Obligasi NISP Kelebihan Permintaan Rp1 Triliun

NERACA

Jakarta-Sambutan positif dari investor pada penawaran obligasi berkelanjutan 1 tahap pertama 2013 senilai Rp3 triliun yang ditawarkan Bank OCBC NISP dinilai menjadi pendorong obligasi tersebut mengalami kelebihan permintaan (Oversubscribed). "Permintaan yang kuat dari para investor sehingga mengalami kelebihan permintaan Rp1 triliun menunjukkan kepercayaan kepada Bank OCBC NISP." jelas Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja di Jakarta, Senin (11/2).

Menurutnya, dana hasil penawaran umum obligasi tersebut akan digunakan untuk mendukung kinerja perseroan. Salah satunya untuk mendukung pertumbuhan usaha dalam bentuk penyaluran kredit yang merupakan salah satu core business perseroan, di mana pada tahun ini pereroan mematok pertumbuhan kredit sebesar 20-30%.

Sementara untuk penyalurannya, perseroan berusaha memahami kebutuhan di setiap segmen, mengingat selain usaha kecil dan menengah, ada juga segmen mikro yang memang porsinya belum besar. Namun, secara sektor, perseroan dinilai lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor manufaktur atau industri, perdagangan dan jasa.

Dijelaskan Parwati, obligasi yang diterbitkan perseroan merupakan obligasi berkelanjutan 1 tahap 1 tahun 2013. Obligasi ini diterbitkan dalam tiga seri, yaitu seri A, dengan tenor 370 hari dengan indikasi bunga antara 6,00-6,75% per tahun. Seri B dengan tenor 2 tahun dan bunga 6,25-7,25% per tahun.

Adapun seri C memiliki tenor 3 tahun dengan indikasi bunga 6,75-7,60% per tahun. Pembayaran bunga akan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Sementara, masa penawaran umum obligasi ini akan berlangsung pada 13 – 14 Februari 2013, diikuti dengan penjatahan pada 15 Februari 2013. Obligasi akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 20 Februari 2013. Untuk penjamin emisi, perseroan menunjuk PT Indo Premier Securities, PT Mandiri Sekuritas, PT NISP Sekuritas, dan PT OCBC Sekuritas Indonesia.

Head of Investment Banking PT Mandiri Sekuritas, Dadang Suryanto pernah mengatakan, penerbitan obligasi OCBC mendapat peringkat AAA. Karena itu, meski tanpa adanya jaminan secara khusus dalam penerbitan obligasi tersebut, dan digunakan untuk penyaluran kredit pihaknya optimistis penerbitan obligasi, khususnya sektor perbankan akan terserap pasar dengan baik.

Target investor untuk penerbitan obligasi ini antara lain fund manager, perbankan, dan asuransi. Selain kondisi pasar yang cukup baik, prospek pasar obligasi ke depan akan didukung oleh fundamental perekonomian Indonesia yang cukup bagus, terlebih didukung dengan tingkat suku bunga yang atraktif. (lia)

BERITA TERKAIT

Manulife Sebut Pasar Obligasi Masih Positif

  NERACA   Jakarta - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memandang beberapa faktor positif dari domestik masih akan terus…

MCAS Bukukan Penjualan Rp 1,1 Triliun

PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) sepanjang sebelas bulan pertama tahun ini mengantongi angka penjualan sebesar Rp1,1 triliun atau meningkat…

Penyaluran Dana Desa Capai Rp59,2 Triliun

      NERACA   Bogor - Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Boediarso Teguh Widodo mengatakan realisasi dana desa…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasok Permintaan PLN - DWGL Kejar Produksi 8 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal pada perdagangan Rabu (13/12), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL)…

Samindo Anggarkan Capex US$ 13,8 Juta

NERACA Jakrta - Tahun depan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) perusahaan penyedia jasa pertambangan batu mengalokasikan capex sebesar US$ 13,8…

Permintaan Ban TBR Meningkat - GJTL Genjot Produksi Jadi 3.500 Ban Perhari

NERACA Jakarta - Mengandalkan pasar ekspor dalam menggenjot pertumbuhan penjualan, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terus meningkatkan kapasitas produksi dan…