEI), Lily Widjaja pernah mengatakan, pengambilan besaran pungutan sebaiknya tidak didasarkan pada aset. Selain itu, agar pungutan tersebut menjadi efektif. Pungutan yang diambil diharapkan dari satu pintu, yaitu melalui PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya pungutan berganda. “Jangan lagi dipungut ke perusahaan efek, tetapi lewat bursa saja supaya tidak tumpang tindih,” jelasnya.

Selain kedua hal tersebut, terkait transaksi untuk aksi korporasi, izin usaha, dan lainnya diharapkan pungutan tersebut dapat diturunkan. Sementara untuk poin terakhir, yaitu iuran untuk wakil perusahaan efek diharapkan tidak diberlakukan. Karena wakil perusahaan efek diperlukan untuk meningkatkan jumlah investor di pasar modal, di mana jumlah investor saat ini masih terbilang sedikit.

Sementara Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI), Airlangga Hartarto menilai, dengan adanya pemberlakuan iuran oleh OJK bisa jadi bertambahnya faktor yang membuat emiten enggan melantai di bursa. “Adanya iuran yang diberlakukan OJK, menjadikan biaya yang diperlukan untuk go public menjadi lebih mahal.” ujarnya.

Diberlakukannya iuran tersebut, menurut dia, dapat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena harus mengeluarkan biaya lain di samping pajak yang harus diberikan kepada pihak BEI. Hal tersebut menurutnya akan berpengaruh terhadap besaran dividen. (lia)

BERITA TERKAIT

Kadin: Industri Tidak Bisa Langsung Tumbuh Meski Harga Gas Turun

NERACA Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai bahwa penurunan harga gas industri yang rencananya akan mulai berlaku…

Beli Rumah di Usia Muda Bukan Lagi Mustahil

Empat tahun sejak di lantik menjadi perwira polisi, Nuril Fajar (25) memberanikan diri mengambil rumah di usia muda. Hal ini…

Dongkrak Aset Jadi Rp 27,9 Triliun - META Operasikan Proyek Tol dan PLTM

NERACA Jakarta - Genjot pertumbuhan pendapatan dan aset, PT Nusantara Infrastructure Tbk (META)  bersiap mengoperasikan dua proyek infrastruktur dan melanjutkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jaga Kualitas Produksi Tambang - BRMS Kirim Dore Bullion dari Poboya Ke Jakarta

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan bisnis di sektor pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terus mengoptimalkan nilai tambah dalam…

Pasca Marubeli Miliki Saham - SILO Kembangkan Potensi Bisnis Kesehatan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan bisnis layanan kesehatan yang dinilai memiliki prospek positif, PT Siloam Internasional Tbk (SILO) terus perluas kerjasama…

Sentimen Virus Corona Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/2) sore ditutup melemah dipicu meluasnya…