Dukung Pasar Modal, Pefindo Rilis Beta Saham

Kamis, 14/02/2013

NERACA

Jakarta-PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) akan segera mempublikasikan layanan informasi terkait penilaian harga saham yang beredar, atau dikenal dengan nama Beta Saham. "MoU dengan pihak bursa diharapkan dalam beberapa hari mendatang sehingga dapat memulai publikasi pada bulan ini." jelas Direktur Pefindo, Jose Rizal, di Jakarta, Rabu (13/2).

Dia mengatakan, sejauh ini pihaknya melakukan analisis terhadap efek-efek yang telah tercatat selama 36 bulan di lantai bursa, dan tidak mengalami suspensi perdagangan selama 10 hari terakhir.

Penyediaan informasi efek dalam beta saham ini didasarkan pada kebutuhan pasar, di mana selama ini data beta hanya disediakan oleh vendor-vendor asing yang berbiaya cukup tinggi. Padahal, beta saham tidak hanya dapat menjadi acuan investor, namun juga mendukung perkembangan pasar modal ke arah lebih baik.

Dengan adanya perhitungan nilai saham dengan metode beta, lanjut dia akan diketahui nilai wajar dari suatu saham, termasuk saham mana yang tergolong likuid berdasarkan transaksi yang terjadi di pasar. Karena itu, akan sangat membantu investor untuk menentukan dan memilih saham yang baik ditransaksikan.

Selain itu, Beta Saham juga akan dapat mendukung perkembangan pasar modal ke arah yang lebih baik. Terlebih dapat diakses secara free oleh investor. "Investor ritel umumnya tidak dibekali dengan data-data yang luas, hanya secara teknikal yaitu di dasarkan pada perhitungan harga masuk dan keluar sehingga seringkali mereka masuk terlambat." paparnya.

Di samping meluncurkan Beta Saham, pihak pefindo juga akan mengembangkan bisnisnya untuk mendirikan kredit biro swasta di tahun 2013, "Saat ini 90% bisnis model sudah matang, butuh waktu sekitar 12 bulan untuk melakukan kegiatan kredit biro ini." jelas Direktur Utama Pefindo, Ronald.

Pendirian kredit biro, menurut Ronald, diharapkan dapat membantu proses pengambilan keputusan secara efisien. Sejauh ini beberapa negara yang telah mengoperasikan kredit biro, antara lain Amerika, Eropa, dan Jepang, sedang di Indonesia sendiri belum ada perusahaan sejenis yang beroperasi yang fokus pada pengelolaan data untuk kredit biro.

Saat ini pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan beberapa mitra strategis untuk pendirian kredit mikro tersebut. "Masih dalam proses seleksi, yang pasti akan bekerja sama dengan kredit biro yang sudah beroperasi lama. Juga dalam operasionalnya akan bekerja sama dengan bank-bank pemerintah, swasta dan daerah." jelasnya.

Dalam praktiknya, model bisnis yang digunakan yaitu dengan pengelolaan data dari perbankan dan kemampuan individu dalam menunaikan kewajibannya, seperti pembayaran air, listrik, telkom, termasuk pembayaran premi asuransi. (lia)