Siapkan Mahasiswa Jadi Penjaga Ekonomi Nasional

GERAKAN KEWIRAUSAHAAN NASIONAL

Sabtu, 16/02/2013

Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa menjadi potensi ekonomi yang luar biasa. Dari segi jumlah penduduk, itu adalah pasar konsumsi yang sangat besar. Mereka memerlukan berbagai kebutuhan hidup, sandang, pangan, papan, hiburan, transportasi, pendidikan, furnitur, dan sebagainya.

NERACA

Sementara itu, saat ini masih banyak pengangguran di mana-mana, terutama di usia produktif. Ini ironis, karena sebetulnya berbagai hal bisa diusahakan untuk mencukupi berbagai kebutuhan dasar hidup manusia.

Itu sebabnya, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM memprakarsai Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) melalui kampus-kampus. Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan 85 perguruan tinggi di 15 kota untuk mengiuti kompetisi business plan antar-mahasiswa.

Kementerian menyediakan anggaran hingga Rp 25 juta bagi business plan atau proposal yang lolos seleksi. Pencanangan GKN sudah masuk tahun ketiga. Tahun ini, akan dicanangkan pada 18 Maret 2013.

Tidak hanya Kementerian Koperasi dan UKM saja yang mencanangkan gerakan wira usaha di kalangan mahasiswa. Amikom Yogyakarta menargetkan 20% mahasiswanya mentas menjadi pengusaha. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Pusat dan DKI juga sudah memproklamasikan program itu.

”Sebelum maupun sesudah lulus dari perguruan tinggi, tidak ada salahnya apabila mahasiswa mulai mempersiapkan diri menjadi pelaku usaha pemula atau berwira usaha,” kata Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM Prakoso Budi Susetio.

Menurut Prakosa, untuk menjadi seorang wirausahawan, tidak terlalu sukar. Mahasiswa bisa memulainya dengan kegiatan apa saja yang disukai. Dengan metodologi itu, dia optimistis usaha akan berhasil. Kementerian Koperasi pun siap member solusi jika mahasiswa terkendala permodalan maupun upaya pengembangan pasarnya.

”Kami bisa memberikan solusi melalui akses pertambahan modal usaha yang tersedia melalui program kredit usaha rakyat (KUR) maupun dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB),” kata Prakosa yang kini memiliki showroom mobil. Dia menambahkan, tujuan diadakannya lomba membuat proposal usaha dalam rangka menyukseskan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN), juga untuk menggenjot jumlah pengusaha dalam satu negara minimal 2%.

Ternyata luar biasa. Banyak di antara mahasiswa yang sudah memulai usaha lebih dulu. Di antaranya usaha laundry (cuci pakaian), sablon, dan membuka warung makan. Yang beginian, Yogya gudangnya mahasiswa berwira usaha. Bahkan, banyak usaha franchiese yang dimotori mahasiswa. Prakosa mengatakan, pihaknya menargetkan, setidaknya tahun ini lolos 1.500 proposal usaha mahasiswa yang akan diongkosi hingga Rp 25 juta per proposal.

Model Yogyakarta

Jauh hari sebelumnya, program serupa juga dilakukan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah DIY pada 2009 melalui Entrepreneur Student Program. Program itu merupakan kelanjutan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Cooperative Education (Co-op). Kopertis DIY pun melakukan pendampingan melalui pelatihan, program magang, penyusunan rencana bisnis, hingga memberikan permodalan, dan memonitor jalannya usaha. Kopertis DIY juga menjadi jembatan usaha mahasiswa dengan para pengusaha yang sudah mapan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, maupun SMEDC-UGM.

Menurut Koordinator Kopertis DIY Budi Santoso Wignjosukarto ketika itu, ada empat perguruan tinggi yang menjadi percontohan, yaitu UNiversitas Islam Indonesia (UII), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Univeristas Atmajaya Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer (STIMIK) Amikom yang bernaung di bawah bendera Primagama.

Kopertis DIY menyediakan dana maksimal Rp 8 juta per mahasiswa dan Rp 40 juta per kelompok mahasiswa yang terdiri atas 3-5 orang. Tolok ukur berhasil tidaknya program wira usaha mahasiswa itu antara lain dilihat dari berapa jumlah mahasiswa yang terlibat dalam progam itu, berapa mahasiwa dan berapa unit usaha yang berhasil diciptakan, meningkatnya omzet usaha dan aset yang dimiliki, hingga terciptanya jejaring bisnis , terciptanya pasar, hingga lancarnya cashflow.

Di STIMIK Amikom, bahkan ada kuliah kewirausahaan yang diberikan sepanjang dua semester. Mahasiswa diminta membuat proposal usaha yang dibiayai dana pinjaman sebesar Rp 3 juta tanpa bunga. Menurut Pembantu Ketua III STIMIK Amikom Muhammad Idris, pihaknya telah mencanangkan visi 10% dari jumlah lulusan bisa menjadi wirausahawan.

Para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mengelola unit usaha di kampus. Saat itu, ada 10 unit usaha yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Amikom (BUMA). Ke-10 unit usaha itu adalah RB TV, TE-CS Computer Shop, PT Mataram Surya Visi, MQ FM, Amikom.Net, Sisco Networking Academy, internet service provider Time Excelindo, dan Amikom Training Center. Pada 2006, STIMIK Amikom suah mewisuda wira usaha muda angkatan 19 dan 20 yang jumlahnya melampaui target 10%. Tahun berikutnya, target pun dinaikkan menjadi 20% mahasiswa harus sudah jadi wira usaha.

Harus banyak model disimulasikan untuk menggenjot program itu agar makin banyak mahasiswa dan kaum muda menjadi generasi pember kerja, bukan lagi pencari kerja. (saksono)