FDI Naik Bakal Mengerek IHSG Akhir Tahun 5.000

NERACA

Jakarta – Aktifnya transaksi saham yang dilakukan investor asing, menjadi pemicu melesatnya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa yang berhasil menguat ke level 4.548,243.

Melihat besarnya transaksi asing, pengamat pasar modal dari Remax Capital, Lucky Bayu Purnomi menyakini, indeks BEI hingga akhir tahun bisa tembus level 5.000, “Selain aktifnya investor asing, salah satu faktor pendukungnya juga tingkat ekspor Indonesia yang saat ini tinggi,”katanya di Jakarta, Selasa (12/2).

Terlebih didukung, investasi asing secara langsung alias Foreign Direct Investment (FDI) naik sebesar 26% tahun lalu, “FDI naik 26% atau sekitar US$ 23 miliar pada tahun lalu, pada 2013 diperkirakan FDI juga akan meningkat dan dampaknya akan ke emiten,"tegasnya.

Menurutnya, tingkat ekspor yang tinggi menghasilkan capital inflow yang besar dan hal tersebut mendorong indeks BEI bisa tembus 5.000. Selain itu, dia menambahkan, Indonesia merupakan negara emerging market yang berpotensi memiliki buying power dan hal tersebut alasan yang mendasar bagi emiten mendorong indeks ke level ke 5.000.

Dirinya menilai, potensi itu juga didukung oleh menguatnya Indeks Dow Jones yang diprediksi tembus di angka 15.000 hingga akhir tahun, “Kita expect ke 5.000 tapi harus simak secara objektif. 5.000 longterm expectation. Dow Jones diprediksi 15.000 menguat sampai akhir tahun. Ini mendukung IHSG," jelasnya.

Kata Bayu, beberapa perusahaan asing yang tengah gencar mengakusisi perusahaan domestik baik yang tercatat di BEI maupun tidak salah satunya, akuisisi saham PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) milik PT Multipolar Tbk (MLPL) oleh Temasek Holdings (Private) Limited.

Selain itu, akuisisi PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) oleh perusahaan Jepang Aeon Co Ltd dan unit bisnis perusahaan Thailand, Central Group. Lalu, akuisisi PT Indomobil Sukses Internasional (IMAS) oleh perusahaan Investasi asal Singapura, Gallant Venture Ltd.

Kemudian, akuisisi yang dilakukan Bank terbesar di Asia Tenggara yang berbasis di Singapura, DBS Group Holdings Ltd (DBS) yang mengambil alih 67,37 persen saham PT Bank Danamon Tbk (BDMN). Dan, penjajakan untuk mengakuisisi Rabobank Indonesia oleh tiga investor yakni Commonwealth Bank of Australia, Industrial and Commercial Bank of China dan Qatar National Bank, “Tahun ini adalah tahun merger dan akuisisi. Hal itu dapat menjadi cerminan bahwa investor asing masih berminat berinvestasi di perusahaan Indonesia, khususnya pada sektor perbankan, ritel," ungkapnya.

Secara historis, lanjut Lucky, dalam lima tahun terakhir beberapa perusahaan asing cukup aktif melakukan akuisisi terhadap saham sektoral perbankan dan pertambangan. (lia)

BERITA TERKAIT

Kadin: Industri Tidak Bisa Langsung Tumbuh Meski Harga Gas Turun

NERACA Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai bahwa penurunan harga gas industri yang rencananya akan mulai berlaku…

Beli Rumah di Usia Muda Bukan Lagi Mustahil

Empat tahun sejak di lantik menjadi perwira polisi, Nuril Fajar (25) memberanikan diri mengambil rumah di usia muda. Hal ini…

Dongkrak Aset Jadi Rp 27,9 Triliun - META Operasikan Proyek Tol dan PLTM

NERACA Jakarta - Genjot pertumbuhan pendapatan dan aset, PT Nusantara Infrastructure Tbk (META)  bersiap mengoperasikan dua proyek infrastruktur dan melanjutkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jaga Kualitas Produksi Tambang - BRMS Kirim Dore Bullion dari Poboya Ke Jakarta

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan bisnis di sektor pertambangan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) terus mengoptimalkan nilai tambah dalam…

Pasca Marubeli Miliki Saham - SILO Kembangkan Potensi Bisnis Kesehatan

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan bisnis layanan kesehatan yang dinilai memiliki prospek positif, PT Siloam Internasional Tbk (SILO) terus perluas kerjasama…

Sentimen Virus Corona Bikin IHSG Merana

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (25/2) sore ditutup melemah dipicu meluasnya…