AMKRI Targetkan Ekspor Mebel dan Kerajinan Capai US$ 5 Miliar di 2018

Jumat, 15/02/2013

NERACA

Jakarta - Asosiasi Mebel Kayu dan Rotan Indonesia (AMKRI) menargetkan ekspor produk mebel dan kerajinan pada 2018 menyentuh US$5 miliar karena tingginya permintaan di pasar International. Ketua AMKRI, Soenoto mengungkapkan untuk meningkatkan kinerja ekspor yang ditargetkan mencapai US$5 miliar di 2018, pemerintah diharapkan meningkatkan daya saing industri furniture di pasar global dengan membuat regulasi yang tepat, membangun infrastruktur yang menunjang serta mendorong peningkatan kualitas desain maupun kualitas hasil produksi,” kata Soenoto pada acara paparan kinerja industri rotan di Jakarta, Kamis (14/2).

Untuk mengembangkan industri mebel dan kerajinan, menurut Soenoto, diperlukan terminal-terminal penyedia bahan baku yang siap pakai. “Dengan didirikannya terminal penyedia bahan baku di basis produksi mebel dan kerajinan seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jabodetabek, maka standar mutu produk akan terjamin. Selain itu, diperlukan peremajaan mesin-mesin dan peralatan produksi,” ungkapnya.

Namun lanjut Soenoto, industri mesin atau peralatan wood working dan metal work, supporting industries nasional masih belum berkembang. “Perlu pengembangan industri mesin pada sektor mebel dan kerajinan untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor dengan memberikan insentif yang menarik bagi investor,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Soenoto juga menyatakan bahwa Peraturan Menteri Perdagangan yang melarang ekspor bahan baku rotan akan membuka pintu untuk masuknya investor asing untuk investasi di bidang mebel. "Larangan bahan baku rotan merupakan undangan bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia," kata Soenoto.

Soenoto mengatakan, bagi pengusaha mebel dalam negeri pihaknya tidak mempermasalahkan adanya investasi asing yang akan masuk ke Indonesia karena nantinya akan membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat. "Bagi kita, kita selalu terbuka dengan adanya investasi yang akan masuk seperti dari Inggris, Jepang, China, Jerman, yang paling penting adalah dengan adanya investasi tersebut maka akan membuka lapangan kerja baru," jelasnya.

Soenoto menjelaskan, industri mebel khususnya rotan tersebut mempunya nilai tambah sangat yang bangus, serta mampu menyerap tenaga kerja yang besar. "Selain itu, industri ini juga bantalan perekonomian yang kuat yang membangun citra Indonesia di dunia internasional," tambah Soenoto.

Masalah Penyelundupan

Soenoto menyatakan, pihaknya merasa bersyukur dengan adanya peraturan Menteri Perdagangan yang melarang ekspor rotan mentah tersebut, namun pekerjaan rumah lainnya yang harus diselesaikan adalah membangun lini lainnya seperti menyelesaikan masalah penyelundupan.

Tahun 2012 lalu, Kementerian Perdagangan bersama dengan kementerian terkait, pada November 2011 mengeluarkan tiga Peraturan Menteri Perdagangan yaitu Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 tentang Kebijakan Ekspor Rotan dan Produk Rotan, Permendag Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011 tentang Pengangkutan Rotan Antar Pulau, dan Permendag Nomor 37/M-DAG/PER/11/2011 tentang Sistem Resi Gudang.

Berdasarkan data Laporan Surveyor (LS), nilai ekspor produk rotan pada periode 1 Januari -30 September 2012 mencapai lebih dari US$ 157 juta. Nilai ekspor rotan yang cukup tinggi tersebut disumbang dari ekspor produk rotan furnitur senilai US$ 118,532 juta dan anyaman senilai US$ 39,250 juta dengan lima negara tujuan ekspor terbesar yaitu Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, dan Inggris. Jika dibandingkan dengan tahun 2011, dalam periode yang sama, nilai ekspor rotan Indonesia mencapai US$ 108,96 juta atau telah terjadi peningkatan sebesar 44,82%.