Sampah Jadi Sumber Ekonomi dan Energi Terbarukan

Sabtu, 16/02/2013

Pengelolaan sampah secara profesional tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, namun juga bisa mengangkat kesejah­teraan ekonomi masyarakat dan membuat energi terbarukan

NERACA

Bagi Indonesia, sampah telah menjadi masalah klasik berkaitan dengan kondisi lingkungan yang tidak mudah diselesaikan, dimana sampah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Kondisi ini akan terus bertambah sesuai dengan kondisi lingkungannya.

Bila tidak dikelola dengan baik, beberapa tahun mendatang sekitar 250 Juta rakyat Indonesia tetap hidup bersama tumpukan sampah.Lain halnya jika sampah tersebut bisa dikelola dengan benar. Pengelolaan sampah secara profesional tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, namun juga bisa mengangkat kesejah­teraan ekonomi masyarakat. Bahkan, sampah rumah tangga berpotensi bisa menjadi ‘mesin uang’.

Tidak heran bila kini, Indonesia sedang tren mengalakkan program re-use dan re-cycle atas sampah - sampah yang ada yakni dengan menggalakkan program bank sampah untuk mengurangi jumlah sampah yang ada. Hal ini dibuktikan dengan makin banyaknya daerah yang mengaplikasikannya. Ya, melalui bank sampah suatu metode yang efektif, paradigma masyarakat yang selama ini memandang bahwa sampah sama sekali tidak berguna, berubah.

Melalui program CSR bertajuk SUPEL (Shell untuk Pelestarian Lingkungan), Shell Indonesia bekerjasama dengan Pemkot Surabaya dan Pusdakota Universitas Surabaya mengembangkan Bank Sampah di Surabaya. “Bank Sampah” ini akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lewat kegiatan simpan pinjam masyarakat di beberapa kelurahan yang ada di Surabaya. Babatan dan Lontar menjadi pilihan lokasi pertama program ini.

"Keberhasilan warga kampung Babatan dan Lontar, Surabaya ini tidak lepas dari dukungan yang diberikan oleh PT Shell Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surabaya dan Pusat Pemberdayaan Komunitas Perkotaan (Pusdakota) Universitas Surabaya. Melalui program SUPEL (Shell untuk Perbaikan Lingkungan) dikembangkan “Bank Sampah” bagi kedua warga kampung tersebut," demikian Country Communications Manager PT Shell Indonesia Inggita Notosusanto.

Bank inilah yang akan menampung sampah-sampah warga yang telah dipilah menjadi 2 bagian yaitu sampah organik dan non-organik. Kedua jenis sampah ini kemudian diolah menjadi produk yang bermanfaat, sampah organik menghasilkan pupuk kompos dan sampah non-organik menghasilkan produk barmanfaat lainnya seperti tas, tempat tisu, dan lain-lain.

Program SUPEL dimulai sejak November 2012 di Kelurahan Lontar dan Kelurahan Babatan, Surabaya. Selama program, warga kedua kelurahan mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari tim Pusdakota Universitas Surabaya mengenai berbagai macam jenis sampah, pengelolaan sampah dengan metodeopen-window, pembuatan bakteri cair dan bakteri padat, pengelolaan bank sampah dan kreasi daur ulang plastik. Di Kelurahan Babatan, warga mendapatkan kesempatan mengelola lingkungan dan sepakat menjadikan RT 05 di wilayahnya model RT BERsih, SEhat dan mandiRI (BERSERI).

Shell melalui program SUPEL berkomitmen untuk tidak berhenti berperan meningkatkan perbaikan lingkungan hanya di Babatan dan Lontar, tetapi juga akan mengembangkan di wilayah berbeda, khususnya di lokasi dekat SPBU Shell.

Eergi Alternatif

Jika shell fokus dalm mengembangkan bank sampah, Inovasi terus dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Awal Desember 2012 lalu, Pertamina mengembangkan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTS) berkapasitas 120 megawatt. Ini membuktikan Pertamina tidak hanya serius pada pengelolaan bisnis migas, melainkan sebagai perusahaan energi terintegrasi juga mengelola sumber-sumber energi baru dan terbarukan.

Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto mengatakan, proyek yang berlokasi di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi ini diperkirakan menelan investasi sebesar US$ 180 juta.Targetnya, pada 2014 PLTSa ini dapat beroperasi dan memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.Sejumlah penyedia teknologi yang sudah terbuktidan memenuhi karakteristik sampah yang ada di Bantargebang telah diseleksi Pertamina dengan tingkat pemanfaatan sampah secara maksimal hingga mencapaizero waste.

Ditahap awal proyek yang menggunakan teknologi pengolahanbiomass municipal solid waste to poweryang modern, efisien, dan ramah lingkungan ini, PLTSa memanfaatkanfeedstocksebanyak 2.000 ton sampah per hari untuk menghasilkan pasokan listrik dengan kapasitas listrik terpasang sekitar 120 MW.

Saat ini, harga pembelian listrik (feed in tariff) dari sampah kota tanpa sisa sampah (zero waste) Rp 1.050 per kWh, sementara model pembangkit sampah yang masih menyisakan sampah (landfill) menjadi Rp 850 per kWh.