KKP Berikan Bantuan Untuk Nelayan Hadapi Masa Paceklik

Sabtu, 16/02/2013

Cuaca ekstrim memberikan pengaruh yang sangat kompleks terhadap berbagai aspek kelautan termasuk perikanan yang pada akhirnya, kondisi ini akan sangat merubah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.

NERACA

Akhir-akhir ini, perubahan iklim global meupakan isu yang cukup menyita perhatian publik. Pasalnya, dampak perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu udara di bumi cukup mengkhawatirkan bagi kehidupan manusia. Industri perikanan merupakan salah satu komponen yang terkait dengan perubahan iklim global. Dampak perubahan iklim memberikan pengaruh yang sangat kompleks terhadap berbagai aspek kelautan termasuk perikanan yang pada akhirnya, kondisi ini akan sangat merubah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Seperti yang terjadi di Cilincing Jakarta Utara belum lama ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C Sutardjo menuturkan, akibat cuaca buruk serta gelombang tinggi yang melanda sebagian wilayah perairan Indonesia menyebabkan sejumlah nelayan di daerah terutama nelayan Cilincing Jakarta Utara tidak bisa melaut. Adapun jumlah nelayan di Jakarta Utara saat ini mencapai 18.900 nelayan. "Akibat cuaca buruk memang menjadi masa paceklik bagi nelayan. Karena tidak melaut, pada bulan bulan ini menjadi masa sulit bagi nelayan," kata dia.

Selain itu, dampak dari pola iklim yang kacau dan terjadinya cuaca ekstrem juga mengakibatkan tingginya intensitas curah hujan yang turun selama berhari-hari. Tak ayal, banjir yang melanda sebagian besar wilayah Jakarta ternyata juga berimbas kepada kegiatan ekspor dan produksi ikan, terutama di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman Jakarta. Banjir yang sempat menggenangi kawasan utara Jakarta juga membuat aktivitas ratusan pabrik pengolahan ikan di kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, terganggu. Nilai kerugian hingga kini ditaksir sekitar Rp 100 miliar.

Gangguan pada pelabuhan perikanan terbesar ini terutama disebabkan pemutusan aliran listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara di kawasan yang sebagian tergenang banjir. Sementara itu, karena ketinggian air mencapai 50 - 120 sentimeter jalan masuk ke kawasan pelabuhan juga sulit dilalui truk pengangkut atau kontainer. Ratusan ton produk ikan hasil olahan pabrik yang sedianya diekspor dan dipasok ke pasar lokal tidak bisa terkirim.

Melihat hal ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyerahkan bantuan untuk nelayan Cilincing Jakarta Utara, yang tidak bisa melaut akibat cuaca buruk dan untuk masyarakat pesisir di Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, yang menjadi korban banjir, berupa 300 paket sembako, 200 selimut serta obat - obatan.

“Selain bantuan dari KKP, kami berharap bantuan juga akan datang berbagai pihak terutama dari penggalangan dana perusahaan perikanan seperti yang selama ini telah mereka lakukan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility ),” ujar dia

Sebagai tindak lanjut bantuan ke nelayan, Sharif menambahkan, dalam waktu dekat KKP telah merencanakan kegiatan bersih pantai Jakarta. Program ini dilakukan sebagai upaya pemulihan kawasan pantai Cilincing dan Muara Baru Jakarta akibat banjir. Apalagi pantai Jakarta sepanjang 32 kilometer yang meliputi pantai - pantai Marunda, Cilincing, Kalibaru, Ancol, Pluit, Kapuk Muara, dan Kamal Muara ini sering menjadi muara limbah sampah rumah tangga yang terbawa ke laut. Sebagaimana yang biasa dilakukan KKP, kegiatan bersih pantai akan melibatkan berbagai pihak seperti Pemda DKI,TNI AL, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan masyarakat luas.