Pemerintah Minta Pengusaha RI Bangun Pabrik di Nigeria

Permudah Akses Ekspor ke AS dan Eropa

Kamis, 14/02/2013

NERACA

Jakarta - Nigeria ternyata termasuk salah satu negara yang mendapatkan fasilitas bea impor rendah dari negara maju seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Dengan kelebihan yang dimiliki Nigeria, pemerintah ngebet meningkatkan hubungan bilateral bidang perekonomian dengan negara kawasan barat Benua Afrika itu.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Muhammad Chatib Basri menyatakan pengusaha Indonesia harus segera melihat peluang itu dan membangun pabrik di sana. Saat ini baru sedikit produk Indonesia dibuat di negara itu, semisal petrokimia dan mi instan. Tujuannya, agar lebih mudah masuk ke pasar Eropa dan Amerika. "Sehingga kalau kita lakukan investasi di sana, kita bisa akses pasar di negara maju," ujarnya di, Jakarta, Rabu (13/2).

Pemerintah, kata dia, dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada awal bulan ini langsung melobi pemerintah Nigeria agar bersedia menyepakati rancangan perjanjian kerja sama terbatas (PTA). Chatib mengklaim, pemerintah Nigeria menyambut baik tawaran itu dan menyerahkan pada pemerintah untuk memberi draf awal. "Drafnya itu sedang dirancang, tapi Kadin mulai ngurusin juga investasi, ada MoU Garuda yang dilakukan di sana, (delegasi) bisnis mulai masuk ke sana," tegasnya.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengaku sudah merealisasikan ide BKPM. Selain menjadi perancang draf PTA, pihaknya turut mendorong pengusaha lokal membangun basis produksi di sana. "Kalau barangnya kita produksi di sana, bisa menambah remittance," katanya.

Kalaupun belum mulus masuk ke pasar Amerika dan Eropa, Nigeria dapat digunakan sebagai basis distribusi ke wilayah barat Benua Hitam itu. "Di sekitar Nigeria itu ada Benin, Pantai Gading, tapi Nigeria lah yang paling besar, kalau kita bisa tingkatkan lebih mudah masuknya (ke negara sekitar)," cetusnya.

Kemendag menargetkan nilai perdagangan Indonesia-Nigeria dua tahun mendatang menjadi US$ 5,5 miliar. Tahun lalu, perdagangan dengan negara kaya minyak itu mencapai US$ 2,2 miliar, dengan posisi pemerintah defisit karena banyak mengimpor bahan bakar.

Sebelumnya, pemerintah mendorong kalangan swasta dan badan usaha milik negara untuk memanfaatkan pasar di Nigeria. Peluang ekspor ke negara kaya minyak di Afrika tersebut sangat terbuka lebar.

”Nigeria adalah negara dengan penduduk terbesar di Afrika, 170 juta orang. Pasar di sana meningkat terus dan kita pun bisa meningkatkan ekspor ke Nigeria,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa.

Hal tersebut disampaikan Hatta seusai mengikuti pertemuan pagi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertemuan juga diikuti Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyant, serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.

Dalam pertemuan, Presiden Yudhoyono menceritakan situasi Nigeria yang dikunjungi beberapa hari lalu. Selain Nigeria, negara yang juga didatangi rombongan Presiden Yudhoyono dalam lawatannya, yaitu Liberia, Mesir, serta Arab Saudi.

Menurut Hatta, ternyata ada 17 perusahaan Indonesia yang telah berinvestasi di Nigeria. Mereka bergerak di berbagai jenis usaha, antara lain mi instan, farmasi, petrokimia, minyak dan gas bumi (migas). ”Presiden Nigeria akan datang kemari. Ia akan melakukan kerja sama yang bernilai besar,” ucapnya.

Hatta mengungkapkan, Nigeria adalah negara kaya minyak. Oleh karena itu, Indonesia sudah seharusnya menjalin hubungan baik dengan Nigeria sehingga berpeluang lebih baik untuk memperoleh hak pengelolaan ladang minyak di negara itu. Namun, hal yang paling penting dan mendesak adalah memanfaatkan pasar Nigeria yang besar sebagai tujuan ekspor produk Indonesia.

Kebutuhan Pasar

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia Derom Bangun, ikut dalam rombongan Presiden Yudhoyono ke Nigeria. Derom memanfaatkan kunjungan tersebut untuk bertemu sejumlah pengusaha dan peneliti di Nigeria dan Pantai Gading. Dari hasil pertemuan tersebut, dia mendapatkan informasi kebutuhan pasar Nigeria tersebut.

Derom mengemukakan, Indonesia berpeluang mengisi kebutuhan pasar minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) Nigeria. Nigeria baru memproduksi sekitar 400.000 ton CPO dari kebutuhan 2 juta ton per tahun.

”Saat ini bea masuk CPO di Nigeria 35 %. Ada kisah sukses, investor pabrik semen Nigeria mendapatkan kemudahan mengimpor semen untuk menutupi kekurangan produksi sampai kebutuhan lokal terpenuhi. (Kisah sukses) ini dapat memperluas pasar ekspor jika investor Indonesia bisa mendapatkannya juga,” kata Derom. Indonesia merupakan produsen CPO terbesar dunia yang menghasilkan sedikitnya 26 juta ton tahun 2012 dari kebun seluas 8,9 juta hektar.