Pertumbuhan Ekonomi Lampung Turun 8,13%

Kamis, 14/02/2013

NERACA

Bandarlampung - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Provinsi Lampung menyatakan pertumbuhan ekonomi Lampung triwulan IV-2012 mengalami penurunan sebesar 8,13% dibandingkan triwulan III-2012. "Penurunan itu hal yang wajar sesuai pola pertumbuhan ekonomi Lampung, di mana output akan mengalami penurunan pada triwulan IV-2012 karena faktor musiman," kata Humas KPBI Provinsi Lampung, Nunu Hendrawanto, dalam siaran persnya di Bandarlampung, Rabu.

Dia menyebutkan, penurunan output triwulan IV-2012 itu disebabkan beberapa hal, diantaranya pada triwulan III-2012, terdapat momen Ramadhan dan Idul Fitri yang menyebabkan dorongan permintaan konsumen terhadap komoditas primer dan non primer yang cukup besar. Kedua momen tersebut lanjutnya, juga mampu mendorong pertumbuhan nilai output pada sektor pengangkutan dan telekomunikasi, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor-sektor jasa.

"Meskipun pada triwulan IV-2012 juga terdapat momen Natal dan Tahun Baru, ditambah peningkatan nilai output dari sub sektor perkebunan, namun nilai output yang terbentuk tidak sebesar triwulan III-2012," jelasnya. Nunu menambahkan meskipun secara trwiulan mengalami penurunan, namun secara kumulatif tahun 2012, output ekonomi Lampung meningkat 6,48% dibandingkan tahun 2011.

Dari sisi permintaan, kontribusi terhadap output ekonomi kumulatif tahun 2012 yang mencapai 6,48% disumbang oleh ekspor 6,39%, konsumsi swasta 3,71%, dan investasi yang tercermin melalui Pembentukan Modal Tetap Daerah Bruto (PMTDB) 1,49%. Sedangkan dari sisi penawaran, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kumulatif berasal dari sektor pertanian sebesar 1,6%, diikuti sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 1,26%, serta sektor angkutan dan komunikasi sebesar 1,06%.

Dia menjelaskan, apabila melihat strukturnya, ekonomi Lampung selama tahun 2012 masih tetap didominasi oleh sektor pertanian. Dibandingkan tahun 2012, porsi sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, serta sektor jasa-jasa mengalami peningkatan. Sementara porsi empat sektor lainnya, yakni sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor bangunan, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami penurunan. [ardi]