Jakarta Masih Jadi Tujuan Investasi Properti Dunia

Sabtu, 16/02/2013

Kota Jakarta diperkirakan menjadi pasar real estate teratas di kawasan Asia-Pasifik di sepanjang 2013. Bahkan, Jakarta menduduki peringkat pertama mengalahkan Shanghai dan Hong Kong (Tiongkok), Singapura, Kuala Lumpur, dan Sydney (Australia).

NERACA

Pemeringkatan itu dilakukan oleh PriceWaterHouseCoopers (PWC) dan Urban Land Institute (ULI) yang berbasis di Washington DC. “Berkembangnya pasar properti di Jakarta juga dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang cenderung rendah,” kata General Manager rumah123.com Andy Roberts, di Jakarta, Selasa (11/2).

Broker lokal IndoPremier juga menyatakan demikian, dalam 17 bulan terakhir ini, rata-rata inflasi berkisar di bawah 5%. Menurut Andy, hal itu dapat dijadikan indikator yang baik bagi prospek pasar properti di Indonesia di masa depan. Hal itu juga dikuatkan dari hasil survei Coller pada 2012 yang menunjukkan, pasar kondominium di Jakarta mengalami pertumbuhan yang cukup besar dalam tiga kuartal pertama 2012. Jones Lang LaSalle, sebuah perusahaan penelitian properti pun mengungkapkan, pada 2013-2016 Jakarta dan sekitarnya akan memiliki 27.130 kondominium baru. Sebanyak 61,4% di antaranya sudah laku dijual.

Menurut Andy, yang kemarin didampingi Marketing Manager rumah123.com Meddy H Papinka, pernyataan PWC, ULI, IndoPremier, Coller, dan Lang LaSalle juga sejalan dengan hasil survei yang dilakukan induk perusahaan rumah123.com, yaitu iProperty Group. Survei melibatkan responden di Indonesia, Malaysia, Hong Kong, dan Singapura pada Desember 2012 – Januari 2013.

“Memasuki 2013, perkembangan pasar properti di Indonesia umumnya terutama di Jakarta sekitarnya diperkirakan terus meningkat,” kata Andy. Masyarakat Indonesia makin peduli terhadap kepemilikan property, baik sebagai tempat hunian, maupun menjadi investasi jangka panjang.

Yang menggembirakan dari survei yang dilakukan rumah123.com terhadap 6.117 responden di Indonesia adalah, semua berusia muda, 17% berumur 10-25 tahun, sebanyak 26% kelompok usia 26-30 tahun, dan 23% berada di tataran usia 31-35 tahun. Mereka, 76% di antaranya berpenghasilan di bawah Rp 100 juta/tahun, atau menurun 7% dari hasil survei serupa tahun lalu. Selebihnya, 14% atau naik 2% dari tahun lalu, yang berpenghasilan di atas Rp 200 juta/tahun.

Andi memaparkan, beberapa faktor kunci yang mempengaruhi sangat prospeknya sektor properti, yaitu pertumbuhan ekonomi yang baik, pertumbuhan kelas menengah yang pesat dengan daya beli yang juga terus meningkat signifikan, disertai inflasi yang stabil. “Sebanyak 72% responden berminat membeli properti dalam waktu 6-12 bulan ke depan. Sebanyak 64% di antaranya membeli properti untuk rumah tinggal dengan bujet sekitar Rp 200 jutaan,” kata Andy. Jika dibandingkan dengan Singapura, kata Andy, anak muda Singapura banyak yang khawatir tak mampu membeli rumah karena harganya yang terus meningkat di sana.

Bahkan, 84% responden Indonesia mengaku telah memiliki rumah. Ada tiga faktor mengapa mereka berminat di sektor properti, yaitu lokasi yang strategis, harga yang terus melambung dari tahun ke tahun, serta potensial untuk disewakan. Sebanyak 13% responden berniat membeli tanah untuk dibangun rumah serta ingin memiliki rumah toko (ruko) atau small office home office/SOHO.

Meddy menambahkan, dari hasil survei juga menunjukkan, kebanyakan orang Indonesia lebih menyukai membeli rumah yang berdiri di atas sebidang tanah (landed house). “Sebanyak 64% responden lebih mencari rumah tanah, ini memang faktor psikologis, dan sosial budaya kebanyakan orang Indonesia,” kata dia.

Saluran Informasi

Dari mana sajakah para responden tahu informasi tentang rumah? Rumah123.com mencatat, mayoritas atau sebanyak 96% mengakses situs-situs yang ada di internet. Lalu, sebanyak 73% mencari informasi dari google, dan hanya 66% mendapatkan kabar tentang sektor properti dari majalah dan koran.

Dari informasinya yang didapat, para reasponden juga mengutamakan askpek lokasi sebagai bagian penting untuk membeli rumah. Misalnya, kata Meddy, dekat dengan fasilitas perkantoran, sekolah, rumah sakit, juga sarana transportasinya yang mudah dijangkau.

Yang jadi masalah adalah masih sulitnya mendapat pinjaman bank dengan suku bunga yang rendah. Itu juga yang dipersoalkan PWC. Meddy menjelaskan, sebanyak 72% responden berharap, adanya fasilitas perumahan swadaya atau bersubsidi, lebih baik dialihkan untuk mengurangi kewajiban pembayaran uang muka. Saat ini, pemerintah mewajibkan uang muka pembelian properti secara angsuran sebesar minimal 30% dari harga.

Dan benar, dalam Pesta KPR BTN 2013 yang diadakan di Jakarta Convention Center (JCC) pada 2-10 Februari 2013 lalu, kebanyakan pengembang sudah memberikan kelonggaran pembayaran uang muka (down payment/DP), cukup 10% - 20% dari harga properti. Kluster Jasmine dan Palmarose Sawangan Village, misalnya, bahkan berani memberikan potongan DP cukup besar. “Kami memberikan DP hanya 5% saja, sehingga KPR-nya 90%,” kata J Ramli, staf pemasaran Sawangan Village.

Bagi Meddy, ada tiga faktor yang paling menentukan pembelian properti dari pengembang. Pertama, dilihat dari manajemen dan kerapian kerjanya. Kedua, perlengkapan dan fasilitas yang disediakan, termasuk sarana ibadah, olah raga, sekolah, juga pasar, “Ketiga, dilihat dari tema proyek misalnya konsep tempat tinggal yang ramah lingkungan, dan sebagainya,” ujarnya. (saksono)