Defisit Perdagangan Bakal Kian Melebar

Dampak Lonjakan Impor

Selasa, 12/02/2013

NERACA

Jakarta – Kalangan peneliti meyakini defisit pada neraca perdagangan luar negeri Indonesia bakal terus berlanjut dan bahkan semakin melebar. Defisit ini disebabkan karena ketergantungan impor masih sangat tinggi di tengah kinerja ekspor yang melempem akibat terpapar krisis global.

"Defisit neraca perdagangan akan terus berlanjut pada 2013 selama kebergantungan impor kian meningkat. Defisit neraca perdagangan akan terus berlanjut karena impor migas tidak bisa langsung dikurangi, sementara ekspor nonmigas ke negara mitra juga turun," kata Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di Jakarta, Senin (11/2).

Enny mejelaskan, kecuali faktor sektor migas, persetujuan investasi asing tahun lalu berdampak pada melonjaknya impor bahan baku, modal, dan penolong. Artinya, bersamaan dengan meningkatnya investasi, impor barang konsumsi juga naik. Hal ini, lanjut dia, akan berefek pada neraca perdagangan menjadi berat. Kondisi itu sudah terlihat dengan melemahnya daya saing. “Daya saing kita semakin melemah di tengah krisis global, untuk memacu ekspor tidak bisa terlalu optimis," jelas Enny.

Di samping itu, sambung dia, kenaikan tarif listrik dan kenaikan upah pekerja pada tahun ini akan semakin membuat industri tidak kompetitif. Jadi, menurut dia, jika konsumsi barang impor naik lalu dibarengi dengan kenaikan tarif listrik dan kenaikan upah, maka daya saing akan menurun. “Dengan begitu, potensi membanjirnya barang impor dengan harga murah akan makin besar, dan defisit neraca perdagangan akan semakin lebar," ujarnya.

Bila defisit makin melebar, kata Enny, nilai tukar rupiah menjadi tidak stabil. "Periode berikutnya kalau nilai tukar tidak stabil pasti tinggi. Jadi percuma juga pertumbuhan riilnya tidak setinggi realisasinya. Kalau kita tumbuh 6,5% tetapi inflasinya di atas 5% yah artinya pertumbuhan itu termakan oleh inflasi. Dari sisi makro pertumbuhan itu tidak berkualitas," terangnya.

Itulah sebabnya, defisit migas harus diselesaikan dengan memberikan alternatif penggunaan energi dalam negeri selain bahan bakar minyak (BBM). "Defisit sektor migas tak bisa semata-mata diselesaikan dengan pembatasan BBM bersubsisi. Energi, kata dia, merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi," kata dia.

Menurut Enny, kebutuhan energi masyarakat bisa dipasok dari energi alternatif seperti gas, batubara, angin, surya, dan sebagainya. Kalau itu dilakukan pasti permintaan BBM akan berkurang, kalau berkurang berarti kebutuhan impor kita berkurang," kata dia.

Impor BBM

Seperti diberitakan sebelumnya, neraca perdagangan Indonesia pada 2012 tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1,63. Defisit antara lain dikarenakan peningkatan impor minyak dan gas. Pada 2012, impor migas tercatat US$ 42,56 miliar atau meningkat dibandingkan 2011 yang US$ 40,7 miliar.

Karena itu, pemerintah berpendapat perlu ada penyikapan yang tegas atas harga BBM sebagai upaya mengurangi impor minyak. Soalnya, meningkatnya defisit transaksi berjalan dewasa ini sangat ditentukan oleh tingginya impor minyak tersebut. "Impor migas menyebabkan defisit sebesar US$ 4,8 miliar, angka yang sebelumnya tidak pernah kejadian. Ini mungkin karena konsumsinya tinggi dan juga harga minyak dunia yang tinggi di awal tahun," kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, belum lama ini.

Menurut dia, tingginya impor migas tersebut membuat surplus di neraca perdagangan non-migas seakan tak berarti, padahal surplus tersebut mencapai US$ 3,5 miliar selama 11 bulan pertama 2012. "Saya kira, kita sebetulnya bisa berharap neraca non-migas surplus terus pada 2013 ini. Tapi kalau konsumsi (migas) begini terus, harganya pun begini terus, tanpa ada penyikapan mengenai harga (BBM), ini bisa membuahkan defisit di neraca migas 2013," imbuh Gita.

Gita masih menaruh harapan adanya koreksi harga minyak di tahun 2013 sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan. Namun ia sendiri masih belum dapat memperkirakan seberapa besar kemungkinan tersebut. "Saya tidak dalam posisi memberikan prediksi kemana arah (harga minyak internasional)," jelas Gita.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan RI selama November 2012 terjadi defisit sebesar US$ 478,4 juta. Hal itu terjadi karena impor November 2012 sebesar US$ 16,92 miliar. Sementara ekspor RI dalam periode yang sama hanya US$ 16,44 miliar . Untuk impor selama Januari hingga November 2012 ini mengalami kenaikan 9,92 % (year over year) menjadi US$ 16,92 miliar dari sebelumnya US$ 15,39 miliar.

Namun bila dibanding dengan Oktober 2012, impor RI cenderung turun 1,67%. Impor ini dikontribusikan dari impor migas US$ 4,07 miliar dan impor non migas sebesar US$ 3,94 miliar. Sedangkan ekspor selama Januari hingga November 2012 sebesar US$ 16,44 miliar , turun 4,6 % (yoy) dibanding sebelumnya US$ 17,4 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012 masih naik 7,3 %. Ekspor tersebut dikontribusikan dari migas US$ 2,7 miliar , naik 2,23 % dan ekspor non migas naik 8,36 % menjadi US$ 13,73 miliar.