Laba Bersih Asuransi Jepang US$13 Juta

Jumat, 15/02/2013

NERACA

Jakarta - Perusahaan asuransi umum, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia, mencatatkan kinerja positif belum diaudit (unaudited) di 2012. Laba bersih sebelum pajak sebesar US$13 juta, atau meningkat dari 2011 yang senilai US$6,9 juta. Sementara total aset menjadi US$150 juta, dari sebelumnya yang hanya US$103,8 juta.

“Untuk laba bersih. Kalau sudah dikenakan pajak sebesar 25%, maka menghasilkan US$10 juta. Sedangkan pendapatan premi kita senilai US$78 juta atau sekitar Rp780 miliar,” ujar Direktur Utama Tokio Marine Indonesia, Mitsutaka Sato kepada Neraca, Kamis (14/2).

Terkait klaim akibat banjir, Sato mengatakan pihaknya menangani klaim untuk asuransi properti pada Januari 2013 lalu sebesar US$2 juta. Ini lebih kecil ketimbang banjir yang terjadi di Jakarta pada 2007 dan 2002 silam. “Tahun 2002, klaim mencapai US$30 juta dan lima tahun berikutnya turun menjadi US$10 juta. Mayoritas orang Jepang yang mengajukan klaim sekitar 60%-70%,” tambahnya.

Namun, kalau klaim asuransi kendaraan bermotor akibat banjir yang terjadi di bulan lalu, Sato mengaku klaimnya sekitar 80-130 kasus. Dia pun menambahkan, penurunan klaim asuransi properti akibat banjir ini lantaran kesigapan perseroan dalam melihat kondisi. Hal ini menjadi bekal dan pengetahuan Tokio Marine dalam merancang strategi bisnis perusahaan ke depan.

Informasi saja, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia didirikan pada 1975, dengan kepemilikan saham 60% Tokio Marine Asia dan 40% oleh PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo). Saat ini, perseroan menempati peringkat 12 dalam pasar asuransi umum di Indonesia. Perseroan menargetkan porsi unit bisnis asuransi kendaraan sebesar 40%-45% untuk tiga sampai lima tahun ke depan, naik dari tahun 2011 yang hanya 26%.

"Saat ini, Indonesia mencatat pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor melebihi rata-rata di Asia. Kami menjadikan unit bisnis asuransi kendaraan bermotor sebagai komponen inti pertumbuhan," terangnya. Lebih lanjut Sato mengungkapkan, pada unit bisnis kendaraan bermotor kontribusi pemasukan perusahaan dari kendaraan roda empat sebanyak 80%, sementara kendaraan roda dua sekitar 20%. [ardi]