DBS Indonesia Targetkan Bisnis Konsumer Tumbuh 30%

Rabu, 13/02/2013

NERACA

Jakarta – PT Bank DBS Indonesia menarget bisnis konsumernya tumbuh 30% di 2013. Bisnis ritel atau consumer banking yang dimiliki perseroan tersebut antara lain adalah wealth management, treasury seperti forex, structure deposit, dan bancassurance. Selain itu, sebagai pelengkapnya tetap mempunyai produk tabungan, deposito, serta produk pinjaman seperti Dana Bantuan Sahabat.

“Bisnis konsumer secara keseluruhan, baik dari portofolio ataupun income, ditargetkan (tumbuh) 30%. Bisnis kita di sini cukup balance, seperti kita punya bisnis liabilitas seperti deposito, wealth management, dan pinjaman. Tapi, fokus terbesarnya tetap di DPK yang menjadi core business kita, dan karena itu juga yang disuruh BI untuk meningkatkan itu,” jelas Steffano Ridwan, Head of Consumer Banking Group DBS Indonesia, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (12/2).

DPK Bank DBS Indonesia yang terdiri dari CASA dan deposito, ungkap Steffano, sampai saat ini masih lebih besar berasal dari sektor korporasi, tapi dia tetap yakin bahwa peluang DPK tumbuh di sektor ritel atau konsumer juga akan terus tumbuh.

“Apalagi semuanya (kondisi ekonomi makro) juga positif untuk konsumer di 2013. Jadi pertumbuhan DPK pada tahun ini diperkirakan 20%-30%. Untuk tahun lalu, DPK tumbuh double digit atau sangat signifikan, tapi memang itu harus menunggu annual report kita dulu,” ungkapnya.

Untuk wealth management, pada akhir tahun 2012 lalu, dana kelolaan (asset under management/AUM) bank ini mencapai sekitar Rp5 triliun, dengan jumlah nasabah sebanyak 38 ribu.

“Jenis nasabahnya mix (tidak hanya nasabah prioritas), tapi hampir semuanya (tercakup di sini). Karena produk ini bisa untuk semuanya, dikarenakan nilai investasinya tidak besar, nilai produknya juga tidak konservatif, dan ini cukup baik untuk nasabah investasi pemula,” katanya.

Produk dalam wealth management mencakup produk-produk investasi, seperti reksa dana. Misalnya perseroan ini bekerja sama dengan PT Danareksa Investment Management (DIM) untuk penjualan produk Reksadana Danareksa Mawar Konsumer 10 kepada para nasabahnya.

“Untuk Danareksa sendiri, kita sudah partnering cukup lama, sejak 2008. Ke depan, kita menargetkan (kerjasama) ini naik ke level berikutnya, karena selama ini kita sudah kerjasama tiga produk (investasi). Selain Danareksa, kita sudah kerjasama dengan tujuh sampai delapam manajer investasi,” tuturnya.

Steffano menambahkan bahwa dengan kondisi perekonomian dunia yang sudah mulai membaik, termasuk Cina dan AS, maka pihaknya yakin apabila dana investasi akan tumbuh sekitar 30% di tahun 2013. Dari dana kelolaan wealth management itu pula, bank ini mengharapkan adanya fee based income yang tumbuh sejalan dengan pertumbuhan dana investasi tersebut.

“Strategi untuk mencapai (pertumbuhan) 30% itu ada tiga, pertama kita akan menyeleksi partner (untuk produk investasi) dengan benar, jadi tidak sembarangan mencarinya. Kita hanya pilih yang betul-betul berkualitas dan bagus performance-nya. Kedua, kita juga terus memperbaiki servis kepada nasabah, yang mana itu membuat beberapa perbedaan (dengan bank lain). Ketiga, tentunya adalah perbaikan dari staf-staf kita. Yakni mereka harus diinput dengan skills lengkap melalui berbagai training. Dengan pengetahuan yang baik, mereka bisa memperkenalkan produk dengan benar kepada nasabah sesuai dengan kebutuhan dan risk level-nya masing-masing,” paparnya.

Lalu untuk produk bancassurance, perseroan ini sudah bekerja sama dengan tujuh sampai delapan perusahaan asuransi sampai saat ini. Tapi Steffano menerangkan bahwa pihaknya belum akan melakukan kerjasama dengan perusahaan baru lagi dalam waktu dekat ini, karena akan fokus kepada yang sudah ada dulu. “Kalau produknya untuk jangka panjang, tentu produk bancassurance lebih tepat, dan kita cukup berimbang dalam komposisi produknya (antara asuransi dan investasi),” imbuhnya.

Sementara untuk pertumbuhan penyaluran kredit atau pinjaman, ucap Steffano, masih di atas rata-rata industri, khususnya di Dana Bantuan Sahabat yang pertumbuhannya bisa mencapai lebih dari 22%. Namun untuk rasio total kredit konsumer terhadap total kredit angkanya masih kecil atau tidak signifikan.

“Karena kalau kita membicarakan basic loan, per loan saja sudah kecil (pinjamannya). Karena kita di bisnis korporasi juga bertumbuh, jadi dua bisnis ini memang merupakan dua segmen berbeda, jadi tidak apple to apple (untuk dibandingkan). Ini juga terjadi hampir di semua bank,” ucapnya.

Menurutnya, performance produk Dana Bantuan Sahabat cukup baik pada tahun lalu, yaitu secara portfolio tumbuh antara 25%-30%. Dana ini digunakan nasabah biasanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai untuk renovasi rumah, kebutuhan anak sekolah (pendidikan), menikah, serta untuk kebutuhan yg tak terduga, menikah, dan sebagainya. Untuk jumlah pinjamannya maksimal bisa mencapai Rp200 juta dan minimal sekitar Rp5 juta, menjadi rata-rata pinjaman per nasabah mencapai Rp20-25 juta. Tenornya yakni 6 bulan sampai 3 tahun.

“Outstanding-nya kita di sini masih di bawah Rp1 triliun. NPL-nya performing cukup baik sesuai dengan industri. Jadi untuk ini kita targetkan tumbuh 30% secara total bank di tahun ini. Mengenai suku bunga, kita cukup kooperatif dan kompetitif (dengan bank-bank lain) sampai saat ini,” pungkasnya. [ria]