Industri Pengolahan Daging Masih Awam Mekanisme Impor

NERACA

Jakarta - Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementerian Perindustrian Faiz Achmad mengungkapkan, jatah untuk daging impor sebetulnya boleh direalisasikan kebutuhan sendiri oleh industri. Akan tetapi sebagian besar pelaku industri pengolahan daging tidak mengetahui bagaimana cara mengimpor daging untuk industri.

Oleh karena itu banyak pelaku industri yang masih tergantung pada bantuan importir. Alasannya, biaya mendatangkan daging lebih murah melalui importir. Tidak heran jika ketergantungan industri pada importir tidak bisa dilepaskan.

"Networking importir di Australia dan New Zealand lebih bagus. Itu sebabnya (industri) tetap membutuhkan importir," kata Faiz di sela sela acara rapat kerja kementerian perindustrian 2013, tema di hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (12/2).

Faktor lain yang membuat importir menguasai penyaluran daging sapi impor adalah kemudahan pengusaha pengolahan makanan berutang terlebih dulu. Faiz menyatakan perusahaan seperti Indoguna Utama yang diduga terlibat kasus kuota daging sapi impor, merupakan salah satu perusahaan importasi yang sering memberi utangan daging impor, sehingga dicari pelaku industri.

"Ada beberapa industri pengolahan daging kalau dia butuh daging ya ke Indoguna. Karena dia bisa ngutang. Bisa sebulan dua bulan. Mudah (Indoguna) memberikan pinjaman. Dan ini sudah berjalan bertahun-tahun," ungkapnya.

Kekuasaan importir secara tidak langsung semakin kuat karena kondisi pasokan daging khusus industri yang minim. Daging sapi yang dibutuhkan industri memang berbeda dari yang dikonsumsi masyarakat.

Produsen sosis atau kaldu mencari daging jenis CL 65 atau 85, alias tetelan dengan kadar lemak tertentu. Padahal, dari seekor sapi daging CL hanya bisa menghasilkan 20-30 kilogram tetelan. "Padahal kalau kebutuhan industri nasional sekarang 15.000 ton tetelan, mereka samai mencari sendiri ke Gowa di Sulawesi Selatan dan Tegal, tapi tidak ketemu," kata Faiz.

Tahun ini, industri pengolahan daging dijatah 19.800 ton daging impor jenis CL. Faiz menyatakan impor daging sulit dihindarkan selama pasokan dalam negeri tidak bisa mencukupi. "Bagaimanapun juga Kemenperin harus menjamin ketersediaan bahan baku mereka. Mereka tidak bisa begitu saja mengganti tetelan dengan daging biasa," tuturnya.

Meski demikian, Faiz menjamin alokasi daging untuk industri transparan karena melibatkan surveyor independen, yaitu Sucoffindo. "Pertimbangannya kan dari verifikasi yang dilakukan sucofindo. Kapasitas masing-masing pabrik ini kita liat. Kinerja realisasi mereka kita liat. Dari situ bersama-sama dilihat pantes dia dapat sekian," paparnya.

Tambahan Kuota

Sebelumnya Kementerian Pertanian menyatakan telah menyetujui penambahan kuota impor 7 ribu ton tahun ini (2012) untuk daging sapi industri melalui impor karena kebutuhan daging untuk industri seperti ritel dan restoran kurang.

"Kita (pemerintah) telah menyetujui menambah 7 ribu ton daging untuk kebutuhan industri dan bukan daging segar konsumsi masyarakat," kata Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan.

Sementara menurut Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro mengatakan jenis daging sapi yang dibutuhkan melalui impor adalah CL85 dan CL65. Produksi daging sapi industri per bulan saat ini menurutnya masih minim dibanding kebutuhannya, yaitu 1500 ton per bulan kebutuhan, sedasngkan produksi baru 1000 ton per bulan.

"Jenis daging CL85 dan CL65 itu tidak masih belum diproduksi domestik karena belum ada jenis daging yang kandungan dagingnya 85% dan lemak 15% atau dagingnya 65% dan lemak 35% oleh karenanya kita mengimpor," kata Syukur.

Selain itu Syukur menginformasikan bahwa kebutuhan daging segar non industri surplus 20ribu ton periode Juli sampai Agustus 2012.

Sedangkan total kebutuhan dan produksi daging sapi periode Juli-Agustus 2012 berdasarkan catatan Kementan surplus 16.583 ton dengan kebutuhan 83.754 ton dan produksi 92.145 ton. "Jadi neraca donmestik daging sapi Juli-Agustus 2012 surplus 16.583 ton," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Stok Daging di Bulog Sumsel 75 Ton

Stok Daging di Bulog Sumsel 75 Ton NERACA Palembang - Stok daging di Perum Bulog Divisi Regional Sumatera Selatan dan…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Masalah Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Yang Dominan Pasangan Menikah Bercerai

Masalah Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Yang Dominan Pasangan Menikah Bercerai NERACA Jakarta - Mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…

Penanaman Modal - Industri Korea Selatan Kuatkan Komitmen Investasi US$ 446 Juta

NERACA Jakarta – Sejumlah industri manufaktur Korea Selatan dari berbagai sektor, menyatakan minatnya untuk segera menanamkan modalnya di Indonesia. Komitmen…