Alam Sutera Beli Lahan 150 Hektar Senilai Rp 3 Triliun

Rabu, 13/02/2013

NERACA

Jakarta – Masih berprospeknya industri properti ditengan tingginya permintaan pasar menjadi alasan bagi PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) membeli lahan seluas 150 hektar dari PT Modernland Realty Tbk (MDLN) dengan nilai Rp3 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (12/2). Disebutkan, pembelian dilakukan entitas asosiasi perseroan, PT Tangerang Matra Real Estate.

Perseroan akan mengembangkan lahan seluas 150 hektar tersebut. Adapun pembayaran akan dilakukan secara bertahap dalam kurun waktu 30 bulan sesuai dengan luas tana yang diterima.

Transaksi ini merupakan transaksi yang dikecualikan dari peraturan Bapepam-LK Nomor IX.E.2 mengenai transaksi material dan perubahan kegiatan usaha utama. Sedangkan entitas asosiasi adalah suatu entitas, termasuk entitas non korporasi seperti persekutan dengan investor mempunyai pengaruh signifikan, dan bukan merupakan entitas anak ataupun bagian partisipasi dalam ventura bersama.

Berdasarkan laporan keuangan PT Alam Sutera Realty Tbk per 30 September 2012, perseroan memiliki saham di PT Tangerang Matra Real Estate sekitar 49,60%. Analis MNC Securities, Edwin Sebayang pernah bilang, saham-saham di sektor properti masih pantas menduduki posisi saham layak diakumulasi di tahun 2013, “Saya masih recommend beberapa saham properti yang cukup prospektif." Ujarnya.

Menurutnya, sejauh ini, saham milik PT Summarecon Tbk (SMRA) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) menjadi saham utama yang direkomendasikan. Pasalnya, untuk saham BSDE diproyeksikan akan mampu menanjak di level 1.500, sementara saham SMRA diprediksi akan mencapai level 2.200.

Dari sisi fundamental perseroan, kedua perseroan tersebut mencatatkan kinerja yang cukup baik yang fokus melakukan pengembangan usaha. Hingga kuartal ketiga 2012, BSDE misalnya tercatat berhasil menekan laju beban pokok penjualan daripada tingkat kenaikan pendapatan yaitu, hanya tumbuh 22% sementara penjualan berhasil tumbuh 27%.

Sebagai informasi, BSD mencatatkan beban usaha naik atau lebih rendah ketimbang kenaikan pendapatan yaitu 15,13%. Pencapaian tersebut membuat laba kotor perusahaan tumbuh 29% menjadi Rp 1,714 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,327 triliun. Bahkan laba usaha naik signifikan 41,45% menjadi Rp 1,005 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp 710,174 miliar. Besarnya permintaan pasar properti pada tahun 2012 dan kondisi perekonomian yang positif dinilai telah menggiring kinerja perseroan seacara signifikan.

Sementara untuk kinerja SMRA, hingga September 2012, perseroan mencatatkan laba naik 76,90% menjadi Rp456,63 miliar dari periode sama sebelumnya Rp258,12 miliar. Selain itu, perseroan juga membukukan pendapatan naik 38,58% menjadi Rp2,19 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,58 triliun.

Beban pokok penjualan dan beban langsung naik menjadi Rp1,08 triliun hingga September 2012, YoY dari Rp846,29 miliar. Laba kotor perseroan naik menjadi Rp1,11 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp740,82 miliar.

Sementara beban penjualan emiten properti ini naik menjadi Rp142,98 miliar, YoY dari Rp91,17 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp376,70 miliar, YoY dari Rp273,31 miliar. Penghasilan operasi lain naik menjadi Rp19,81 miliar, YoY dari Rp16,25 miliar. (bani)