Industri Kimia Jadi Andalan Penciptaan Nilai Tambah

NERACA

Jakarta - Industri kimia merupakan kontributor penting dalam penciptaan nilai tambah untuk industri besar dan sedang. Sektor ini berada pada urutan kedua di antara 23 kelompok industri besar dan sedang, dan memiliki kontribusi di atas 10% terhadap nilai tambah.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan kontribusi industri kimia terhadap kelompok industri besar dan sedang (IBS) sebesar 13,4% dari total nilai tambah IBS. "Sementara untuk nilai tambah di industri non-migas, subsektor industri pupuk, kimia, dan barang dari karet berada pada urutan ketiga terbesar," ujar Faisal di Jakarta, Selasa (12/2).

Menurut dia, posisi ketiga tersebut berada di belakang industri makanan, minuman dan tembakau, serta industri alat angkut, mesin dan peralatannya pada industri pengolahan non-migas. "Subsektor industri pupuk, kimia dan barang dari karet memiliki pola pertumbuhan industri yang hampir sama dengan industri pengolahan non-migas pada umumnya," jelas Faisal.

Sementara untuk pertumbuhan produksi industri kimia, sambungnya, jauh lebih cepat daripada sektor industri pada umumnya. "Selama 2001 sampai 2011, produksi industri kimia tumbuh rata-rata 12,7 persen per tahun, dan IBS tumbuh rata-rata hanya 3,3% per tahun," jelasnya.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Perindustrian, pertumbuhan cabang industri non-migas hingga tahun 2012 yang paling tinggi adalah industri pupuk, kimia, dan barang dari karet sebesar 10,25%.

Adapun untuk industri semen dan barang galian bukan logam mengalami pertumbuhan sebesar 7,85%, industri minuman dan tembakau sebesar 7,74%, industri alat angkut, mesin dan peralatannya senesar 6,94%, industri logam dasar besi dan baja sebesar 6,45%, dan tekstil, barang kulit dan alas kaki sebesar 4,19%.

Dongkrak Pertumbuhan

Menjelang akhir 2012 lalu, Kementerian Perindustrian berhasil mendongkrak pertumbuhan industri lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Bahkan pertumbuhan industri bisa meningkat 6,4% dibanding tahun lalu. Sejauh ini, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 6,2%. Prestasi tersebut terbantu dengan naiknya industri sektor pupuk kimia dan karet yang memberikan kontribusi 8,91%.

Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengaku gembira karena pertumbuhan industri didorong sektor non-minyak dan gas. "Pertumbuhan industri non-migas kembali lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional, " ujarnya di kantor Kemenperin, belum lama ini.

Mantan ketua kadin ini mengaku tidak khawatir dengan kontraksi yang dialami sektor migas sebesar 5% tahun ini merembet ke industri non-migas. Tren peningkatan sektor non-migas bakal berlanjut pada tahun depan.

Industri pupuk dan karet ini sebagai sub-sektor industri pengolahan yang menyasar konsumsi domestik. Dengan daya beli masyarakat yang diramalkan masih tetap tinggi, maka produksi industri pengolahan bakal terus terserap pasar domestik. "Meskipun ketidakpastian ekonomi dunia masih terus berlangsung, tapi industri pengolahan masih tumbuh, antara lain karena didukung tingginya tingkat konsumsi masyarakat,"ujar Hidayat.

Tingginya investasi ke sektor industri membuat kinerja pihaknya terbantu sepanjang 2012. Tidak hanya dari penanaman modal asing yang mencapai US$ 8,6 miliar per September, investasi dari dalam negeri meningkat 40% mencapai Rp 38,1 triliun.

Hidayat juga memaparkan kalau pemerintah merasa optimistis bahwa pertumbuhan industri manufaktur pada 2013 akan tetap berkembang meskipun beberapa ancaman baik eksternal seperti krisis yang masih melanda Eropa dan faktor internal seperti kenaikan upah buruh, kenaikan TDL dan kenaikan harga gas.

Hidayat menjelaskan bahwa pihaknya memproyeksikan industri manufaktur pada 2013 bisa mencapai 7,1%. Hidayat mengatakan rasa optimistis ini dikarenakan meningkatnya investasi di sektor otomotif, industri pupuk, industri kimia dan semen. "Meskipun kondisi perekonomian global seperti di Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa masih diwarnai ketidakpastian, namun pemerintah optimistis kinerja sektor industri manufaktur pada tahun depan akan tumbuh 7,1% akibat meningkatnya investasi di sektor otomotif, industri pupuk, industri kimia dan semen," ungkap Hidayat.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun - Dukung Industri 4.0

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…

Revolusi Industri 4.0 Untuk Bidik 10 Besar Dunia

NERACA Jakarta – Pemerintah telah menetapkan target Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia tahun 2030.…

Operator Seluler Tambah Kapasitas Jaringan - Mudik dan Lebaran 2018

Dalam menghadapi lonjakan akses di musim mudik dan lebaran 2018 membuat masing-masing operator telekomunikasi mulai menyiapkan bahkan sudah melakukan optimalisasi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…